Pendidikan Berbasis Teknologi, Pangkas Jarak dan Waktu

Pendidikan Berbasis Teknologi, Pangkas Jarak dan Waktu

Pendidikan Berbasis Teknologi, Pangkas Jarak dan Waktu
Pendidikan Berbasis Teknologi, Pangkas Jarak dan Waktu

Depok, Kemendikbud — Di era digital sekarang ini teknologi menjadi bagian tidak

terpisahkan dari aktivitas manusia, termasuk proses belajar mengajar. Baik guru maupun siswa diharapkan dapat berinovasi dalam teknologi pembelajaran. Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) atau Organisasi Menteri-Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara melalui SEAMOLEC juga ikut mengembangkan teknologi pembelajaran.

Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) atau Organisasi Menteri-Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara melalui SEAMOLEC bertanggung jawab untuk mengembangkan Pendidikan Terbuka dan Pendidikan Jarak Jauh di Asia Tenggara. SEAMEO-SEAMOLEC ikut menjadi salah satu peserta pameran di Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2018, di Sawangan, Depok, Jawa Barat, pada tanggal 5 s.d. 7 Februari 2018.

Pada pameran ini, stan SEAMEO-SEAMOLEC menampilkan dua programnya, yaitu

“Augmented Reality” dan “Virtual Reality”. “Augmented Reality” ini dapat digunakan sebagai alat peraga digital, yang bisa digunakan guru untuk mengajar di kelas. Dengan mengarahkan alat khusus ke kode batang (barcode), maka tampilan empat dimensi akan muncul di layar. Misalnya makanan, gedung sate, Monumen Nasional (Monas), dan lain sebagainya.

“Ini memang buku biasa. Tapi nanti kalau di-scan (pindai) menggunakan smartphone, dia akan keluar,” jelas anggota Tim IT Konten SEAMOLEC, Puryanto, sembari memperagakan cara penggunaan.

“Virtual Reality” merupakan teknologi yang membuat orang yang menggunakanny

a seolah-olah berada di tempat lain. Mengadopsi permainan virtual, pengguna dapat mengunjungi suatu tempat dengan menggunakan sejenis kacamata khusus. Saat ini sudah ada tiga museum yang dapat dikunjungi secara virtual, yaitu Museum Sumpah Pemuda di Jakarta, Museum Keris, dan Museum Radyo Pustaka di Solo.

“Jadi dari Papua dan dari mana-mana tidak perlu datang langsung ke Solo untuk mengunjungi museum Keris,” ujar anggota Tim IT Konten lainnya, Amiruddin Romadhoni.

SEAMOLEC juga mengadakan pelatihan-pelatihan untuk membuat alat peraga digital. Biasanya guru memberikan topiknya, nanti siswa yang akan membuat peraganya. “Jadi kita latih siswanya,” terang Puryanto. Pada tahun 2017 lalu diadakan pula kompetisi se-Asia Tenggara yang melibatkan pelajar dan mahasiswa usia 15-21 tahun. (Anang Kusuma/Desliana Maulipaksi)

 

Baca Juga :