Sejarah Adanya Hari Perempuan Sedunia

Sejarah Adanya Hari Perempuan Sedunia

Sejarah Adanya Hari Perempuan Sedunia
Sejarah Adanya Hari Perempuan Sedunia

Sobat, banyak yang bilang perempuan adalah simbol keindahan, tapi perempuan juga adalah simbol kekerasan dan pelecehan. Perempuan sering dianggap identik dengan kelemahan, cengeng, manja, dan selalu menjadi nomor dua setelah laki-laki. Namun disaat wanita berani mengambil keputusan, berani berorasi di jalan, dan menunjukan kekuatannya, maka sekuat apapun lelaki tidak akan terlihat lagi kuatnya.

Sejarah Hari Perempuan Sedunia

Bahkan dunia juga langsung membuat hari khusus untuk perempuan, yakni hari perempuan sedunia atau Women’s Day yang jatuh pada 8 Maret. Ini merupakan bentuk rasa hormat kepada seluruh wanita di dunia. Lalu bagaimana sebenarnya Sejarah Hari Perempuan Sedunia ini? berikut ini admin akan mebahas tentang asal-usulnya.

Sejak masa Yunani Kuno, pergolakan dan ketidakadilan terhadap perempuan sudah terjadi. Saat itu,untuk menghentikan peperangan, Lysistrata membuat gerakan perempuan stop berhubungan seksual dengan pasangan mereka. Sementara dalam Revolusi Prancis, perempuan di Paris berunjuk rasa menuju Versailles sambil menyerukan ‘Kemerdekaan, Kesetaraan dan Kebersamaan’ menuntut hak perempuan untuk ikut dalam pemilu.

Ide peringatan Hari Perempuan Sedunia telah berkembang sejak seabad yang lalu

Saat itu dunia industri sedang dalam masa pengembangan dan pergolakan. Masa itu juga mengalami peningkatan laju pertumbuhan penduduk dan banyaknya muncul paham-paham radikal.

Tepatnya pada tahun 1908 terjadi kegelisahan besar dan debat kritis di kalangan perempuan. Kala itu timbul anggapan bahwa terjadi tekanan dan perlakuan yang tidak adil terhadap perempuan. Puncaknya adalah long march sekitar 15 ribu perempuan di New York, Amerika Serikat sebagai bentuk aksi protes. Dalam aksinya perempuan meminta pengurangan jam kerja, upah yang lebih layak, dan hak pilih dalam pemilu.

Setahun berikutnya pada 1909, gerakan perempuan didukung oleh kalangan sosialis Amerika mendeklarasikan bahwa 28 Februari sebagai hari perempuan. Hingga 1913, perempuan Amerika terus merayakan hari perempuan pada 28 Februari.

Perubahan Hari Perempuan dari tanggal 28 Februari menjadi 8 Maret juga memiliki sejarah berliku

Pada 1910, Konferensi Internasional Perempuan Pekerja digelar di Copenhagen, Denmark. Konferensi melibatkan 100 perempuan dari 17 negara, mewakili serikat pekerja, partai sosialis, kelompok pekerja perempuan, termasuk tiga perempuan pertama yang dipilih sebagai anggota Parlemen Finlandia.

Clara Zetkin, pemimpin lembaga perempuan pada Partai Demokrasi Sosialis Jerman mengusulkan agar seluruh negara memperingati hari perempuan pada tanggal yang sama. Tujuannya untuk memperkuat tuntutan mereka.

Pada 1911, mengikuti keputusan konferensi, hari perempuan internasional pertama diperingati di Austria, Denmark, Jerman, dan Swiss pada 19 Maret. Lebih dari satu juta perempuan dan laki-laki menghadiri kampanye memperjuangkan hak perempuan bekerja, memiliki hak pilih, mengikuti pelatihan, memegang jabatan publik, dan mengakhiri diskriminasi. Namun, kurang dari sepekan kemudian, pada 25 Maret, terjadi peristiwa “Segitiga Api” di New York yang merenggut nyawa lebih dari 140 perempuan pekerja.

Sebagian besar mereka orang Italia dan imigran Yahudi. Bencana itu membuat Amerika lebih memperhatikan kondisi pekerja dan undang-undang buruh.

Sejarah berlanjut di Benua Eropa. Kala masa Perang Dunia I, sekitar 1913 dan 1914, hari perempuan sedunia juga menjadi cara memprotes perang alias gerakan perdamaian. Para perempuan berunjuk rasa, baik untuk memprotes perang maupun sebagai aksi solidaritas sesama aktivis perempuan.

Tahun 1917, perempuan Rusia kembali menggelar aksi protes atas kematian lebih dari 2 juta tentara Rusia dalam perang melalui kampanye “Bread and Roses”. Protes itu terjadi pada Ahad, 23 Februari, menurut kalender Julian yang digunakan di Rusia, atau 8 Maret menurut tanggalan Gregorian.

Meski ditentang pemimpin politik negeri itu, mereka tak mundur dan terus memprotes hingga empat hari kemudian, Tsar runtuh. Akhirnya, pemerintah provinsi memberi hak pilih pada perempuan di sana. Sejak itulah, hari perempuan diperingati pada 8 Maret.

Sejak tahun 2000, hari perempuan internasional menjadi hari libur resmi di Afganistan, Armenia, Azerbaijan, Belarus, Burkina Faso, Kamboja, Kuba, Georgia, dan Guinea-Bissau. Negara lainnya, Eritrea, Kazakstan, Kirgistan, Laos, Moldova, Mongolia, Montenegro, Rusia, Tajikistan, Turkmenistan, Uganda, Ukraine, Uzbekistan, Vietnam dan Zambia juga memberikan tanggal merah di Hari Perempuan Sedunia. Namun untuk Cina, Madagaskar, serta Nepal, hari libur hanya berlaku bagi perempuan.

Nah Sobat sudah tau kan kisah dibalik Hari Perempuan Sedunia. Terimakasih sudah membaca artikel ini. Semoga semakin menambah wawasan dan informasi.

Baca juga artikel: