Perbuatan Manusia Qua Talis

Perbuatan Manusia Qua Talis

Dalam menganalisis sumber-sumber perbuatan insan telah kita temukan bahwa perbuatan manusia akan jadi perbuatan manusia qua talis jika dipengaruhi budi dan kehendak.

Dalam perinsip perbuatan manusia qua talis selalu ada pengaruh kerja budi. Sampai dimanakah kerja budi itu.hal itu telah kita temukan bawa perbuatan harus diketahui lebih dahulu sebagai perbuatan, harus ada pengertian dari perbuatan itu,perbuatan haruslah berada dibawah sinar budi manusia, dibawah budi nurani, hati nurani manusia. Dalam artian bahwa perbuatan manusia disinari, disoroti, diterangi oleh budi manusia sehingga jelas perbuatan manusia ituterjadi oleh manusia. Setelah perbuatan itu diterangi oleh budi manusia, tempaklah bagaimanakah wujud perbuatan itu, andai kata punya warna apakah perbuatan itu merah, hitam, putih atau hijau. Meskipun tidak mempunyai  warna tapi memang karena sinar budi manusia benar tampak jelas bentuknya..

Tiap kemanusiaan adalah satu, perbedaan kulit dan warna, perbedaan bentuk dan rupa tidak mempunyai akibat perbuatan kemanusiaan. Selama manusia disebut manusia, selama masih mempunyai alam  kodrat manusia, selama itu pula manusia  tetap mempunyai hati nurani insani. Oleh karena itu, hati nurani kemanusiaan adalah konsekuensi dari alam kodrat manusia, karena  hati nurani kemanusiaan adalah  sinar dari budi kemanusiaan dalam arti nicellect. Untuk itu, hati nurani adalah suatau keharusan mutlak dari kemanusiaan, suatu keharusan mutlak sebagai akibat dari alam kodrat budi yang bibawa oleh kodrat manusia.

  1. Keputusan Hati Nurani

Proses pemikirannya untuk mencapai suatu keputusan hati nurani  adalah sama seperti yang dalam setiap pemikiran logis deduktif. Pemikiran deduktif menuntut adanya peremis minor atau penerapan prinsip pada suatu kasus tertentu, dan kesimpulan yang pasti muncul dari kedua peremis tersebut. Peremis mayor yang dipakai guna membentuk keputusan hati nurani adalah suatu prinsip moral umum, baik yang nyata sendiri kebenarannya  (tidak perlu penyelidikan lagi) ataupun kesimpulan dari pemikiran terdahulu yang ditarik dari prinsip-prinsip yang nyata sendiri kebenarannya.

Para sarjana abad pertengahan memakai istilah sinderesis untuk mengartikan kebiasaan memakai prinsip-prinsip  moral umum, kebiasaan mempunyai prinsip-prinsip semacam itu yang sudah terbentuk dalam pikiran dan kebiasaan memakai prinsip-prinsip tersebut sebagai dasar perbuatan seseorang. Prinsip sinderensis seperti  “kerjakan yang baik, hindari yang buruk” , “hormati hak orang lain ; dan lain-lain bagi pemikiran moral praktis sama halnya dengan prinsip-prinsip pembatalan, alasan yang mencukupi, kualitas, dan lain-lain bagi pemikiran teoritis.

Premis mayor mungkin suatu prinsip sinderensis, mungkin juga suatu kesimpulan yang berasal dari prinsip sinderesis tetapi dipegang oleh seorang sebagi patokan umum perbuatannya. Peremis minor memasukkan perbuatan khusus yang kini akan dikerjakan kedalam sorotan prinsip umum yang dinyatakan dalam premis mayor.

sumber :

https://radiomarconi.com/