Pembatal-Pembatal Puasa

Pembatal-Pembatal Puasa

 

Pembatal-Pembatal Puasa
Pembatal-Pembatal Puasa

1. Makan minum secara sengaja

Sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam:
وَسَلَّمَ عَلَيْهِ اللَّهُ صَلَّى النَّبِيِّ عَنْ عَنْهُ اللَّهُ رَضِيَ هُرَيْرَةَ أَبِي عَنْ
وَسَقَاهُ اللَّهُ أَطْعَمَهُ فَإِنَّمَا صَوْمَهُ فَلْيُتِمَّ وَشَرِبَ فَأَكَلَ نَسِيَ إِذَا قَالَ
Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, “Barangsiapa lupa bahwa ia sedang berpuasa, lalu ia makan dan minum, hendaklah ia meneruskan puasanya, karena sesungguhnya ia telah diberi makan dan minum oleh Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam:
كَفَّارَة وَلاَ عَلَيْهِ قَضَاء فَلاَ نَاسِيًا رَمَضَانَ شَهْرِ فِيْ أَفْطَرَ مَنْ
“Siapa yang berbuka di bulan Ramadhan karena lupa, maka tidak ada kewajiban mengqadha’ dan tidak ada kewajiban kafarat.(HR. Ibnu Hibban , Ad Daraquthni, dan Ibnu Khuzaimah).

Hadist di atas menunjukkan bahwa seseorang yang lupa lalu ia makan, minum saat ia berpuasa maka puasanya tidak batal, berdasarkan ungkapan beliau, “…maka hendaklah ia meneruskan puasanya…” yang berarti ia masih berpuasa, demikianlah pendapat jumhur ulama, Zaid bin Ali, Al-Baqir, Ahmad bin Isa, Imam Yahya dan dua golongan.

2. Hubungan Suami Istri

Sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ketika kami duduk-duduk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datanglah seseorang sambil berkata: “Wahai, Rasulullah, celaka !” Beliau menjawab,”Ada apa denganmu?” Dia berkata,”Aku berhubungan dengan istriku, padahal aku sedang berpuasa.” (Dalam riwayat lain berbunyi : aku berhubungan dengan istriku di bulan Ramadhan). Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Apakah kamu mempunyai budak untuk dimerdekakan?” Dia menjawab,”Tidak!” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata lagi,”Mampukah kamu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Dia menjawab,”Tidak.” Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi : “Mampukah kamu memberi makan enam puluh orang miskin?” Dia menjawab,”Tidak.” Lalu Rasulullah diam sebentar. Dalam keadaan seperti ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdiberi satu ‘irq berisi kurma –Al irq adalah alat takaran- (maka) Beliau berkata: “Mana orang yang bertanya tadi?” Dia menjawab,”Saya orangnya.” Beliau berkata lagi: “Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya!” Kemudian orang tersebut berkata:“Apakah kepada orang yang lebih fakir dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada di dua ujung kota Madinah satu keluarga yang lebih fakir dari keluargaku”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai tampak gigi taringnya, kemudian (Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata: “Berilah makan keluargamu!”. (HR. Bukhari)

Zhahir hadist ini mengisyaratkan bahwa kafarat tersebut dipilih secara berurutan, maka tidak diperbolehkan memilih nomor kedua jika mampu melaksanakan nomor pertama, dan tidak boleh memilih nomor ketiga jika mampu melaksanakan nomor kedua, karena kafarat ini disebutkan berurutan didalam riwayat Ash-Shahihain.
Menurut pendapat Asy-Syafi’I dan didukung oleh Al-Auza’I bahwa hukum di atas adalah hukum yang berkaitan dengan pihak suami, sedangkan pihak istri yang telah dijima’, berdasarkan hadist di atas tidak wajib atasnya kafarat, karena dari peristiwa tersebut hanya wajib satu kafarah yang tidak wajib atas istri.

3. Sengaja Muntah

Sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam:
يَقُولُ كَانَ أَنَّهُ عُمَرَ بْنِ اللَّهِ عَبْدِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ مَالِك عَنْ حَدَّثَنِي و
الْقَضَاءُ عَلَيْهِ فَلَيْسَ الْقَيْءُ ذَرَعَهُ وَمَنْ الْقَضَاءُ فَعَلَيْهِ صَائِمٌ وَهُوَ اسْتَقَاءَ مَنْ
Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari (Nafi’) dari (abdullah bin Umar) berkata: “Barangsiapa muntah dengan sengaja saat sedang berpuasa, maka dia harus mengganti puasanya. Dan barangsiapa tidak sengaja muntah, maka dia tidak wajib menggantinya”.
Hadist ini menunjukkan bahwa muntah tanpa disengaja tidak membatalkan puasa berdasarkan sabda beliau, “… maka dia tidak wajib menggantinya.” Karena ketiadaan qadha’ merupakan isyarat bahwa ibadah tersebut sah. Sedangkan orang yang berusaha untuk muntah maka puasanya batal, dan zhahir hadist ini mengisyaratkan bahwa ia wajib menggantinya/mengqadha’ walaupun tidak berhasil muntah berdasarkan perintah beliau untuk menggantinya. Ibnu Al-Mundzir meriwayatkan adanya ijma’ yang mengatakan bahwa kesengajaan untuk muntah membatalkan puasa.

Baca Juga: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-ayat-kursi-beserta-terjemahan-dan-keutamaannya-lengkap/

4. Keluarnya mani secara sengaja

Melakukan segala sesuatu yang dapat merangsang birahi hingga sampai keluar air mani menyebabkan puasa menjadi batal. Seperti melakukan onani/masturbasi, atau melihat gambar porno baik media cetak maupun film dan internet. Karena itu sebaiknya bagi orang yang berpuasa menghindari semua hal yang merangsang birahi karena dapat membatalkan puasa. Tetapi bila keluar mani dengan sendirinya seperti bermimpi, maka puasanya tidak batal, karena bukan disengaja atau bukan kehendaknya. Sabda RasulullahShallallaahu ‘alaihi wa Sallam:
ثَلَاثَةٍ عَنْ الْقَلَمُ رُفِعَ قَالَ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ اللَّهُ صَلَّى اللَّهِ رَسُولَ أَنَّ عَائِشَةَ عَنْ
يَعْقِلَ حَتَّى الصَّبِيِّ وَعَنْ يَبْرَأَ حَتَّى الْمُبْتَلَى وَعَنْ يَسْتَيْقِظَ حَتَّى النَّائِمِ عَنْ
Dari Aisyah, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “pena diangkat (tidak terkena dosa) dari tiga hal, orang yang tidur hingga ia bangun dari orang gila hingga hilang penyakit gilanya, dan seorang anak kecil hingga ia berakal”.(HR Ahmad) .

5. Mendapat Haidh atau Nifas

Sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam:
وَعَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رضيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رسُولُ الله صلى الله عليه وسلم:
أَلَيْسَ إِذا حَاضَتِ المَرْأَةُ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ، مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abi Said Al-Khudhri Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa RasulullahShallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, Bukankah bila wanita mendapat haidh, dia tidak boleh shalat dan puasa?
Wanita yang sedang berpuasa lalu tiba-tiba mendapat haidh, maka dengan demikian menjadikan puasanya batal. Meski kejadian itu menjelang terbenamnya matahari. Begitu juga wanita yang mendapat darah nifas, maka puasanya batal. Ini adalah merupakan ijma’ para ulama Islam atas masalah wanita yang mendapat haidh atau nifas saat sedang berpuasa.

6. Keluar dari Agama Islam (Murtad)

Seseorang yang sedang berpuasa, lalu keluar dari agama Islam / murtad, maka dengan demikian puasanya menjadi batal. Dan bila hari itu juga dia kembali lagi masuk Islam, puasanya sudah batal. Dia wajib mengqadha puasanya hari itu meski belum sempat makan atau minum. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Dan Sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu Termasuk orang-orang yang merugi. (QS Az-Zumar : 65)