Do’a Qunut Sholat Subuh atau Witir

Do’a Qunut Sholat Subuh atau Witir

Do’a Qunut Sholat Subuh atau Witir

Do’a Qunut Sholat Subuh atau Witir
Do’a Qunut Sholat Subuh atau Witir

Do’a Qunut Sholat Subuh/Witir

Perlu diketahui bahwa masih banyak saudara kita sesama muslim masih belum tahu doa qunut utamanya dilkalangan para bawah umur dan cukup umur kita, dan juga sebagian orang tua. Penyebab dari tiruana itu dikarenakan kurangnya perhatian untuk mempelajari ilmu agama, padahal Nabi selalu menyuruh kita untuk selalu menimbah ilmu terutama ilmu yang berafiliasi ukhrawi. Seperti hal nya dengan do’a qunut, do’a ini dilaksanakan semenjak zaman Rasulullah hingga kepada para sahabat dekat-teman dekatnya, Tabi’I, tabi’I tabi’in dan para ulama hingga sekarang.

Sebelum kita melangkah ke do’a qunut tersebut, maka perlu kami tegaskan terlebih lampau wacana makna dari qunut itu sendiri, dan tujuan dilakukannya qunut.

Dalam mazhab Imam Syafi’I dijelaskan bahwa membaca do’a qunut yakni sunnat Muakkad, doa qunut yakni suatu doa untuk bermohon kepada Allah supaya mendapat hidayah dari Allah, terhidar dari segala murka bahaya, baik ancaman pada diri sendiri, keluarga, maupun saudara-saudara kita sesama muslim.

Do’a Qunut Untuk Sendiri

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قََضَيْتَ، فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَوَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Baca Juga: Ayat Kursi

Doa Qunut Untuk Berjamaah

اَللّهُمَّ اهْدِناَ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِناَ فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّناَ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِنَا فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَبَارِكْ لِنَا فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنَا شَرَّمَا قََضَيْتَ، فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَوَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Allah hummah dinii fiiman hadait. ( Kata dinii diganti dinaa jikalau jadi imam)
Wa’aa finii fiiman ‘aafait. . ( Kata dinii diganti dinaa jikalau jadi imam)
Watawallanii fiiman tawal-laiit. . ( Kata Watawallanii diganti Watawallanaa jikalau jadi imam)
Wabaariklii fiimaa a’thait. . ( Kata Wabaariklii diganti Wabaariklanaa jikalau jadi imam)
Waqinii syarramaa qadhait. . ( Kata waqinii diganti waqinaa jikalau jadi imam)
Fainnaka taqdhii walaa yuqdha ‘alaik.
Wainnahu laayadzilu man walait.
Walaa ya’izzu man ‘aadait.
Tabaa rakta rabbanaa wata’aalait.
Falakalhamdu ‘alaa maaqadhait.
Astaghfiruka wa’atuubu ilaik.
Wasallallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi. Wa’alaa aalihi washahbihi Wasallam.

Terjemahan Do’a Qunut

Ya Allah tunjukkanlah akan daku sebagaiman mereka yang sudah Engkau tunjukkan
Dan diberilah kesihatan kepadaku sebagaimana mereka yang Engkau sudah diberikan kesihatan
Dan peliharalah daku sebagaimana orang yang sudah Engkau peliharakan
Dan diberilah keberkatan bagiku pada apa-apa yang sudah Engkau kurniakan
Dan selamatkan saya dari ancaman kejahatan yang Engkau sudah tentukan
Maka bergotong-royong Engkaulah yang menghukum dan bukan kena hukum
Maka bergotong-royong tidak hina orang yang Engkau pimpin
Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya
Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau
Maha bagi Engkau segala kebanggaan di atas yang Engkau hukumkan
Ku memohon ampun dari Engkau dan saya bertaubat kepada Engkau
(Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat dekatnya.

Penjelasan Alam Barzah dan Mahsyar

Penjelasan Alam Barzah dan Mahsyar

Penjelasan Alam Barzah dan Mahsyar

Penjelasan Alam Barzah dan Mahsyar
Penjelasan Alam Barzah dan Mahsyar

Alam Barzah

Barzah artinya sesuatu yang membatasi antara dua barang atau tempat. Adapun hubungannya dengan hari akhirat, barzah ialah batas pemisah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Kehidupan alam barzah ialah kehidupan antara hidup didunia dan hidup diakhirat. Kehidupan di alam barzah menyerupai terminal daerah penantian. Di alam barzah tiruana ruh yang sudah meninggal berkumpul untuk persiapan memasui kehidupan akhirat, ditempat penantian tersebut berlaku kenikmatan dan siksaan yang sering kita dengar dengan istilah nikmat kubur dan siksa kubur.

Ditempat penantian tersebut, orang-orang yang selama hidupnya di dunia banyak mengerjakan amal sholeh yang bertaqwa kepada Allah akan menerima perlakuan yang sangat senang dari malaikat. Sebaliknya orang-orang kafir, orang-orang yang hidupnya di dunnia banyak melaksanakan kejahatan dan kemaksiatan akan menerima perlakuan yang bernafsu dan siksaan dari malaikat.

Rasulullah SAW bersabda

yang artinya sebagai diberikut : “Adapun hamba yang mukmin, apabila sudah putus dari dunia untuk menhadiri akhirat, maka akan turun malaikt dari langit berwajah putih bagaikan matahari, membawa kafan dari kafan surga, dan wangian, pengawet kerusakan, kemudian mereka akan duduk dan hadir malaikat maut menhadirinya. Malaikat duduk dikepala seraya berkata, “Wahai ruh yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya, maka ruh itu keluar bagaikan mengalirnya air dari daerah minum. Adapun orang kafir, ketika mereka akan meninggal maka hadirlah malaikat yang berwujud hitam, seraya berkata,” Hai jiwa yang jahat keluarlah engkau ke arah marah Allah, kemudian dicabutlah ruhnya dengan cara yang kaasar.

Berkaitan dengan nikmat dan siksa kubur, Rasulllah bersabda
“Jika seorang jenazah dikuburannya dan ditinggalkan oleh kawan-kawannya, maka ia mendengar bunyi sandal mereka, maka dikala itu ia dikunjungi oleh dua malaikat yang kemudian mendudukannya dan bertanya ,”Bagaimana pendapatmu lampau wacana orang ini, yakni Muhammad ?. Adapun orang mukmin akan menjawaban “Aku bersaksi bahwa ia ialah hamba dan Rasul Allah”.Sebagai imbalannya, malaikat itu berkata, “Lihatlah tempatmu di neraka sana, sudah diganti oleh Allah dengan daerah duduk dari sorga, kemudian ia melihat kedudukannya, kemudian dikubur ia merasa lapang. Adapun orang munafik atau kafir, ketika ditanya “Bagaimana pendapatmu lampau orang ini?”Maka ia menjawaban saya tidak tahu dan tidak pernah membaca naamanya, kemudian dipukul palu dari besi sehingga ia menjerit kesakitan, yang suaranya terdengar oleh makhluk sekitarnya kecuali insan dan jin”.

Alam Mahsyar

Mahsyar artinya daerah berkumpul. Pada hari selesai zaman kelak tiruana insan akan dibangkitkan kembali dari kuburnya. Sesudah itu dikumpulkan disuatu daerah untuk menjalani investigasi atau perhitungan amal yang sudah dilakukan selama hidup di dunia.

firman Allah bersabda yang artinya : “Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka tiruananya kemudian Allah berfirman kepada malaikat : “Apakah mereka ini lampau menyembah engkau?” (S. Saba :40)
Di padang mahsyar tiruana orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Di sini tidak ada hidup tolong-menolong. Yang ada spesialuntuklah pertanggungjawabanan terhadap diri sendiri. Apa yang pernah dibuatnya di dunia ialah menjadi tanggung jawabannya. Pada hari selesai zaman seseorang, baik itu keluarga, saudara, kenalan baik, tiruananya tidak ada yang sanggup menolong.

Firman Allah bersabda dalam surah Al-Mumtahanah ayat 3 yang artinya :
“Karib kerabat dan belum dewasa sekali-sekali tidak bermanfaa bagimu pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara engkau..”

Pada waktu itu orang-orang yang tidak diberiman atau kafir dikumpulkan dalam keadaaan buta. Firman Alaah dalam surah Al Israa ayat 97 yang artinya sebagai diberikut : “Dan barang siapa yang ditunjuki Allah, dialah yang menerima petunjuk dan barangsiapa yang beliau sesatkan maka sekali-kali engkau tidak akan menerima penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan kami akan mengumpulkan mereka pada hari selesai zaman (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka ialah nereka jahannam. Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, kami tambah bagi mereka nyalanya.”

Baca Juga:

Penjelasan Mengenai Alam Hisab dan Mirzan

Penjelasan Mengenai Alam Hisab dan Mirzan

Penjelasan Mengenai Alam Hisab dan Mirzan

Penjelasan Mengenai Alam Hisab dan Mirzan
Penjelasan Mengenai Alam Hisab dan Mirzan

Alam Hisab

Hisab artinya perhitungan, tiruana amal perbuatan insan selama di dunia akan diperhitungkan. Semua perbuatan insan selama di dunia akan diperhitungkan. Semua perbuatan insan di catat dalam buku (laporan). Semua orang sanggup mengetahui isi buku laporan itu, walaupun orang tersebut tidak sanggup membaca. Laporan itu didiberikan kepada masing-masing orang dalam posisi yang tidak sama. Ada yang mendapatkan dari sebelah kanan dan ada yang mendapatkan dari sebelah kiri. Ada yang mendapatkan dengan wajah yang gembira, dan ada pula yang mendapatkan dengan wajah penuh ketakutan.

Firman Allah SWT

Firman Allah bersabda dalam surah Al-Insyiqaq : 7-13 yang artinya :
“Adapun orang yang didiberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka beliau akan diperiksa dengan investigasi yang gampang, dan beliau akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama diberiman) dengan gembira. Adapun orang yang didiberikan kitabnya dari belakang, maka beliau akan berteriak : “Celakalah aku.” Dan beliau akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya beliau lampau (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).

Suasana pada waktu itu amat mencekam dan menakutkan. Orang tidak mungkin lagi sanggup berdusta atau membela diri. tiruana anggota tubuh dan tiruana amal nampak hidup dan berbicara mempersembahkan kesaksian. Dan hasil perhitungan itulah ditentukan jawaban dari amal perbuatan manusia. Orang-orang yang selama hidupnya di dunia melaksanakan amal shaleh akan menerima imbalan yang sangat senang di surga. Sebaliknya, orang-orang yang berbuat kejahatan dan kemaksiatan, yang tidak diberiman akan menerima jawaban berupa azab di neraka.

Baca Juga: Rukun Iman

Alam Mizan

Mizan artinya timbangan, Amal perbuatan insan diperhitungkan dengan timbangan atau neraka yang berupa keadilan. Timbangan keadilan Allah mempunyai ketepatan yang tidak mungkin meleset sedikit pun. Semua amal perbuatan insan dari yang terkecil hingga yang terbesar ditimbang dengan timbangan tersebut. Hasil dari pertimbangan itu akan menetukan apakh orang akan hidup berbahagia atau sengsara.

Firman Allah SWT

Firman Allah bersabda dalam surah Al-Anbiya : 47) yang artinya :
“Kami akanmemasang timbangan yang sempurna pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan bila (malam itu) spesialuntuk seberat biji sawi pun niscaya kami menhadirkan (pahala)nya. Dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.
Di dalam surah Al-Mu’minun ayat 102-104 diterangkan : “Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang sanggup keberuntungan. Dan barang siapa yang enteng timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka infinit didalam neraka Jahannam. Muka mereka dibakar api neraka dan mereka didalam neraka itu dalam keadaan cacat”.

Penjelasan Mengenai Surga dan Neraka

Penjelasan Mengenai Surga dan Neraka

Penjelasan Mengenai Surga dan Neraka

Penjelasan Mengenai Surga dan Neraka
Penjelasan Mengenai Surga dan Neraka

Surga

Surga ialah daerah bagi orang-orang yang lapang dada diberibadah, diberiman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Surga ialah suatu daerah diakhirat yang meliputi penuh dengan kesenangan dan kegembiraan. Kesenangan dan kegembiraan di nirwana tidak sanggup dibandingkan dengan kesenangan dan kegembiraan yang terdapat di dunia.. Indahnya panaroma di pepegununganan dan kesejukan udaranya tidak sanggup disamakan dengan indahnya alam di surga. Jika keindahan yang berada di dunia bersifat sementara, maka keindahan dan kesenangan di alam abadi bersifat abadi.

Firman Allah SWT

Firman Allah bersabda yang artinya : “Perumpamaan (penghuni) nirwana yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa yang didalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada yang berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang yummy rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu dan disaring ; dan mereka yang memperoleh didalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang infinit di dalam neraka, dan didiberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya. (S. Muhammad : 15)”

Orang-orang yang shaleh tampak berseri-seri tanda mereka sangat bersuka cita. Mereka begitu puas akan apa yang sudah mereka perbuat selama hidup di dunia. Allah sudah menunjukan keadilan dan kasih akung-Nya kepada hamba-Nya yang bertaqwa. Kegembiraan orang-orang yang diberiman dan keadaan di nirwana digambarkan dalam Al-Qur’an, antara lain dalam surah Al-Ghasyiah ayat 8-16 yang artinya sebagai diberikut : “Banyak muka pada hari ini yang berseri-seri, merasa senang alasannya usaspesialuntuk, dalam nirwana yang tinggi, tidak engkau dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. Di dalamnya ada mata air yang mengalir. Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya), dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani yang terhampar.”

Baca Juga: Rukun Islam

Neraka

Neraka ialah suatu daerah di alam abadi yang sangat tidak sangat bahagia. Tempat ini diperuntukkan bagi orang-orang kafir, orang-orang yang melanggar perintah Allah. Di neraka orang-orang yang berbuat dosa melebihi amal baiknya akan menerima siksa.

penderitaan akhir siksa di neraka ini tidak ada bandingannya. Panasnya api neraka tidak sanggup dibandingkan dengan gerahnya api yang ada didunia. Dari keterangan ayat-ayat Al-Qur’an, kita sanggup membanyangkan betapa menderitanya orang-orang yang hidup tersiksa di neraka. Antara lain firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 56 yang artinya sebagai diberikut : “Sesungguhnya orang-orany yang kafir kepada ayat-ayat kami., kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, semoga mereka mencicipi azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana.

Firman Allah SWT

Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 16-17 yang artinya : “Dihadapannya ada Jahannam dan beliau akan didiberi minuman, dengan air nanah, diminumnya air jerawat itu dan hampir beliau tidak sanggup menelannya dan hadirlah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi beliau tidak juga mati; dan dihadapannya masih ada azab yang berat.

Firman Allah dalam surah Ad Dukhan ayat 47-48 yang artinya sebagai diberikut : “Peganglah beliau kemudian seretlah beliau ketengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat gerah.

Perkembangan Ilmu Hadits

Perkembangan Ilmu Hadits

Perkembangan Ilmu Hadits

Perkembangan Ilmu Hadits
Perkembangan Ilmu Hadits

Perkembangan ilmu hadits sekitar tahun 41 H, muncullah hadits-hadits palsu, dan semenjak itu mulailah dilakukan penelitian terhadap sanad Hadits dan setelah munculnya kegiatan pemalsuan Hadits dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab itu, maka beberapa aktivitas tertentu dilakukan oleh para Ulama Hadits dalam rangka memelihara kemurnian Hadits, yaitu seperti:

1. Melakukan Pembahasan

Melakukan pembahasan terhadap sanad Hadits serta penelitian terhadap keadaan setiap para perawi Hadits, hal yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan. Aktivitas ini terlihat dari penjelasan Muhammad ibn Sirin, yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam mukadimah kitab Shahih-nya dan oleh Al-Tirmidzi.

2. Melakukan Perjalanan

Melakukan perjalanan (rihlah) dalam mencari sumber Hadits agar dapat mendengar langsung dari perawi asalnya dan meneliti kebenaran riwayat tersebut me¬laluinya. Hal tersebut seperti yang dilakukan oleh Jabir ibn ‘Abd Allah yang telah melakukan suatu perjalanan jauh dengan waktu tempuh sekitar sebulan untuk menemui Abd Allah ibn Unais, hanya untuk mencek kebenaran bahwa dia telah mendengar langsung satu Hadits tentang kisas (qishash) dari Nabi Saw.

3. Melakukan Perbandingan

Melakukan perbandingan antara riwayat seorang perawi dengan riwayat perawi lain yang lebih tsiqat dan terpercaya dalam rangka untuk mengetahui ke-dha’if-an atau kepalsuan suatu Hadits. Hal tersebut dilakukan apabila ditemukan suatu Hadits yang kandungan maknanya ganjil dan bertentangan dengan akal atau dengan ketentuan dasar agama.

Demikianlah kegiatan para Ulama Hadits di abad pertama Hijriah yang telah memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Hadits. Bahkan pada akhir abad pertama itu telah terdapat beberapa klasifikasi Hadits, yaitu Hadits Marfu’, Hadits Mawquf, Hadits Muttashil, dan Hadits Mursal. Dari macam-macam Hadits tersebut, juga telah dibedakan antara Hadits Maqbul, yang pada masa berikutnya disebut dengan Hadits Shahih dan Hadits Hasan, serta Hadits Mardud, yang kemudian dikenal dengan Hadits Dha’if dengan berbagai macamnya.

Penjelasan

Pada abad kedua Hijriah, ketika Hadits telah dibukukan secara resmi atas prakarsa Khalifah ‘Umar ibn Abd al-Aziz dan dimotori oleh Muhammad ibn Muslim. Mereka memperhatikan ketentuan-ketentuan Hadits Shahih, demikian juga keadaan para perawinya. Hal ini terutama karena telah terjadi perubahan yang besar di dalam kehidupan umat Islam, yaitu para penghafal Hadits sudah mulai berkurang dan kualitas serta tingkat kekuatan hafalan terhadap Hadits pun sudah semakin menurun karena telah terjadi percampuran dan akulturasi antara masyarakat Arab dengan non-Arab menyusul perkembangan dan perluasan daerah kekuasaan Islam. Kondisi yang demikian memaksa para Ulama Hadits untuk semakin berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan riwayat, dan mereka pun telah merumuskan kaidah-kaidah dalam menentukan kualitas dan macam-macam Hadits. Hanya saja pada masa ini kaidah-kaidah tersebut masih bersifat rumusan yang tidak tertulis dan hanya, disepakati dan diingat oleh para Ulama Hadits di dalam hati mereka masing-masing, namun mereka telah menerapkannya ketika melakukan kegiatan penghimpunan dan pembukukan Hadits.

Pada abad ketiga Hijriah yang dikenal dengan masa keemasan dalam sejarah perkembangan Hadits, mulailah ketentuan-ketentuan dan rumusan kaidah-kaidah Hadits ditulis dan dibukukan, namun masih bersifat parsial. Yahya ibn Ma’in (w. 234 H/848 M) menulis tentang Tarikh al-Rijal, (sejarah dan riwayat hidup para perawi Hadits), Muhammad ibn Sa’ad (w. 230 H/844 M) menulis Al- Thabaqat (tingkatan para perawi Hadits), Ahmad ibn Hanbal (241 H/855 M) menulis Al-Tlal (beberapa ketentuan tentang cacat atau kelemahan suatu Hadits atau perawinya), dan lain-lain.

Pada abad keempat dan kelima Hijriah mulailah ditulis secara khusus kitab-kitab yang membahas tentang Ilmu Hadits yang bersifat komprehensif, seperti kitab Al-Muhaddits al-Fashil bayn al-Rawi wa al-wa’i oleh Al-Qadhi Abu Muhammad al-Hasan ibn Abd al-Rahman ibn Khallad al-Ramuharra-muzi (w. 360 H/971 M); Ma’rifat ‘Ulum al-Hadits oleh Abu Abd Allah Muhammad ibn Abd Allah al-hakim al-Naysaburi (w. 405 H/ 1014 M); Al-Mustakhraj ‘ala Ma’rifat ‘Ulum al-Hadits oleh Abu Na’im Ahmad ibn Abd Allah al-Ashbahani (w. 430 H/ 1038 M); Al-Kifayah fi ‘Ulum al-Riwayah oleh Abu Bakar Ahmad ibn Ali ibn Tsabit al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H/1071 M); Al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa adab al-Sami’ oleh Al- Baghdadi (463 H/1071 M), dan lain-lain.

Pada abad-abad berikutnya bermunculanlah karya-karya di bidang Ilmu Hadits ini, yang sampai saat se¬karang masih menjadi referensi utama dalam mem¬bicarakan Ilmu Hadits, yang di antaranya adalah: ‘Ulum il-Hadits oleh Abu Amr TJtsman ibn Abd al-Rahman yang lebih dikenal dengan Ibn al-Shalah (w. 643 H/1245 M), Tadrib al-RauAfi Syarh Taqrib al-Nawaiui oleh Jalai al-Din ‘Abd al-Rahman ibn Abu Bakar al-Suyuthi (w 911 H/ 1505 M).

Baca Juga: 

Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha

Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha

Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha

Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha
Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha

Shalat dhuha

Shalat dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu dhuha yaitu waktu matahari sedang naik. Shalat Dhuha ini dikerjakan sekurang-kurangnya dua rakaat sampai dua belas rekaat, akan tetapi yang utama dan paling baik adalah delapan rakaat.

Dalil-Dalil

Karena hal ini sebagaimana yang sering dilakukan oleh Rasulullah S.A.W., Sebagaimana hadits beliau yang artinya:

“Rasulullah S.A.W. biasa melakukan shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan adakalanya lebih.” (H.R. Muslim, Nasai dan Ahmad)

Ummi Hani’ binti Abu Thalib berkata:
“Bahwasanya pada hari penaklukan kota Mekkah, Rasulullah S.A.W. mengerjakan shalat dhuha sebanyak delapan rakaat dengan satu salam tiap dua rakaat.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Abu Hurairah R.A. berkata:
“Aku diberi wasiat oleh kekasihku Muhammad S.A.W. tiga perkara, yaitu; berpuasa tiga hari setiap bulan, melakukan shalat Dhuha dua rakaat dan melakukan shalat witir sebelum aku tidur.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai)

Niat Sholat Dhuha

Adapun niat shalat adalah:Ushalli sunnatadh dhuha rak’ataini lillahi ta’ala.dilakukan dua rekaat salam, kemudian selesai membaca doa shalat dhuha sebagai berikut:

Doa Sholat Dhuha

Allaahumma innadh dhuhaa-a dhuhaa-uka wal bahaa-a hahaa-uka wal jamaala jamaalukaka wal quwwaata quwwatuka wal qudrata qudratuka wal ‘ishmata ishmatuka. Allaahumma inkaana rizqii fis samaa-i fa anzilhu wainkaana fil ardhi fa akhrijhu wainkaana mu’siran fayassirhu wa in kaana haraaman fathahhirhu wa in kaana ba’iidan faqarribhu bihaqqi dhuhaa-ika wa bahaa-ika wajamaalika wa quwwatika wa qudratika aatinii maa aataita ‘ibaadakash shaalihiin.

Artinya:
“Wahai Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu adalah waktu dhuha-Mu, kecemerlangan adalah kecemerlangan-Mu, keindahan adalah keindahan- Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan itu adalah kekuasaan-Mu dan kesejahteraan itu adalah kesejahteraan-Mu. Wahai Allah, Jika rezekiku masih ada di langit, maka turunkanlah, dan jika masih ada di dalam bumi, maka keluarkanlah, jika masih sukar (untuk mendapatkan), maka mudahkanlah, jika keadaannya haram maka sucikanlah, jika masih jauh, maka dekatkanlah, dengan hak dhuha-Mu, kecemerlangan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu dan kekuasaan-Mu, berilah kami segala sesuatu yang telah Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih.”

Demikian sedikit uraian tentang shalat dhuha semoga bermanfaat. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Macam Macam Hadits

Macam Macam Hadits

Macam Macam Hadits

Macam Macam Hadits
Macam Macam Hadits

Berdasarkan pengertian hadits secara terminologis, hadits nabi demikian juga sunnah nabi , dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: Hadits Qauli, Hadits Fi’li, dan Hadits Taqriri.

1) Hadits Qauli

Hadits Qauli adalah Seluruh Hadits yang diucapkan Rasul SAW untuk berbagai tujuan dan dalam berbagai kesempatan. (Wahbah al-Zuhayli, Ushul al-Fiqh al-lslami (Beirut: Dar al Fikr, 1406 H/1986 M) juz 1, h. 450)

Khusus bagi para Ulama Ushul Fiqh, adalah seluruh perkataan yang dapat dijadikan dalil untuk menetapkan hukum syara’. Contoh Hadits Qauli adalah, seperti sabda Rasul SAW mengenai status air laut. Beliau bersabda:
“Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, bersabda Rasulullah SAW tentang laut, Airnya adalah suci dan bangkainya adalah halal”. (Muhammad ibn Ismail al-Kahlani, Subul al-Salam. juz 1 (Bandung: Dahlan t t) h 14- 5)

Contoh lain adalah Hadits mengenai niat:
Dari ‘Umar ibn al-Khaththab r.a., dia berkata, “Aku mendengar Rasul SAW bersabda, ‘Sesungguhnya seluruh amal itu ditentukan oleh niat, dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa yang melakukan hijrah untuk kepentingan dunia yang akan diperolehnya, atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahinya, maka ia akan memperoleh sebatas apa yang ia niatkan ketika berhijrah tersebut’. “

2) Hadits Fi’li

Hadits Fi’li adalah seluruh perbuatan yang dilaksanakan oleh Rasul SAW. Perbuatan Rasul SAW tersebut adalah yang sifatnya dapat dijadikan contoh teladan, dalil untuk penetapan hukum syara’, atau pelaksanaan suatu ibadah. Umpamanya, tata cara pelaksanaan ibadah shalat, haji, dan lainnya. Tentang cara pelaksanaan shalat, Rasul SAW bersabda:
… Dan shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat….

Salah satu tata cara yang dicontohkan Nabi SAW dalam pelaksanaan shalat adalah, cara mengangkat tangan ketika bertakbir di dalam shalat, seperti yang diceritakan oleh Abd Allah ibn Umar sebagai berikut:
Dari Abd Allah ibn ‘Umar, dia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW apabila dia berdiri melaksanakan shalat, dia mengangkat kedua tangannya hingga setentang kedua bahunya, dan hal tersebut dilakukan beliau ketika bertakbir hendak rukuk, dan beliau juga melakukan hal itu ketika bangkit dari rukuk seraya membaca, ‘Sami’a Allahu liman hamidah’. Beliau tidak melakukan hal itu (yaitu mengangkat kedua tangan) ketika akan sujud.”

3) Hadits Taqriri

Hadits Taqriri adalah diamnya Rasul SAW dari mengingkari perkataan atau perbuatan yang dilakukan di hadapan beliau atau pada masa beliau dan hal tersebut diketahuinya. Hal tersebut adakalanya dengan penyataan persetujuan beliau atau penilaian baik dari beliau, atau tidak adanya pengingkaran beliau dan pengakuan beliau.

Perkataan atau perbuatan Sahabat yang diakui atau disetujui oleh Rasul SAW, hukumnya sama dengan perkataan atau perbuatan Rasul SAW sendiri. Demikian
juga taqrir terhadap ijtihad Sahabat dinyatakan sebagai Hadits atau Sunnah. Seperti taqrir Rasul SAW terhadap ijtihad para Sahabat mengenai pelaksanaan shalat asar pada waktu penyerangan kepada Bani Quraizah, berdasarkan sabda beliau:

Dari Ibn ‘Umar r.a., dia berkata, “Nabi SAW bersabda pada hari peperangan Ahzab, Janganlah seorang pun melakukan shalat asar kecuali di perkampungan Bani Quraizah Maka sebagian Sahabat melaksanakan shalat asar di perjalanan, sebagian mereka berkata, Kami tidak melakukan shalat sehingga kami sampai di perkampungan tersebut dan sebagian yang lain mengatakan, Justru kami melakukan shalat (pada waktunya), (karena) beliau tidak memaksudkan yang demikian pada kami, Kemudian perbedaan interpretasi tersebut disampaikan kepada Nabi SAW, dan Nabi SAW tidak menyalahkan siapa pun di antara mereka.” (Bukhari, Shahih al-Bukhari. juz 1, h. 180).

Dari Hadits di atas terlihat bahwa sebagian sahabat ada yang memahami larangan tersebut sebagaimana apa adanya (sesuai teks Hadits), sehingga mereka tidak melakukan shalat asar kecuali sesudah sampai di perkampungan Bani Quraizah yang waktunya ketika itu telah memasuki magrib. Sedangkan sebagian Sahabat lagi memahami larangan Rasul SAW itu sebagai tuntutan kesegeraan berangkat ke perkampungan Bani Quraizah, dan karenanya mereka tetap melaksanakan shalat asar pada waktunya. Dan Nabi SAW, setelah melihat per¬bedaan ijtihad para Sahabat dalam menafsirkan larangan beliau itu, tidak menyalahkan pihak mana pun, yang berarti beliau mengakuinya. Inilah yang disebut dengan taqrir beliau.

Contoh Lain

Contoh lain dari Hadits Taqriri ini adalah, persetujuan Rasul SAW terhadap pilihan Mu’adz ibn Jabal untuk berijtihad ketika dia tidak menemukan jawaban di dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW terhadap permasalahan yang diajukan kepadanya. Teks Haditsnya adalah sebagai berikut:

Bahwasanya tatkala Rasulullah SAW., hendak mengutus Mu’adz ibn Jabal ke Yaman, beliau bertanya kepada Mu’adz, “Bagaimana engkau memutuskan perkara jika diajukan kepadamu?” Maka Mu’adz menjawab, “Aku akan memutuskan berdasarkan kepada Kitab Allah (Al- Qur’an),” Rasul bertanya lagi, “Apabila engkau tidak menemukan jawabannya di dalam Kitab Allah?” Mu’adz berkata, “Aku akan memutuskannya dengan Sunnah.” Rasul selanjutnya bertanya, “Bagaimana kalau engkau juga tidak menemukannya di dalam Sunnah dan tidak di dalam Kitab Allah?” Mu’adz menjawab, “Aku akan berijtihad dengan mempergunakan akalku.” Rasul SAW menepuk dada Mu’adz seraya berkata, “Alhamdulillah atas taufik yang telah dianugerahkan Allah kepada utusan Rasul-Nya.”(Shahih Bukhari . juz 5, h. 50.

Kumpulan Hadits diatas termaktub juga dalam Kitab Abu Dawud Sulaiman ibn al-Asy’ats al-Sijistani, Sunan Abi Dawud (Beirut Dar al-Fikr 1414 H/1994 M), juz 3, h. 295; Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi. juz 3, h. 62; Al-Nasa’i,’ Sunan al-Nasa’i, juz 8, h. 244; Al-Darimi, Sunan al-Darimi, juz 1, h. 60).

Demikian uraian tentang bentuk-bentuk hadits atau macam macam hadits yang dapat saya muat, semoga baroakah. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/

Pesan Rasulullah Sebelum Wafat

Pesan Rasulullah Sebelum Wafat

Pesan Rasulullah Sebelum Wafat

Pesan Rasulullah Sebelum Wafat
Pesan Rasulullah Sebelum Wafat

Pesan Rasulullah Sebelum Wafat

Sebelum malaikat Izrail diperintah Allah SWT untuk mencabut nyawa Nabi Muhammad , Allah berpesan kepada malaikat Jibril

“Hai Jibril, jika kekasih-Ku menolaknya, laranglah Izrail melakukan tugasnya!” Sungguh berharganya manusia yang satu ini yang tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Di rumah Nabi Muhammad SAW, Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk sambil berkata, “Maafkanlah, ayahku sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian Fatimah kembali menemani Nabi Muhammad SAW yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”. “Tak tahulah ayahku, sepertinya orang baru, karena baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah wahai anakku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut pun datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah SWT dan penghulu dunia ini.

Malaikat Jibril Mengkhabarkan

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata malaikat Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

 “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jmalaikat ibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar bahwa Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya” kata malaikat Jibril.

Saatnya Malaikat Izrail Melakukan Tugasnya

Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, TIMPAKAN SAJA SEMUA SIKSA MAUT INI KEPADAKU, JANGAN PADA UMATKU”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)”. Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii! (Umatku, umatku, umatku)”. Dan, berakhirlah hidup manusia yang paling mulia yang memberi sinaran itu.

Menurut Jumhur Ulama

Menurut jumhur ulama sebagian Sakitnya Sakarotulmaut Seluruh umat Nabi muhammad sudah dilimpahkan kepada Sayyidina muhammad….

Betapa mendalam cinta Rasulullah kepada kita ummatnya, bahkan diakhir kehidupannya hanya kita yang ada dalam fikirannya. Sakitnya sakaratul maut itu tetapi sedikit sekali kita mengingatnya bahkan untuk sekedar menyebut Mengagungkan Pangilan Nabinya.

Baca Juga:

Kisah Sayyidina Ali Dengan Dua Malaikat

Kisah Sayyidina Ali Dengan Dua Malaikat

Kisah Sayyidina Ali Dengan Dua Malaikat

Kisah Sayyidina Ali Dengan Dua Malaikat
Kisah Sayyidina Ali Dengan Dua Malaikat

Sayyidina Ali Dengan Dua Malaikat

Kisah ini diriwayatkan Ja’far bin Muhammad, yang memiliki sanad dari ayahnya, lalu dari datuknya. Suatu ketika, datuknya Ja’far menceritakan bahawa Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramaLlahu wajhah mengunjungi rumahnya selepas silaturahim kepada Rasulullah.

Ali Menjumpai Isterinya

Di rumah itu Ali menjumpai isterinya, Sayyidah Fatimah, sedang duduk memintal, sementara Salman al-Farisi berada di hadapannya meminta S.Fatimah membuat kain untuknya.

“Wahai perempuan mulia, adakah makanan yang boleh kau berikan kepada suamimu ini?” tanya Ali kepada isterinya.

“Demi Allah, aku tidak mempunyai apapun. Hanya enam dirham ini, kos upah dari Salman kerana aku telah memintal kapas untuk membuat kain yang diminta olehnya,” jawab S.Fatimah. “Wang ini ingin aku belikan makanan untuk (anak kita) Hasan dan Husain.”

“Bawa kemari wang itu.” Fatimah segera memberikannya dan Ali pun keluar membeli makanan.

Tiba-tiba beliau bertemu seorang laki-laki yang berdiri sambil berujar, “Siapa yang ingin memberikan hutang (kerana) Allah yang maha menguasai dan mencukupi?” Sayyidina Ali mendekat dan langsung memberikan enam dirham di tangannya kepada lelaki tersebut.

Fatimah menangis

Fatimah menangis saat mengetahui suaminya pulang dengan tangan kosong. Sayyidina Ali hanya boleh menjelaskan peristiwa secara apa adanya.

“Baiklah,” kata Fatimah, tanda bahawa beliau menerima keputusan dan tindakan suaminya.

Sekali lagi, Sayyidina Ali bergegas keluar. Kali ini bukan untuk mencari makanan melainkan mengunjungi Rasulullah. Di tengah jalan seorang Badui yang sedang menuntun unta menyapanya. “Hai Ali, belilah unta ini dariku.”

”Aku sudah tak punya wang sesen pun.”

“Ah, kau boleh berhutang dahulu, boleh dibayar nanti.”

“Berapa?”

“Seratus dirham.”

Sayyidina Ali sepakat membeli unta itu meskipun dengan cara hutang. Sesaat kemudian, tanpa disangka, sepupu Nabi ini berjumpa dengan orang Badwi(orang Arab kampung) lainnya.

“Apakah unta ini kau jual?”

“Benar,” jawab Ali.

“Berapa?”

“Tiga ratus dirham.”

Si Badwi membayarnya tunai, dan unta pun sah menjadi tunggangan barunya. Ali segara pulang kepada istrinya. Wajah Fatimah kali ini tampak berseri menunggu penjelasan Sayyidina Ali atas kejadian yang baru saja dialami.

“Baiklah,” kata Fatimah selepas mendengarkan cerita suaminya.

Ali bertekad menghadap Rasulullah

Ali bertekad menghadap Rasulullah. Saat kaki memasuki pintu masjid, sambutan hangat langsung datang dari Rasulullah. Nabi melempar senyum dan salam, lalu bertanya, “Hai Ali, kau yang akan memberiku khabar, atau aku yang akan memberimu khabar?”

“Sebaiknya Engkau, ya Rasulullah, yang memberi khabar kepadaku.”

“Tahukah kamu, siapa orang Badwi yang menjual unta kepadamu dan orang Badwi yang membeli unta darimu?”

“Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu,” sahut Ali memasrahkan jawapan.

“Sangat beruntung kau, wahai Ali. Kau telah memberi pinjaman kerana Allah seharga enam dirham, dan Allah pun telah memberimu tiga ratus dirham, 50 kali lipat dari tiap dirham. Badwi yang pertama adalah malaikat Jibril, sedangkan Badwi yang kedua adalah malaikat Israfil (dalam riwayat lain, malaikat Mikail).”

Kisah dari kitab “al-Aqthaf ad-Daniyah” ini menggambarkan betapa ketulusan Ali dalam menolong sesama telah membuahkan balasan berlipat, bahkan dengan cara dan hasil di luar dugaannya.

Keluasan hati isterinya, Fatimah r.a, untuk menerima keterbatasan juga melengkapi kisah kebersahajaan hidup keluarga ini. Dokongan penuh dari Fatimah telah menguatkan sang suami untuk tetap bermanfaat bagi orang lain, meski untuk sementara waktu mengabaikan kepentingannya sendiri: makan. (Mahbib Khoiron)

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/tata-cara-sholat-tahajud-niat-doa-dan-keutamaan-lengkap/

Jenazah Disholawati 70 Ribu Malaikat

Jenazah Disholawati 70 Ribu Malaikat

Jenazah Disholawati 70 Ribu Malaikat

Jenazah Disholawati 70 Ribu Malaikat
Jenazah Disholawati 70 Ribu Malaikat

Jenazah Disholawati 70 Ribu Malaikat

Kisah ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. : Pada suatu pagi Rasulullah

SAW bersama dengan sahabatnya Anas bin Malik r.a. melihat suatu keanehan.Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya. Tak lama kemudian Rasulullah SAW dihampiri oleh Malaikat Jibril. Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Malaikat Jibril : “Wahai Jibril, kenapa Matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup? Padahal tidak mendung?”

Matahari Ini Nampak Redup

“Ya Rasulullah, Matahari ini nampak redup karena terlalu banyak sayap para malaikat yang menghalanginya. ” jawab Malaikat Jibril. Rasulullah SAW bertanya lagi : “Wahai Jibril, berapa jumlah Malaikat yang menghalangi matahari saat ini?” “Ya Rasulullah, 70 ribu Malaikat.” jawab

Malaikat Jibril. Rasulullah SAW bertanya lagi : “Apa gerangan yang menjadikan Malaikat menutupi Matahari?” Kemudian Malaikat Jibril menjawab :”Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT telah mengutus 70 ribu Malaikat agar membacakan shalawat kepada salah satu umatmu.””Siapakah dia, wahai Jibril?” Tanya Rasulullah SAW. “Dialah Muawiyah…!!!” jawab Malaikat Jibril.

Di Antara Fadhilah Surat al-Ikhlash

Rasulullah SAW bertanya lagi : “Apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah sehingga saat ia meninggal mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa ini?” Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca Surat Al-Ikhlas di waktu malam, siang, pagi, waktu duduk, waktu berjalan, waktu berdiri, bahkan dalam setiap keadaan selalu membaca Surat Al-Ikhlas.”Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya : “Dari itulah Allah SWT mengutus sebanyak 70 ribu malaikat untuk membacakan shalawat kepada umatmu yang bernama Muawiyahtersebut.” SubhanAllah.. Walhamdulillah. . Wala ilaha illallah.. Wallahu akbar.

Rasulullah SAW bersabda

Rasulullah SAW bersabda : ”Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Mereka menjawab, “Bagaimana mungkin kami bisa membaca sepertigai Al-Qur’an?” Lalu Nabi SAW bersabda, “Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (H.R. Muslim no. 1922)

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-ringkas-dan-lengkap-hadhorot/