Melalui Kopi, Dua Mahasiswi Malang Bawa Misi Perdamaian di ASEAN

Melalui Kopi, Dua Mahasiswi Malang Bawa Misi Perdamaian di ASEAN

Melalui Kopi, Dua Mahasiswi Malang Bawa Misi Perdamaian di ASEAN

Melalui Kopi, Dua Mahasiswi Malang Bawa Misi Perdamaian di ASEAN
Melalui Kopi, Dua Mahasiswi Malang Bawa Misi Perdamaian di ASEAN

Dua mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Olivia Afina dan Kayla Azzahra,

mengunakan cara yang unik untuk menebarkan misi perdamaian. Kedua mahasiswi program Studi Hubungan Internasional (HI) itu mengunakan kopi.

Terinspirasi oleh film besutan Angga Dwimas Sasongko, Filosofi Kopi, mereka keliling ASEAN untuk menyuarakan misi perdamaian.

Keduanya mendatangi beberapa negara di ASEAN sembari membagikan kopi yang dibungkus sendiri dengan menuliskan pesan singkat pada kemasannya. “Aku dan Kayla bawa kopi Indonesia yang kurang terkenal. Ada pesan yang ingin aku sampaikan tentang keberagaman ASEAN melalui kopi yang aku package itu,” ungkap Olivia, Sabtu (3/2).

Mahasiswa semester delapan ini melanjutkan, menurutnya meminum kopi adalah sebuah tradisi konvensional masyarakat untuk berdiskusi. Secara tidak disadari, kebiasaan ini banyak menghasilkan pemikiran-pemikiran baru.

Menurut salah satu delegasi Indonesia pada ASEAN-ROK Youth Exchange Visit di Kamboja

tersebut, kopi itu juga unik karena memiliki karakter.

Olivia melanjutkan, tulisan pada bungkus kopi yang ia dan Kayla buat, bertujuan untuk menyebarkan pesan perdamaian di ASEAN. Cara ini juga menjadi jalan bagi keduanya mengenalkan Indonesia sebagai negara yang merepresentasikan keanekaragaman ASEAN

Sementara itu, dipilihnya ASEAN bukan tanpa alasan. Selain karena Indonesia adalah bagian dari ASEAN, banyaknya pendapat sumbang tentang ASEAN juga jadi pertimbangan.

“Kami pilih ASEAN karena berangkat dari persprektif orang sekitar tentang ASEAN

yang pesimis, useless, dan nggak punya progress,” jelas Olivia.

Satu tahun menjalankan misinya ke lima negara ASEAN seperti Thailand, Kamboja, Myanmar, Malaysia, dan Singapura bukan tanpa hambatan. Partner Olivia, Kayla mengaku, sempat was-was dalam diri rekannya atas langkah yang tengah ditempuh.

Mereka takut jika nanti nanti orang-orang di negara berbeda itu beranggapan kedua gadis berjilbab itu akan meracuni orang atau melakukan tindakan buruk. “Tapi setelah kami niat dan jalan ternyata hampir semua orang yang mendapat kopi ini merasa senang dan ngasih feedback yang postif,” beber dia.

Selain mengkampanyekan tentang perdamaian melalui diplomasi kopi, Olivia dan Kayla juga membawa isu sosial budaya dalam misinya. Keanekaragaman ASEAN yang luar biasa menjadi bahasan penting pada setiap kunjungannya.

Terus memperluas penyebaran pesan perdamaian, dua dara cantik ini juga mengabadikan perjalanannya dalam project video yang ia beri nama ‘Kuy Project’. “Tujuannya untuk mengenakan ASEAN ke luar ASEAN melalui video,” tambah Olivia.

Mereka berharap, kelak apa yang dilakukannya dapat berbuah manis. Olivia dan Kayla bahkan bercita-cita untuk membentuk sebuah organisasi yang khusus mewadahi para pekerja seni di ASEAN untuk melestarikan budaya negaranya masing-masing.

 

Sumber :

https://balad.org/resensi-adalah/