RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI

RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI

RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI

Rukun jual beli

      Jual beli dianggap sah apabila sudah terpenuhi rukun dan syaratnya. Maksudnya adalah, apabila seseorang akan melakukan Jual beli harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Unsur-unsur yang menyebabkan sahnya jual beli terpenuhi.

      Adapun rukun yang dimaksud dapat dilihat dari pendapat ulama di bawah ini adalah:

  1. Adanya penjual dan pembeli
  2. Adanya barang yang diperjualbelikan
  3. Sighat (kalimat ijab qabul)

Jadi sebagaiman yang telah disebutkan di atas bahwa jika suatu pekerjaan tidak terpenuhi rukun-rukunnya maka pekerjaan itu akan batal karena tidak sesuai dengan syara’ begitu juga dalam hal jual beli harus memenuhi ketiga rukun-rukun tersebut.

  1. Syarat Jual Beli

      Dari ketiga rukun jual beli yantg telah penulis uraikan di atas masing-masing mempunyai persyaratan sebagai berikut:

  1. Penjual dan pembeli

Para ulama sepakat bahwa orang yang melakukan aqad jual beli (penjual dan pembeli) harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut.

1)     Baligh

      Baligh berarti sampai atau jelas, yakni anak-anak yang sudah sampai pada usia tertentu yang menjadi jelas baginya segala urusan atau persoalan yang dihadapi. Pikirannya telah mampu mempertimbangkan atau memperjelas mana yang baik dan mana yang buruk. Jual beli yang dilakukan anak kecil yang belum berakal dan orang gila hukumnya tidak sah. Adapun anak kecil yang mumayyiz, menurut ulama Hanafiah, jika akad yang dilakukan membawa keuntungan bagi dirinya, maka akadnya sah. Jumhur ulama berpendapat bahwa orang yang melakukan akad jual beli harus baligh dan berakal, bila orang yang berakad itu belum baligh, maka jual belinya tidak sah, sekalipun mendapat izin dari walinya.

2)     Tidak pemboros

      Dalam hal ini dinyatakan oleh Allah SWT dalam Firman-Nya dalam surat Al-Isra’ ayat 27.

      Artinya: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”.

      Maksud pada ayat di atas, Allah telah melarang hambanya melakukan suatau pekerjaan dengan tujuan untuk menghambur-hamburkan hartanya, karena perbuatan tersebut merupakan sebuah pemborosan, yang telah dijelaskan pada ayat di atas bagi orang yang melakukannya, merupakan perbuatan syaitan. Maksud pemborosan di sini, suatu pekerjaan yang tidak bermanfaat.

3)     Dengan kehendak sendiri (bukan paksaan)

      Artinya prinsip jual beli adalah suka sama suka antara penjual dan pembeli, bila perinsip ini tidak tercapai jual beli itu tidak sah. Sebagaimana firman Allah Surat Q.S. An-Nisa ayat 29:

      Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan hartasesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu”.

  1. Syarat untuk barang yang diperjualbelikan

1)     Ada barang yang diperjual belikan. Barang yang ada di dalam kekuasaan penjual (milik sendiri). Barang atau benda yang akan diperjualbelikan adalah milik seseorang atau milik sendiri bukan milik orang lain, barang yang sifatnya belum dimiliki oleh seseorang tidak boleh diperjualbelikan.

2)     Barang yang jelas zatnya, ukuran dan sifatnya (dapat diketahui). Hendaklah yang menjual dan membeli mengetahui jenis barang dan mengetahui harganya. Hal ini untuk menghindari kesamaran baik wujud sifat dan kadarnya. Jual beli yang mengandung kesamaran adalah salah satu jual beli yang diharamkan oleh Islam. Boleh menjual barang yang tidak ada di tempat aqad dengan ketentuan dijelaskan sifatnya yang mengakibatkan ciri-ciri dari barang tersebut dapat diketahui, jika ternyata barang tersebut sesuai dengan barang yang disepakati, maka wajib membelinya, tapi jika tidak sesuai dengan yang disifatkan maka dia mempunyai hak memilih untuk dilangsungkan akad atau tidak.

3)     Barang yang dapat diserahkan. Barang atau benda diserahkan pada saat aqad berlangsung atau pada waktu yang telah disepakati bersama ketika transaksi berlangsung.

4)     Suci Bendanya. Diantara benda yang tergolong najis adalah bangkai, darah, daging babi, dan lain-lain. Para ulama sepakat tentang keharamannya dengan berdalil pada firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 173:

      Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi”.

5)     Barang yang bermanfaat menurut syara’. Pengertian barang yang dapat dimanfaatkan yaitu pemanfaatan barang tersebut tidak bertentangan dengan norma-norma Agama.

  1. Shighat atau lafaz ijab qabul

      Ijab adalah perkataan penjual seperti saya jual barang ini harga sekian. Qabul adalah perkataan pembeli, seperti saya beli dengan harga sekian.25 Ijab qabul adalah yang dilakukan oleh orang yang melakukan tindakan aqad, lafal aqad berasal dari bahasa arab “Al-aqdu” yang berarti perikatan atau perjanjian dan pemufakatan “Al-ittifaq” secara bahasa atau etimologi fiqih aqad didefinisikan dengan pertalian ijab (pernyatan melakukan ikatan) dan qabul (pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syari’ah yang berpengaruh pada obyek perikatan, maksudnya adalah seluruh perikatan yang di lakukan oleh kedua belah pihak atau lebih, tidak dianggap sah apabila tidak sejalan dengan kehendak syara’ .

      Jumhur ulama menyatakan bahwa rukun aqad terdiri atas empat macam, yaitu: pernyataan untuk mengikat diri (pernyataan aqad), pihak-pihak yang beraqad, obyek aqad, dan tujuan aqad.

      Adapun syarat-syarat umum suatu aqad adalah sebagai berikut.

1)     Pihak-pihak yang melakukan aqad telah cukup bertindak hukum.

2)     Objek aqad diakui oleh syara’

3)     Aqad itu tidak dilarang syara’

4)     Aqad itu bermanfaat

5)     Pernyataan ijab tetap utuh dan shahih sampai terjadinya qabul

6)     Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majlis, yaitu suatu keadaan yang menggambarkan proses suatu transaksi.

7)     Tujuan aqad jelas diakui syara’ dalam jual beli tujuannya memindahkan hak milik penjual ke pembeli.

8)     Tujuan aqad tidak bertentangan dengan syara’.

Berdasarkan syarat umum di atas, jual beli dianggap sah jika terpenuhi syarat-syarat khusus yang disebut dengan syarat Ijab dan Qabul sebagai berikut.

1)     Orang yang mengucapkan telah balikh dan berakal

2)     Qabul sesuai dengan ijab

3)     Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majlis

Ulama Hanafiah dan Malikiyah mengatakan bahwa antara ijab dan qabul boleh diantarai waktu yang telah disepakati sehingga pihak pembeli sempat berfikir. Namun Ulama  safiiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa antara ijab dan qabul tidak terlalu lama yang dapat menimbulkan dugaan bahwa objek pembicaraan tersebut berubah.

Pada zaman modern, perwujudan ijab dan kabul tidak lagi diucapkan tetapi dilakukan dengan sikap mengambil barang membayar uang dari pembeli, serta menerima uang dan meneyerahkan barang tanpa ucapan apapun. Contohnya jual beli yang berlangsung di pasar swalayan.Dalam fiqih muamalah jual beli semacam ini disebut dengan bai’al-muathah, namun jumhur ulama berpendapat bahwa jual beli seperti ini hukumnya boleh jika hal itu sudah menjadi kebiasaan masyarakat.


Baca Juga :