Sifat Kimia Kayu

Sifat Kimia Kayu

Sifat kimia (komponen kimia) kayu yang terletak di dalam kayu berperan penting dalam menentukan kegunaan sesuatu jenis kayu. Pengetahuan tentang sifat kimia di dalam kayu akan memberi kemudahan untuk membedakan jenis-jenis kayu.
Sifat-sifat kimia kayu digunakan untuk mengetahui ketahan kayu terhadap serangan organisme perusak kayu, selain itu juga sifat kimia kayu menentukan pengerjaan serta pengolahan kayu sehingga hasil yang diperoleh menjadi lebih baik. Pada umumnya komponen kimia kayu daun lebar dan kayu daun jarum menurut Dumanauw (1990) terdiri dari tiga macam unsur, yaitu:
  • Unsur karbohidrat yang terdiri dari selulosa dan hemiselulosa
  • Unsur non-karbohidrat yang tersusun atas lignin
  • Zat ekstraktif sebagai unsur yang terendap selama proses pertumbuhan kayu.

Penyebaran sifat-sifat kimia kayu tersebut di dalam dinding sel kayu tidak merata. Selulosa dan hemiselulosa biasanya lebih banyak ditemukan dalam dinding sekunder. Adapun lignin banyak terapat dalam dinding primer dan lamela tengah. Zat ekstraktif terdapat di luar dinding sel kayu. Selanjutnya, komposisi unsur-unsur kimia di dalam kayu terbagi menjadi beberapa bagian yakni abu (0,20-0,50%), hidrogen (6%), karbon (50%), nitrogen (0,04-0,10%), dan sisanya adalah oksigen (Dumanauw, 1990).

Sementara itu, di bidang orientasi kayu dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:

  • Bidang tangesial, yaitu bidang yang didapatkan dengan memotong kayu tegak lurus searah serat dan tidak melalui sumbu kayu
  • Bidang radial, yaitu bidang yang di peroleh dengan memotong kayu arah serat melalui sumbu kayu
  • Bidang aksial merupakan bidang yang didapatkan dengan memotong kayu secara tegak lurus terhadap sumbu kayu
Sifat-sifat kimia kayu dipengaruhi oleh faktor tempat tumbuh iklim dan letak nya di dalam batang atau cabang sehingga memiliki berbagai variasi. Sifat-sifat kimia kayu tersebut terdiri dari 5 bagian yaitu abu, lignin, hemiselulosa, selulosa, dan zat ekstraktif (Dumanauw, 1990).
1. Abu
Abu merupakan salah satu sifat kimia kayu dari hasil pembakaran kayu. Bagian-bagian abu sebagai zat organik yang terdapat di dalam kayu meliputi mineral pembentuk abu sebagai sisa dari pembakaran lignin dan selulosa. Kadar zat ini di dalam kayu bervariasi antara 0,2%-1% dari berat kayu (Dumanauw, 1990).
2. Hemiselulosa (Poliosa)
Selain abu, kayu juga masih mengandung sejumlah zat yang lain dari 15%-25%, antara lain hemiselulosa atau juga dikenal dengan poliosa, semacam selulosa berupa persenyawaan molekul-molekul besar yang bersifat karbohidrat. Hemiselulosa pada dasarnya merupakan gabungan antara dua selulosa sehingga susunannya terdiri oleh gula dengan rumus C5H10O5 dan disebut hexosan. Fungsi dari hemiselulosa adalah sebagai bahan dasar pembetukan dinding sel serta sebagai zat cadangan (Dumanauw, 1990).
3. Lignin
Lignin merupakan senyawa kimia yang tidak memilik tekstur dan berbentuk seperti amorf. Dinding selnya tersusun oleh suatu rangka molekul selulosa, yang meliputi lignin. Bagian tersebut merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membuat dinding sel menjadi kuat. Lignin terletak terutama dalam lamela tengah dan dinding primer dan juga dikatakan sebagai penyusun terakhir dinding sel. Kadar lignin dalam kayu gubal lebih tinggi dibandingkan kadar lignin dalam kayu teras (Dumanauw, 1990).
Sumber: https://obatpenggemukbadan.id/xiaomi-redmi-note-5a-hanya-rp14-juta-kompetitif/