Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pasar Tenaga Kerja

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pasar Tenaga Kerja

  1. Tingkat Upah

Merupakan biaya kurva diperhitungkan untuk mencari titik optimal kuantitas TK yang akan dipergunakan. Makin tinggi tingkat upah,makin sedikit tenaga kerja yang diminta dan begitupula sebaliknya.

  1. Teknologi

Kemampuan menghasilkan tergantung teknologi yang dipakai. Makin efektif teknologi,makin besar artinya bagi tenaga kerja dalam mengaktualisasikan keterampilan dan kemampuannya.

  1. Kualitas Tenaga Kerja

Latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja yang merupakan indeks kualitas tenaga kerja mempengaruhi letak atau bentuk NPM. Begitu pula keadaan gizi mereka.

  1. Fasilitas Modal

Dalam realisasinya, produk dihasilkan atas sumbangan modal dan tenaga kerja yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

  1. Permasalahan dalam Pasar Tenaga Kerja
  • Diskriminasi berdasar usia

Indonesia adalah satu dari beberapa negara yang perusahaan-perusahaannya mayoritas melakukan diskriminasi usia dalam penyaringan tenaga kerja. Hampir di semua perusahaan, batasan usia dibawah 30 atau lebih muda dicantumkan sebagai salah satu syarat pelamar. Hal ini terutama terlihat di bidang-bidang pekerjaan yang membutuhkan ‘highly educated’ (sarjana ke atas). Sistem ini banyak memiliki kelemahan, juga mencerminkan betapa ‘lame’nya pasar tenaga kerja dengan keahlian di Indonesia. Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang atau Eropa, adalah ilegal dan melanggar hukum jika perusahaan membatasi usia. Di Amerika lebih ketat lagi. Perusahaan tersebut akan dibawa ke pengadilan dengan alasan SARA dan hukumannya tentu saja tidak ringan. Sebaliknya di Indonesia. Ini tentu saja mencerminkan beberapa hal. Pertama, kemungkinan bahwa lowongan kerja di Indonesia sangat rendah, sehingga salah satu penyaringnya adalah batasan umur. Kemungkinan alasan lain adalah bahwa pekerjaan di Indonesia tidak memerlukan skill yg. berdasarkan pengalaman tinggi. Alasan lain adalah, tenaga muda dapat dipekerjakan lebih murah. Alasan lain, banyak perusahaan menginginkan karyawannya di ‘brainwash’, jadi tenaga muda jauh lebih mudah untuk dicuci-otaknya sehingga mudah menyerap ‘kultur’ perusahaan.

  • Diskriminasi berdasar gender

Hal ini masih terjadi pada seluruh aspek kehidupan, di seluruh dunia. Ini adalah fakta meskipun ada kemajuan yang cukup pesat dalam kesetaraan gender dewasa ini. Sifat dan tingkat diskriminasi sangat bervariasi di berbagai negara atau wilayah. Tidak ada satu wilayah pun di negara dunia ketiga di mana perempuan telah menikmati kesetaraan dalam hak-hak hukum, sosial dan ekonomi. Kesenjangan gender dalam kesempatan dan kendali atas sumber daya, ekonomi, kekuasaan, dan partisipasi politik terjadi di mana-mana. Perempuan dan anak perempuan menanggung beban paling berat akibat ketidaksetaraan yang terjadi, namun pada dasarnya ketidaksetaraan itu merugikan semua orang. Oleh sebab itu, kesetaraan gender merupakan persoalan pokok pembangunan-suatu tujuan pembangunan yang memiliki nilai tersendiri. Kesetaraan gender akan memperkuat kemampuan negara untuk berkembang, mengurangi kemiskinan, dan memerintah secara efektif. Dengan demikian mempromosikan kesetaraan gender adalah bagian utama dari strategi pembangunan dalam rangka untuk memberdayakan masyarakat baik perempuan stsupun laki-laki-untuk mengentaskan diri dari kemiskinan dan meningkatkan taraf hidup mereka. Pembangunan ekonomi membuka banyak jalan untuk meningkatkan kesetaraan gender dalam jangka panjang. Banyak fakta di seluruh dunia yang dapat ditampilkan untuk mendukung pernyataan ini. Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi saja belumlah memadai. Di sini dibutuhkan juga institusi yang memberikan persamaan hak dan kesempatan bagi perempuan dan laki-laki, serta dibutuhkan juga langkah- langkah kebijakan untuk menangani ketidaksetaraan yang masih mengakar.

 

Pos-pos Terbaru