Indikator Pemantau Kualitas Air

Indikator Pemantau Kualitas Air

Indikator Pemantau Kualitas Air
Indikator Pemantau Kualitas Air

Pemantauan Kualitas Air

Pemantauan kualitas air penting dilakukan, karena akan berhubungan kelayakan dan baku mutu air. Peratuaran Pemerintah No. 20 tahun 1990 mengelompokkan kualitas air menjadi beberapa golongan menurut peruntukannya. Nilai kualitas air dari masing-masing golongan ditunjukkan dalam lampiran 3. Adapun penggolongan air menurut peruntukannya adalah sebagai berikut.

  1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung, tanpa pengolahan terlebih dahulu.
  2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum.
  3. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan
  4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha pertokoan, industri dan pembangkit listrik tenaga air.

 

Tujuan pemantauan kualitas air

Pemantauan kualitas air suatu perairan memiliki tiga tujuan utama sebagai berikut (manson, 1993);

  1. Enviromental surveillance, yakni tujuan untuk mendeteksi dan mengukur pengaruh yang ditimbulkan oleh suatu pencemar terhadap kualitas lingkungan dan mengetahui perbaikan kualitas lingkungan setelah pencemar tersebut dihilangkan.
  2. Establishing water-quality criteria, yakni tujuan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara perubahan variable-variable ekologi perairan dengan parameter fisika dan kimia, untuk mendapatkan baku mutu kualitas air.
  3. Appraisal of resources, yakni tujuan untuk mengetahui gambaran kualitas air pada suatu tempat secara umum.

Pada hakekatnya, pemantauan kualitas air pada perairan umum memiliki tujuan diantaranya:

  1. Mengetahui nilai kualitas air dalam bentuk parameter fisika, kimia dan biologi.
  2. Membandingkan nilai kualitas air tersebut dengan baku mutu sesuai dengan peruntukannya.
  3. Menilai kelayakan suatu sumber daya air untuk kepentingan tertentu.

Pencemaran Air

Permasalahan utama yang mengancam kehidupan adalah tercemarnya air. Pembuangan bahan kimia, limbah maupun pencemar lainnya ke dalam air akan mempengaruhi kehidupan di dalam ekosistem perairan.

Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau,sungai,lautandan air tanahakibat aktivitas manusia. Danau, sungai, lautan dan air tanah adalah bagian penting dalam siklus kehidupan manusia dan merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Selain mengalirkan air juga mengalirkan sedimen dan polutan. Berbagai macam fungsinya sangat membantu kehidupan manusia. Pemanfaatan terbesar danau, sungai, lautan dan air tanah adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya berpotensi sebagai objek wisata.

Pencemaran air merupakan masalah global utama yang membutuhkan evaluasi dan revisi kebijakan sumber daya air pada semua tingkat (dari tingkat internasional hingga sumber air pribadi dan sumur). Telah dikatakan bahwa polusi air adalah penyebab terkemuka di dunia untuk kematian dan penyakit, dan tercatat atas kematian lebih dari 14.000 orang setiap harinya. Diperkirakan 700 juta orang India tidak memiliki akses ke toilet, dan 1.000 anak-anak India meninggal karena penyakit diare setiap hari. Sekitar 90% dari kota-kota Cina menderita polusi air hingga tingkatan tertentu, dan hampir 500 juta orang tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman. Ditambah lagi selain polusi air merupakan masalah akut di negara berkembang, negara-negara industri/maju masih berjuang dengan masalah polusi juga. Dalam laporan nasional yang paling baru pada kualitas air di Amerika Serikat, 45 persen dari mil sungai dinilai, 47 persen dari danau hektar dinilai, dan 32 persen dari teluk dinilai dan muara mil persegi diklasifikasikan sebagai tercemar.

 

Aspek Biologi dalam Pencemaran Air

Menurut Tresna; (2009) penurunan dalam keanekaragaman spesies dapat juga dianggap sebagai tanda ada pencemaran. Spesies yang ada dalam kepadatan yang tinggi dinamakan Spesies Indeks atau organisme indikator populasi. Sugkiatu pencemar dalam suatu ekosistem mungkin cukup banyak, sehingga akan meracuni semua organisme yang ada disana. Biasanya suatu pencemar cukup banyak untuk membunuh spesies tertentu, tetapi tidak membahayakan spesies lainnya. Apabila air tercemar, ada kemungkinan pergeseran-pergeseran dan jumlah spesies yang banyak dengan ukuran yang sedang populasinya kepada spesies yang sedikit tetapi berpopulasi tinggi.

Spesies indeks yang dapat digunakan sebagai organisme indikator biologi untuk pencemaran termasuk didalamnya fauna dasar, bakteri, ganggang, zooplankton dan ikan tertentu. Indeks spesies ini bergantung pada dua hal, yakni sifat pencemaran dan tahap eutrofikasi air tertentu.

 

Keragaman populasi dalam suatu ekosistem perairan

Menunjukan eksistensi perairan tersebut. Danau sebagai salah satu ekosistem air, merupakan terminal air sementara, karena volume air dapat berkurang disaat-saat tertentu. Pengaruh populasi ini brgantung pada jumlah air yang ada dan luasan danau.

Ganggang dapat dijadikan indikator pencemaran. Banyak ganggang yang tahan hidup dalam air yang tercemar. Spesies ganggang tertentu tumbuh subur sehingga menghabiskan banyak makanan air eutrofik. Proporsi pertumbuhan berbagai ganggang dapat dijadikan indikator pencemaran pada lingkungan perairan tersebut.

Untuk memantau pencemaran air (sungai) digunakan kombinasi parameter fisika, kimia dan biologi. Tapi sering hanya digunakan parameter fisika seperti temperatur, warna, bau, rasa dan kekeruhan air. Atau pun parameter kimia seperti partikel terlarut (DO), kebutuhan oksigen biokimia (BOD), partikel tersuspensi (SS), Amonia (NH3).

Parameter biologi masih jarang digunakan sebagai parameter penentu pencemaran. Padahal pengukuran menggunakan parameter fisika dan kimia hanya memberikan gambaran kualitas lingkungan perairan sesaat dan cenderung memberikan hasil dengan interprestasi dalam kisaran luas (Verheyen dalam Tresna, 2009).

Menurut Soeparmo (1985) dampak pencemaran air dapat mempengaruhi perubahan struktur dan fungsi ekosistem sungai, baik hewan maupun tumbuhan.

Setiap spesies mempunyai batas antara toleransi terhadap suatu faktor yang ada di lingkungan teori toleransi Shelford (ODUM dalam Tresna, 2009).

Perbedaan batas toleransi antara dua jenis populasi  terhadap faktor-faktor lingkungan mempengaruhi kemampuan berkompetisi, jika sebagai akibat suatu pencemaran limbah industri terhadap suatu lingkungan adalah berupa penurunan atau berkurangnya kadar oksigen terlarut dalam air, maka spesies yang mempunyai toleransi terhadap kondisi tersebut akan meningkat populasinya kaena spesies kompetisinya berkurang (Soeparmo, 1985).

Menurut Hawkes (1979), banyaknya bahan pencemaran dalam perairan akan mengurangi spesies yang ada dan pada umumnya akan meningkatkan populasi jenis yang tahan terhadap kondisi perairan tersebut.

Indikator biologi digunakan untuk menilai secara makro perubahan keseimbangan ekologi, khususnya ekosistem akibat pengaruh limbah. Contohnya pada suatu kawasan pertanian (persawahan), penggunaan pestisida dan insektisida akan menurunkan populasi hewan yang termasuk golongan inskta serangga baik di darat dan di air. Kondisi ini akan menghambat siklus rantai makanan, dimana si pemakan serangga akan menurun jumlahnya. Ketika rantai makanan terhambat maka keseimbangan akan bergeser.

Menurut Verheyen dalam Tresna (2009), spesies yang dapat bertahan hidup pada lingkungan terpopulasi, akan menderita stress fisiologi yang dapat digunakan sebagai indikator biologi.

Pendapat ini juga dapat dibuktikan dengan mengamati perbedaan warna kulit pada ikan lele ketika dipelihara pada media pemeliharaan yang berbeda dan dengan kondisi kualitas air yang berbeda. Yang pertama ikan lele dipelihara pada media dengan kondisi kualitas air yang optimal dan pergantian air yang cukup. Pada kondisi ini ikan lele akan menampilkan warna kulit yang cerah. Kondisi yang kedua adalah ketika ikan lele dipelihara pada kondisi lingkungan yang terbatas dengan tanpa ada pergantian air. Pada kondisi ini ikan lele akan merespon dengan menampilkan warna kulit yang lebih gelap.

Dibanding dengan menggunakan parameter fisika dan kimia, indikator biologi dapat memantau secara kotinyu. Hal ini karena komunitas biota perairan (flora/fauna) menghabiskan seluruh hidupnya di lingkungan tersebut, sehingga bila terjadi pencemaran akan bersifat akumulasi atau penimbunan.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/contoh-teks-editorial-jenis-dan-isi-serta-unsur-kebahasaan/