Pencemaran Teluk dan Problema Obama

Pencemaran Teluk dan Problema Obama

Minggu, 6 Juni 2010 | 04:02 WIB : Pascal S Bin Saju

Presiden Amerika Serikat Barack Obama akhirnya membatalkan kunjungannya ke Indonesia dan Australia pada medio Juni ini. Tumpahan minyak dari sumur di kilang Deepwater Horizon di lepas pantai Louisiana, Teluk Meksiko, AS, telah menyedot perhatian, mengganggu konsentrasi kerja, bahkan kinerjanya.

Tumpahan minyak di Teluk Meksiko kini semakin tidak terkendali dan termasuk bencana lingkungan terburuk dalam sejarah AS. Bencana yang pernah dijuluki ”terburuk” di AS, yakni tumpahan kapal tanker Exxon Valdez di lepas pantai Alaska pada 1989, terlampaui oleh peristiwa di Teluk Meksiko ini.

Kilang minyak Deepwater Horizon berjarak sekitar 80 kilometer dari bibir daratan Negara Bagian Louisiana. Usaha pengilangan itu dimiliki Transocean Ltd, tetapi dioperasikan oleh British Petroleum (BP) Plc. Sumur yang bocor adalah sumur MC252 dengan titik kebocoran terletak di bagian mulut sumur, yakni di kedalaman 1,5 kilometer di bawah permukaan laut.

Sejak terjadi kebocoran pada 20 April, kebakaran dan robohnya anjungan pada 22 April, sampai sejauh ini minyak yang tersembur ke laut lepas mencapai 19,7 juta galon (1 galon hampir 4 liter) hingga lebih dari 43 juta galon. Padahal, pekan lalu, AS merilis, minyak yang tumpah baru berkisar 18,6 juta galon hingga 29,5 juta galon. Tumpahan Exxon Valdez tersebut hanya 11 juta galon.

Dampak tumpahan minyak Teluk Meksiko juga lebih buruk. Pemerintah federal Louisiana telah menutup sepertiga wilayah lautnya yang potensial untuk nelayan, usaha perikanan dan kelautan, serta pariwisata yang tidak hanya berkaitan dengan tur, tetapi juga restoran dan cottage. Area yang tertutup itu menghasilkan 1 miliar pon udang dan kerang.

Minyak juga telah mencemari daratan dan rawa-rawa Louisiana. Lebih dari 200 kilometer pesisirnya tercemar berat. Ratusan burung, biota laut, dan binatang rawa mati, ribuan lainnya sekarat dan terancam. Vegetasi pantai rusak. Persoalan itu melahirkan frustrasi sosial di kalangan warga, nelayan, pengusaha, aktivis, pemerintah, dan operator.

Persoalan yang kian menggelisahkan Obama ialah belum berhasilnya upaya pihak operator kilang minyak, BP Plc, meredam bencana itu. Meski BP sudah mengerahkan lebih dari 2.000 pekerja dan 1.600 kapal pengendali, baik itu skimmer, kapal tunda, maupun tongkang, dengan ribuan pekerja, tumpahan minyak tetap tidak terkendali.

Langkah konvensional

Langkah konvensional yang pernah dicoba untuk mengendalikan tumpahan minyak, seperti menuangkan cairan kimia (dispersant) untuk mengurai gelembungan minyak, juga gagal. Banyak pihak mengkritiknya karena skenario itu tidak ramah lingkungan. Beberapa petugas lapangan BP dirawat akibat cairan itu.

Sejumlah skenario baru yang belum pernah dilakukan BP atau operator lain sebelumnya pun dicoba untuk menekan kebocoran dan laju tumpahan minyak. Misalnya, membuat sebuah kubah raksasa dari beton seberat 100 ton di pantai Louisiana, lalu diangkut, dan menyemprotkan lumpur kental pun gagal.

Terakhir, petugas menyuntikkan lumpur hasil pengeboran bercampur semen melalui pipa untuk menukik ke sumur hingga sedalam 1,6 kilometer dari permukaan laut atau lebih dalam 1,1 kilometer dari titik kebocoran. Skenario ini disebut top kill. Harapan agar sumur bisa ditutup permanen pun gagal lagi akhir pekan lalu.

Sejak awal pekan ini, skenario baru pun dicoba lagi. BP berjanji, hasilnya baru terlihat Agustus 2010. Tiga bulan adalah waktu yang panjang, yang membuat perairan dan daratan di pesisir selatan AS bisa lebih buruk lagi. Obama lebih tidak tenang lagi karena pekan ini laju pencemaran telah menyentuh Mississippi dan Alabama.

Tekanan terhadap Obama pun semakin kencang tidak saja dari aktivis lingkungan dan warga, tetapi terutama lagi dari parlemen atau kongres. Anggota Kongres AS, Ed Markey, tidak percaya BP bisa berhasil meredam petaka Teluk Meksiko. ”Saya tidak percaya BP bisa menuntaskan masalah ini,” katanya.

Berdampak politis

Pekan ini Obama sudah mengambil alih bencana lingkungan di Teluk Meksiko. Namun, biaya operasional tetap ditanggung operator dan bukan negara. Sebagian anggota Kongres AS menilai Obama terlambat bersikap. Obama diminta segera menanggapi frustrasi sosial dan meninjau kembali izin pengeboran lepas pantai AS.

Untuk menunjukkan kesigapannya atas masalah itulah Obama menunda lawatannya ke Asia Pasifik, termasuk Indonesia, pada medio Juni ini. Bagi Obama, bencana tumpahan minyak sangat problematik, yakni ”menyembuhkan” frustrasi sosial, tekanan parlemen dan kongres, krisis energi, serta terganggunya hubungan global.

Frustrasi sosial yang luas di kawasan teluk amat berbahaya bagi investasi baru di sektor energi. Dia terpaksa harus mengumumkan langkah baru untuk menghadapi tumpahan minyak, termasuk melanjutkan moratorium izin pengeboran selama 6 bulan dan menangguhkan pengeboran lepas pantai di Alaska dan Virginia.

Obama juga terpaksa harus menghentikan pengeboran 33 sumur minyak baru di Teluk Meksiko. Di sinilah titik ancaman terhadap kemungkinan terjadinya krisis pasokan minyak dan gas bagi kebutuhan domestik AS. Saham BP di bursa saham London merosot 12-15 persen dan tingkat kepercayaan publik atas BP juga merosot.

Bagaimana dengan Obama? Bobot tekanan publik, termasuk dari kongres, terhadap Obama bisa semakin berat jika dia tidak berhasil menangani bencana tumpahan minyak di Teluk Meksiko. Kegagalan atau keberhasilan Obama menangani masalah itu juga menentukan pamornya, menjadi lebih buruk atau lebih baik di mata warga AS.

 

https://duniabudidaya.co.id/element-td-apk/