Dasar Hukum

Dasar Hukum

Dasar Hukum

Dalam masyarakat  islam, ada yang memandang bahwa hukum islam itu adalah Al-Quran dan Sunnah serta bagian yang lain hanyalah merupakan sumber hukum. Dalam literatur ilmu usul fiqih istilah yang lazim digunakan untuk menjelaskan sumber-sumber hukum islam disebut dengan syar’i.[3]

Menurut Abdul Wahab Khallaf ada 10 dalil yang diberi judul dalil syar’i yaitu:

  1. Al-Quran
  2. Al- Sunnah
  3. Al-Ijma’ (konsensus)
  4. Al-Qiyas (analogi)
  5. Al-Istihsan (penilaian baik, pilihan)
  6. Al-Maslahat Al-Mursalah (kemaslahatan/ kepentingan umum)
  7. Al-‘urf (adat istiadat, kebiasaan)
  8. Al-Istishab (mengikuti aturan yang berlaku sebelum ada ketentuan baru)
  9. Syar’u man qablana (hukum Allah yang telah diturunkan kepada Nabi sebelumnya, selama belum ada hukum baru bagi umat Nabi Muahmmad)
  10. Mazhab Al-Shahabi (pendapat sahabat Nabi).

Dalil tersebut hanya 4 yang dianggap sebagai kesepakatan diantara mujtahidin/fuqaha yaitu Al-Quran, Al-Sunnah, Al-Ijma’, dan Al-Qiyas. Sedangkan yang lainnya tidak disepakati oleh ulama pada umumnya.[4]

Berbagai kebijakan yang ditempuh oleh islam dalam upaya menyelamatkan manusia baik perseorangan maupun masyarakat dari kerusakan dan menyingkirkan hal-hal yang menimbulkan kejahatan. Islam berusaha mengamankan masyarakat dengan berbagai ketentuan, baik berdasarkan Al-Qur’an, Hadits Nabi, maupun berbagai ketentuan dari ulil amri atau lembaga legislatif yang mempunyai wewenang menetapkan hukuman bagi kasus-kasus ta’zir. Semua itu pada hakikatnya dalam upaya menyelamatkan umat manusia dari ancaman kejahatan. Dasar-dasar penjatuhan hukuman tersebut diantaranya adalah :

ߊ¼ãr#y‰»tƒ $¯RÎ) y7»oYù=yèy_ Zpxÿ‹Î=yz ’Îû ÇÚö‘F{$# Läl÷n$$sù tû÷üt/ Ä¨$¨Z9$# Èd,ptø:$$Î/ Ÿwur ÆìÎ7®Ks? 3“uqygø9$# y7¯=ÅÒãŠsù `tã È@‹Î6y™ «!$# 4 ¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbq=ÅÒtƒ `tã È@‹Î6y™ «!$# öNßgs9 Ò>#x‹tã 7‰ƒÏ‰x© $yJÎ/ (#qÝ¡nS tPöqtƒ É>$|¡Ïtø:$# ÇËÏÈ

Artinya :

“Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Qs. Shaad ayat 26)

Dalam masyarakat  islam, ada yang memandang bahwa hukum islam itu adalah Al-Quran dan Sunnah serta bagian yang lain hanyalah merupakan sumber hukum. Dalam literatur ilmu usul fiqih istilah yang lazim digunakan untuk menjelaskan sumber-sumber hukum islam disebut dengan syar’i.[3]

Menurut Abdul Wahab Khallaf ada 10 dalil yang diberi judul dalil syar’i yaitu:

  1. Al-Quran
  2. Al- Sunnah
  3. Al-Ijma’ (konsensus)
  4. Al-Qiyas (analogi)
  5. Al-Istihsan (penilaian baik, pilihan)
  6. Al-Maslahat Al-Mursalah (kemaslahatan/ kepentingan umum)
  7. Al-‘urf (adat istiadat, kebiasaan)
  8. Al-Istishab (mengikuti aturan yang berlaku sebelum ada ketentuan baru)
  9. Syar’u man qablana (hukum Allah yang telah diturunkan kepada Nabi sebelumnya, selama belum ada hukum baru bagi umat Nabi Muahmmad)
  10. Mazhab Al-Shahabi (pendapat sahabat Nabi).

Dalil tersebut hanya 4 yang dianggap sebagai kesepakatan diantara mujtahidin/fuqaha yaitu Al-Quran, Al-Sunnah, Al-Ijma’, dan Al-Qiyas. Sedangkan yang lainnya tidak disepakati oleh ulama pada umumnya.[4]

Berbagai kebijakan yang ditempuh oleh islam dalam upaya menyelamatkan manusia baik perseorangan maupun masyarakat dari kerusakan dan menyingkirkan hal-hal yang menimbulkan kejahatan. Islam berusaha mengamankan masyarakat dengan berbagai ketentuan, baik berdasarkan Al-Qur’an, Hadits Nabi, maupun berbagai ketentuan dari ulil amri atau lembaga legislatif yang mempunyai wewenang menetapkan hukuman bagi kasus-kasus ta’zir. Semua itu pada hakikatnya dalam upaya menyelamatkan umat manusia dari ancaman kejahatan. Dasar-dasar penjatuhan hukuman tersebut diantaranya adalah :

ߊ¼ãr#y‰»tƒ $¯RÎ) y7»oYù=yèy_ Zpxÿ‹Î=yz ’Îû ÇÚö‘F{$# Läl÷n$$sù tû÷üt/ Ä¨$¨Z9$# Èd,ptø:$$Î/ Ÿwur ÆìÎ7®Ks? 3“uqygø9$# y7¯=ÅÒãŠsù `tã È@‹Î6y™ «!$# 4 ¨bÎ) tûïÏ%©!$# tbq=ÅÒtƒ `tã È@‹Î6y™ «!$# öNßgs9 Ò>#x‹tã 7‰ƒÏ‰x© $yJÎ/ (#qÝ¡nS tPöqtƒ É>$|¡Ïtø:$# ÇËÏÈ

Artinya :

“Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (Qs. Shaad ayat 26)

baca juga