Tenaga Kerja dan Kesempatan Kerja

 Tenaga Kerja dan Kesempatan Kerja

 Tenaga Kerja dan Kesempatan Kerja

Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja. Menurut UU No. 13 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Secara garis besar penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja. Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun – 64 tahun. Menurut pengertian ini, setiap orang yang mampu bekerja disebut sebagai tenaga kerja. Ada banyak pendapat mengenai usia dari para tenaga kerja ini, ada yang menyebutkan di atas 17 tahun ada pula yang menyebutkan di atas 20 tahun, bahkan ada yang menyebutkan di atas 7 tahun karena anak-anak jalanan sudah termasuk tenaga kerja.

Kesempatan kerja (Tenaga Kerja) Untuk meningkatkan jumlah angkatan kerja yang terlibat dalam dunia kerja maka perlu dilakukan perluasan kesempatan kerja. Dengan meluasnya kesempatan kerja berarti semakin banyak tenaga kerja yang dapat bekerja dan mendapatkan penghasilan. Dan hal ini berdampak pula pada semakin banyaknya masyarakat yang mengalami peningkatan kesejahteraan hidupnya. Menurut Soeroto (1986)  bahwa kesempatan kerja dan jumlah serta kualitas orang yang digunakan dalam pekerjaan mempunyai fungsi yang menentukan dalam pembangunan. Ini bukan hanya karena tenaga kerja tersebut merupakan pelaksana pembangunan, akan tetapi juga karena mereka bekerja atau pekerjaan merupakan sumber utama bagi masyarakat.

Perluasan akan kesempatan kerja selain akan memberikan pendapatan sekaligus akan mengurangi tingkat kemiskinan dan mengurangi kesenjangan atas lapisan masyarakat. Sebaliknya jumlah angkatan kerja yang tinggi bila tidak diikuti dengan perluasan kesempatan kerja, otomatis akan menjadi beban bagi pembangunan. Sehingga yang terjadi yaitu peningkatan angka pengangguran, yang juga akan berpengaruh terhadap pendapatan per kapita suatu masyarakat. Sunindhia (1988:138) menyatakan perluasan kesempatan kerja hanya dapat terlaksana dengan jalan meluaskan dasar kegiatan ekonomi, tetapi perluasan dasar ekonomi ini harus disertai dengan usaha meningkatkan produktivitas, baik di bidang kegiatan yang baru maupun di bidang tradisional. Hal ini disebabkan karena salah satu faktor yang pada umumnya menghambat produksi di negara-negara berkembang adalah produktivitas yang rendah disertai dengan kurangnya penggunaan secara penuh terhadap angkatan kerja.

Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa perluasan kesempatan kerja hanya dapat dilakukan dengan jalan memperluas kegiatan ekonomi yang disertai dengan produktivitas tenaga kerja yang tinggi, sehingga pemerataan kesempatan kerja bagi penduduk dapat terlaksana. Hal ini didukung oleh Batubara (1988:59) bahwa pemerataan kesempatan kerja mempunyai posisi yang sangat strategis, terutama untuk pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan. Dengan memperoleh kesempatan kerja, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya melalui pendapatan yang diterima dari pekerjaan tersebut. Ini berarti melibatkan tenaga kerja dalam kegiatan ekonomi dan mempertinggi pertumbuhan ekonomi. Karena apabila pendapatan bertambah, maka orang cenderung membelanjakan kebutuhannya lebih meningkat dari pendapatan sebelumnya. Dengan demikian dapat memperluas pasar barang dan jasa. Tenaga kerja mempunyai fungsi sebagai sumber energy yang diperlukan di dalam proses produksi dan kekuatan yang dapat menimbulkan pasar, seperti yang dikemukakan oleh Soeroto (1986) bahwa tenaga kerja mempunyai dua fungsi, sebagai sumber daya untuk menjalankan proses produksi dan distribusi barang dan jasa, kedua sebagai searan untuk menimbulkan dan mengembangkan pasar.

            Dari berbagai penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa untuk memberikan kesempatan kerja bagi angkatan kerja yang ada, adalah melalui perluasan kesempatan kerja dengan cara menambah kegiatan ekonomi yang disertai dengan usaha meningkatkan produktivitas pada seluruh sektor perekonomian yang ada.

2.3.3 Tingkat Upah

Tingkat Upah adalah wage rate yaitu jumlah upah yang dibayarkan berdasarkan satuan ukuran kerja, misalnya satuan waktu, seperti harian, mingguan, atau satuan hasil, seperti pengapuran dinding per m2, penggalian tanah per m3, dan menjahit baju per potong. Menurut Nakamura, dkk (1979), ada dua kelompok faktor yang mempengaruhi upah yang diterima pekerja, yaitu: 1) Karakteristik individu. 2) Karakteristik dari pasar tenaga kerja. Penelitian pada tingkat mikro, umumnya berfokus pada faktor karakteristik individu, sedangkan pada tingkat makro lebih memperhatikan hubungan karakteristik pasar kerja  terhadap tingkat upah.

sumber :

Zombie Smashball 1.6 Apk + Mod (Unlimited Money)