Sistem Pendidikan Surau

Sistem Pendidikan Surau

Surau merupakan istilah yang banyak digunakan di asia tenggara seperti sumatera selatan , semenanjung mlaysia petani. Namun yang paling banyak dipergunakan di pergunakan di minangkabau. Surau berasal dari India yang merupakan tempat yang digunakan sebagai pusat pembelajaran dan pendidikan Hindu Budha.
Dalam lembaga pendidikan surau tidak mengeal birokdiasi formal,sebagaimana yang di jumpai pada lembaga pendidikan modern.Sistem pendidikan di surau tidak mengenal jenjang atau tingkatan kelas, muridnya diberikan kebebasan utuk memilih belajar pada kelompok mana yang ia kehendaki

Sistem Pendidikan Pesantren

Asal usul Pesantren
Pertama pesantren adalah institusi pendidikan islam, yang memang berasal dari tradisi islam.Pesantran lahir dari pola kehidupan tasawuf yang kemudian berkembang diwilayah islam, seperti timur tengah dan afrika utara yang dikenal dengan sebutan zawiyat. Kedua pesantren merupkan kelanjutan dari tradisi Hindu Budha yang sudah mengalami proses islamisasi. Mereka melihat adanya hubungan antara perkataan pesantren dengan kata shastri dari bahasa sanskerta.
Pengaruh Kebijakan Kolonial Belanda Terhadap Pendidikan Islam
Setidaknya ada dua kebijakan belands yaitu: politik etis dan Ordonansi( peraturan pemerintah) Guru/ Sekolah Liar.

a). Politis etis
Secara konsep politik etis sangat baik karena adanya keberpihankan kepada kaum pribumi.Namun dalam pelaksanaannya kolonial belanda bekerjasama dengan kaum liberal( pemegang saham), tetap mengeksplotir daerah jajahannya untuk kepentingan ekonominya. Dalam menjalankan politik etis belanda menerapkan trilogy program, yaitu meliputi: edukasi( pendidikan), irigasi( pengairan) dan transmigrasi( pemindahan penduduk dari daerah padat ke daerah perkebunan jawa). Di samping trilogi program tersebut, penjajah belanda menerapkan prinsip assosiasi,asimilasi dan unifikasi
b). Ordonasi Guru/ Sekolah Liar
Sehubungan dengan berdirinya madarasah dan sekolah Agama yang diselenggarakan oleh kalangan Islam pembaru, Adanya kekhawatiran pemerintah tersebut cukup beralasan. Tetapi setelah melihat perkembangan lebih lanjut, seperti peningkatan jumlah madrasah dan sekolah-sekolah swasta sebagai istitusi pendidikan diluar sistem persekolahan pemerintah, kalangan pemerintah semakin hati-hati terhadap sikap netral mereka selama ini. Adanya latar belakang tersebut pula barangkali, yang mendorong pemerintah Belanda merubah sikapnya dalam menghadapi kemungkinan buruk yang bakal timbul dari penigkatan jumlah madrasah dan sekolah-sekolah agama. Sebagai tindakan pencegahan, langkah itu dilakukan melalui pengawasan terhadap sekolah-sekolah liar. Sejak adanya penurunan sikap tersebut, dalam rangka pengawasan dikeluarkan ordinansi tanggal 28 Maret 1923 Lembaran negara no 136 dan 260. Bahkan dalam orodinansi yang dikeluarkan tahun 1932, dinyatakan bahwa semmua sekolah yang tidak di bangun pemerintah atau tidak memperoleh subsidi dari pemerintah, diharuskan minta izin terlebih dahulu, sebulum sekolah itu didirikan.


Sumber: https://robinschone.com/