Syarat-Syarat Seorang Pentajrih Dan Penta’dil

Syarat-Syarat Seorang Pentajrih Dan Penta’dil

Syarat-Syarat Seorang Pentajrih Dan Penta’dil

Syarat Ulama al-Jarh wa al-Ta’dilSeorang ulama al-jarh wa al-ta’dil harus memenuhi kriteria-kriteria yang menjadikannya objektif dalam upaya menguak karakteristik para periwayat. Syarat-syaratnya ialah :

  1. Berilmu, bertakwa, wara’, dan jujur Jika seoarang ulama tidak memiliki sifat-sifat ini, maka bagaimana ia dapat menghukumi orang lain dengan al-jarh wa al-ta’dil yang senantiasa membutuhkan keadilannya.
  1. Mengetahui sebab-sebab untuk men-ta’dil-kan dan men-jarh-kanAl Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan dalam Syarhal-Nukhbah, bahwa tazkiyah(pembersihan terhadap diri orang lain) dapat diterima bila dilakukan oleh orang yang mengetahui sebab-sebabnya, bukan dari orang yang tidak mengetahuinya, agar ia tidak memberikan tazkiyah hanya dengan apa yang kelihatan olehnya dengan sepintas tanpa mendalami dan memeriksanya.
  1. Mengetahui penggunaan kalimat-kalimat bahasa Arab Dengan pengetahuan terhadap penggunaan kalimat-kalimat bahasa Arab.[11]

Ada juga yang mengatakan Syarat-syarat bagi penta’dil (mu’addil) dan pentarjih (jarih)

  1. Berilmu pengetahuan

 

  1. Takwa
  2. Wara’ (orang yang selalu menjauhi perbuatan maksiat, syubhat, doea kecil, dan makruhat)
  3. Jujur
  4. Menjauhi fanatik glongan
  5. Mengetahui sebab-sebab menta’dil dan dan mentajrih. (Mufassar)
  1. Tingkatan Jarh Wa Ta’dil

Tingkatan Ta’dil

Pertama, kata-kata yang digunakan untuk tingkatan keadilan dan kedhabitan paling tinggi, misalnya:

اوثق الناس                      : Orang yang paling Siqah

أثبت الناس حفظا وعدلة    : Orang yang paling mantap hafalan dan keadilannya

إليه المنتهى في الثبت       : Orang yang paling baik keteguhan hati dan lidahnya

ثقة فوق ثقة                    : Orang Siqah melebihi orang yang Siqah

Kedua, kata-kata yang digunakan untuk menunjukkan tingginya keadilan dan kedhabitan seorang rawi, kata-kata di bawah ini menduduki tingkatan nomor dua:

 

sumber :