Sejarah dan Pandangan Pemikiran Madzhab Abu Hanifah

Sejarah dan Pandangan Pemikiran Madzhab Abu Hanifah

 

Sejarah dan Pandangan Pemikiran Madzhab Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah

adalah pendahulu para imam madzhab, karena ia lahir dan meninggal lebih dahulu dari imam-imam yang lain. Abu Hanifah seorang yang berjiwa besar, cerdas, ikhlas, tegas dalm bersikap dan bisa dikatakan berhasil dalam hidupnya. Pandangan beliau dalam bidang ilmu pengetahuan adalah seorang yang bijak dan tepat dalam memberikan keputusan bagi suatu masalah atau peristiwa yang dihadapi. Ia berbudi luhur dan mendapat tempat yang tinggi baik dalam masyarakat maupun hubungan dengan pemerintah, sehingga beliau menyandang jabatan tertinggi yaitu, Imam Besar (Al Imam Al-‘Adham) atau ketua agung. Hingga seorang utusan yang bernama Abdullah bin Al-Mubaraq (pejabat ketika itu) berkata : “Imam Abu Hanifah adalah akal ilmu pengetahuan”; dan perutusan lain pun berkata ia sebagai pakar dalam ilmu fiqih.
Ketika hidup ia dapat mengikuti bermacam-macam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan baik politik/agama, karena zaman ini terkenal sebagai zaman politik, agama dan ideologi-ideologi atau isme-isme. Bermacam-macam agama dan ideologi telah timbul dari penerjemah buku-buku hingga pertalian Islam dengan falsafah Yunani lebih luas dan begitu juga dengan ideologi persi dan hindu. Pada masa itu suasana masyarakat kacau balau karena saling menindas, perbudakan menjadi kebiasaan antar ras dan suku. Dan akhirnya ada percobaan untuk menyatukan dan timbul

dua cara dalam memahami Al-Qur’an dan Hadis

Pertama : Berpegang kepada ayat atau hadis yang ada tanpa penambahan apapun

Kedua : Menggunakan akal sebagai tambahan dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis yang ada kekeliruan

Selain fiqih beliau sempat belajar ilmu lain seperti tauhid. Banyak guru yang mengajar beliau di antaranya Hamad bin Abu Sulaiman Al-Asya’ari dimana ia banyak sekali memberi pelajaran kepada Abu Hanifah. Murid-muridnya Abu Hanifah juga banyak bahkan sampai ada yang sampai membuat kitab karangan seperti Abu Yusuf Ya’akub Al-Anshori karyanya Al-Kharaj, Al-Athar, dan lainnya. Kemudian A-Hazail, Al-Hasan bin Ziad Al-Lu’lu dengan karangannya Al-Qadhi, Al-Khaisal, An-Nafaqat, dan lain sebagainya. Walaupun Abu Hanifah tidak banyak mengarang sebuah kitab untuk madzhabnya, namun madzhabnya terkenal karena murid-muridnya yang banyak menulis kitab. Madzhab Abu Hanifah sebagai gambaran yang jelas dan nyata tentang persamaan hukum-hukum fiqih dalam Islam dengan pandangan-pandangan masyarakat di semua lapangan kehidupan.

Abu Hanifah mendasarkan madzhabnya dengan dasar pada Al-Qur’an, Hadis, Al-Ijma’, Al-Qiyas, dan Al-Istihsan. Beliau berkata, “Aku memberikan hukum berdasarkan Al-Qur’an apabila tak ada, maka saya gunakan Hadis dan jika tidak ada di keduanya aku dasarkan pada pendapat para sahabat. Aku berpegang kepada pendapat siapa saja dari para sahabat dan aku tinggalkan apa yang tidak kusukai dan tetap berpegang pada satu pendapat saja”. Dapat disimpulkan di bagian kata-kata terakhir di atas bahwa ia menggunakan ijtihad dan pikiran serta menggunakannya untuk membandingkan antar pendapat dan memilih salah satunya.

Sifat Dasar atau Kaidah Abu Hanifah

Berikut beberapa sifat dari dasar atau kaidah Abu Hanifah untuk mengatasi permasalahan, antara lain :
1. Kemudahan dalam beribadah dan pekerjaan sehari-hari.
2. Menjaga hak-hak fakir miskin.
3. Mengakui peradaban hidup manusia.
4. Memelihara kehormatan dan perikemanusiaan.
5. Memberikan kuasa penuh kepada kerajaan atau para pemimpin negara.

Baca Juga: