Perkembangan Ilmu Hadits

Perkembangan Ilmu Hadits

Perkembangan Ilmu Hadits

Perkembangan Ilmu Hadits
Perkembangan Ilmu Hadits

Perkembangan ilmu hadits sekitar tahun 41 H, muncullah hadits-hadits palsu, dan semenjak itu mulailah dilakukan penelitian terhadap sanad Hadits dan setelah munculnya kegiatan pemalsuan Hadits dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab itu, maka beberapa aktivitas tertentu dilakukan oleh para Ulama Hadits dalam rangka memelihara kemurnian Hadits, yaitu seperti:

1. Melakukan Pembahasan

Melakukan pembahasan terhadap sanad Hadits serta penelitian terhadap keadaan setiap para perawi Hadits, hal yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan. Aktivitas ini terlihat dari penjelasan Muhammad ibn Sirin, yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam mukadimah kitab Shahih-nya dan oleh Al-Tirmidzi.

2. Melakukan Perjalanan

Melakukan perjalanan (rihlah) dalam mencari sumber Hadits agar dapat mendengar langsung dari perawi asalnya dan meneliti kebenaran riwayat tersebut me¬laluinya. Hal tersebut seperti yang dilakukan oleh Jabir ibn ‘Abd Allah yang telah melakukan suatu perjalanan jauh dengan waktu tempuh sekitar sebulan untuk menemui Abd Allah ibn Unais, hanya untuk mencek kebenaran bahwa dia telah mendengar langsung satu Hadits tentang kisas (qishash) dari Nabi Saw.

3. Melakukan Perbandingan

Melakukan perbandingan antara riwayat seorang perawi dengan riwayat perawi lain yang lebih tsiqat dan terpercaya dalam rangka untuk mengetahui ke-dha’if-an atau kepalsuan suatu Hadits. Hal tersebut dilakukan apabila ditemukan suatu Hadits yang kandungan maknanya ganjil dan bertentangan dengan akal atau dengan ketentuan dasar agama.

Demikianlah kegiatan para Ulama Hadits di abad pertama Hijriah yang telah memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Hadits. Bahkan pada akhir abad pertama itu telah terdapat beberapa klasifikasi Hadits, yaitu Hadits Marfu’, Hadits Mawquf, Hadits Muttashil, dan Hadits Mursal. Dari macam-macam Hadits tersebut, juga telah dibedakan antara Hadits Maqbul, yang pada masa berikutnya disebut dengan Hadits Shahih dan Hadits Hasan, serta Hadits Mardud, yang kemudian dikenal dengan Hadits Dha’if dengan berbagai macamnya.

Penjelasan

Pada abad kedua Hijriah, ketika Hadits telah dibukukan secara resmi atas prakarsa Khalifah ‘Umar ibn Abd al-Aziz dan dimotori oleh Muhammad ibn Muslim. Mereka memperhatikan ketentuan-ketentuan Hadits Shahih, demikian juga keadaan para perawinya. Hal ini terutama karena telah terjadi perubahan yang besar di dalam kehidupan umat Islam, yaitu para penghafal Hadits sudah mulai berkurang dan kualitas serta tingkat kekuatan hafalan terhadap Hadits pun sudah semakin menurun karena telah terjadi percampuran dan akulturasi antara masyarakat Arab dengan non-Arab menyusul perkembangan dan perluasan daerah kekuasaan Islam. Kondisi yang demikian memaksa para Ulama Hadits untuk semakin berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan riwayat, dan mereka pun telah merumuskan kaidah-kaidah dalam menentukan kualitas dan macam-macam Hadits. Hanya saja pada masa ini kaidah-kaidah tersebut masih bersifat rumusan yang tidak tertulis dan hanya, disepakati dan diingat oleh para Ulama Hadits di dalam hati mereka masing-masing, namun mereka telah menerapkannya ketika melakukan kegiatan penghimpunan dan pembukukan Hadits.

Pada abad ketiga Hijriah yang dikenal dengan masa keemasan dalam sejarah perkembangan Hadits, mulailah ketentuan-ketentuan dan rumusan kaidah-kaidah Hadits ditulis dan dibukukan, namun masih bersifat parsial. Yahya ibn Ma’in (w. 234 H/848 M) menulis tentang Tarikh al-Rijal, (sejarah dan riwayat hidup para perawi Hadits), Muhammad ibn Sa’ad (w. 230 H/844 M) menulis Al- Thabaqat (tingkatan para perawi Hadits), Ahmad ibn Hanbal (241 H/855 M) menulis Al-Tlal (beberapa ketentuan tentang cacat atau kelemahan suatu Hadits atau perawinya), dan lain-lain.

Pada abad keempat dan kelima Hijriah mulailah ditulis secara khusus kitab-kitab yang membahas tentang Ilmu Hadits yang bersifat komprehensif, seperti kitab Al-Muhaddits al-Fashil bayn al-Rawi wa al-wa’i oleh Al-Qadhi Abu Muhammad al-Hasan ibn Abd al-Rahman ibn Khallad al-Ramuharra-muzi (w. 360 H/971 M); Ma’rifat ‘Ulum al-Hadits oleh Abu Abd Allah Muhammad ibn Abd Allah al-hakim al-Naysaburi (w. 405 H/ 1014 M); Al-Mustakhraj ‘ala Ma’rifat ‘Ulum al-Hadits oleh Abu Na’im Ahmad ibn Abd Allah al-Ashbahani (w. 430 H/ 1038 M); Al-Kifayah fi ‘Ulum al-Riwayah oleh Abu Bakar Ahmad ibn Ali ibn Tsabit al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H/1071 M); Al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa adab al-Sami’ oleh Al- Baghdadi (463 H/1071 M), dan lain-lain.

Pada abad-abad berikutnya bermunculanlah karya-karya di bidang Ilmu Hadits ini, yang sampai saat se¬karang masih menjadi referensi utama dalam mem¬bicarakan Ilmu Hadits, yang di antaranya adalah: ‘Ulum il-Hadits oleh Abu Amr TJtsman ibn Abd al-Rahman yang lebih dikenal dengan Ibn al-Shalah (w. 643 H/1245 M), Tadrib al-RauAfi Syarh Taqrib al-Nawaiui oleh Jalai al-Din ‘Abd al-Rahman ibn Abu Bakar al-Suyuthi (w 911 H/ 1505 M).

Baca Juga: 

Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha

Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha

Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha

Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha
Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha

Shalat dhuha

Shalat dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu dhuha yaitu waktu matahari sedang naik. Shalat Dhuha ini dikerjakan sekurang-kurangnya dua rakaat sampai dua belas rekaat, akan tetapi yang utama dan paling baik adalah delapan rakaat.

Dalil-Dalil

Karena hal ini sebagaimana yang sering dilakukan oleh Rasulullah S.A.W., Sebagaimana hadits beliau yang artinya:

“Rasulullah S.A.W. biasa melakukan shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan adakalanya lebih.” (H.R. Muslim, Nasai dan Ahmad)

Ummi Hani’ binti Abu Thalib berkata:
“Bahwasanya pada hari penaklukan kota Mekkah, Rasulullah S.A.W. mengerjakan shalat dhuha sebanyak delapan rakaat dengan satu salam tiap dua rakaat.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Abu Hurairah R.A. berkata:
“Aku diberi wasiat oleh kekasihku Muhammad S.A.W. tiga perkara, yaitu; berpuasa tiga hari setiap bulan, melakukan shalat Dhuha dua rakaat dan melakukan shalat witir sebelum aku tidur.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai)

Niat Sholat Dhuha

Adapun niat shalat adalah:Ushalli sunnatadh dhuha rak’ataini lillahi ta’ala.dilakukan dua rekaat salam, kemudian selesai membaca doa shalat dhuha sebagai berikut:

Doa Sholat Dhuha

Allaahumma innadh dhuhaa-a dhuhaa-uka wal bahaa-a hahaa-uka wal jamaala jamaalukaka wal quwwaata quwwatuka wal qudrata qudratuka wal ‘ishmata ishmatuka. Allaahumma inkaana rizqii fis samaa-i fa anzilhu wainkaana fil ardhi fa akhrijhu wainkaana mu’siran fayassirhu wa in kaana haraaman fathahhirhu wa in kaana ba’iidan faqarribhu bihaqqi dhuhaa-ika wa bahaa-ika wajamaalika wa quwwatika wa qudratika aatinii maa aataita ‘ibaadakash shaalihiin.

Artinya:
“Wahai Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu adalah waktu dhuha-Mu, kecemerlangan adalah kecemerlangan-Mu, keindahan adalah keindahan- Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan itu adalah kekuasaan-Mu dan kesejahteraan itu adalah kesejahteraan-Mu. Wahai Allah, Jika rezekiku masih ada di langit, maka turunkanlah, dan jika masih ada di dalam bumi, maka keluarkanlah, jika masih sukar (untuk mendapatkan), maka mudahkanlah, jika keadaannya haram maka sucikanlah, jika masih jauh, maka dekatkanlah, dengan hak dhuha-Mu, kecemerlangan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu dan kekuasaan-Mu, berilah kami segala sesuatu yang telah Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih.”

Demikian sedikit uraian tentang shalat dhuha semoga bermanfaat. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Macam Macam Hadits

Macam Macam Hadits

Macam Macam Hadits

Macam Macam Hadits
Macam Macam Hadits

Berdasarkan pengertian hadits secara terminologis, hadits nabi demikian juga sunnah nabi , dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: Hadits Qauli, Hadits Fi’li, dan Hadits Taqriri.

1) Hadits Qauli

Hadits Qauli adalah Seluruh Hadits yang diucapkan Rasul SAW untuk berbagai tujuan dan dalam berbagai kesempatan. (Wahbah al-Zuhayli, Ushul al-Fiqh al-lslami (Beirut: Dar al Fikr, 1406 H/1986 M) juz 1, h. 450)

Khusus bagi para Ulama Ushul Fiqh, adalah seluruh perkataan yang dapat dijadikan dalil untuk menetapkan hukum syara’. Contoh Hadits Qauli adalah, seperti sabda Rasul SAW mengenai status air laut. Beliau bersabda:
“Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, bersabda Rasulullah SAW tentang laut, Airnya adalah suci dan bangkainya adalah halal”. (Muhammad ibn Ismail al-Kahlani, Subul al-Salam. juz 1 (Bandung: Dahlan t t) h 14- 5)

Contoh lain adalah Hadits mengenai niat:
Dari ‘Umar ibn al-Khaththab r.a., dia berkata, “Aku mendengar Rasul SAW bersabda, ‘Sesungguhnya seluruh amal itu ditentukan oleh niat, dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa yang melakukan hijrah untuk kepentingan dunia yang akan diperolehnya, atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahinya, maka ia akan memperoleh sebatas apa yang ia niatkan ketika berhijrah tersebut’. “

2) Hadits Fi’li

Hadits Fi’li adalah seluruh perbuatan yang dilaksanakan oleh Rasul SAW. Perbuatan Rasul SAW tersebut adalah yang sifatnya dapat dijadikan contoh teladan, dalil untuk penetapan hukum syara’, atau pelaksanaan suatu ibadah. Umpamanya, tata cara pelaksanaan ibadah shalat, haji, dan lainnya. Tentang cara pelaksanaan shalat, Rasul SAW bersabda:
… Dan shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat….

Salah satu tata cara yang dicontohkan Nabi SAW dalam pelaksanaan shalat adalah, cara mengangkat tangan ketika bertakbir di dalam shalat, seperti yang diceritakan oleh Abd Allah ibn Umar sebagai berikut:
Dari Abd Allah ibn ‘Umar, dia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW apabila dia berdiri melaksanakan shalat, dia mengangkat kedua tangannya hingga setentang kedua bahunya, dan hal tersebut dilakukan beliau ketika bertakbir hendak rukuk, dan beliau juga melakukan hal itu ketika bangkit dari rukuk seraya membaca, ‘Sami’a Allahu liman hamidah’. Beliau tidak melakukan hal itu (yaitu mengangkat kedua tangan) ketika akan sujud.”

3) Hadits Taqriri

Hadits Taqriri adalah diamnya Rasul SAW dari mengingkari perkataan atau perbuatan yang dilakukan di hadapan beliau atau pada masa beliau dan hal tersebut diketahuinya. Hal tersebut adakalanya dengan penyataan persetujuan beliau atau penilaian baik dari beliau, atau tidak adanya pengingkaran beliau dan pengakuan beliau.

Perkataan atau perbuatan Sahabat yang diakui atau disetujui oleh Rasul SAW, hukumnya sama dengan perkataan atau perbuatan Rasul SAW sendiri. Demikian
juga taqrir terhadap ijtihad Sahabat dinyatakan sebagai Hadits atau Sunnah. Seperti taqrir Rasul SAW terhadap ijtihad para Sahabat mengenai pelaksanaan shalat asar pada waktu penyerangan kepada Bani Quraizah, berdasarkan sabda beliau:

Dari Ibn ‘Umar r.a., dia berkata, “Nabi SAW bersabda pada hari peperangan Ahzab, Janganlah seorang pun melakukan shalat asar kecuali di perkampungan Bani Quraizah Maka sebagian Sahabat melaksanakan shalat asar di perjalanan, sebagian mereka berkata, Kami tidak melakukan shalat sehingga kami sampai di perkampungan tersebut dan sebagian yang lain mengatakan, Justru kami melakukan shalat (pada waktunya), (karena) beliau tidak memaksudkan yang demikian pada kami, Kemudian perbedaan interpretasi tersebut disampaikan kepada Nabi SAW, dan Nabi SAW tidak menyalahkan siapa pun di antara mereka.” (Bukhari, Shahih al-Bukhari. juz 1, h. 180).

Dari Hadits di atas terlihat bahwa sebagian sahabat ada yang memahami larangan tersebut sebagaimana apa adanya (sesuai teks Hadits), sehingga mereka tidak melakukan shalat asar kecuali sesudah sampai di perkampungan Bani Quraizah yang waktunya ketika itu telah memasuki magrib. Sedangkan sebagian Sahabat lagi memahami larangan Rasul SAW itu sebagai tuntutan kesegeraan berangkat ke perkampungan Bani Quraizah, dan karenanya mereka tetap melaksanakan shalat asar pada waktunya. Dan Nabi SAW, setelah melihat per¬bedaan ijtihad para Sahabat dalam menafsirkan larangan beliau itu, tidak menyalahkan pihak mana pun, yang berarti beliau mengakuinya. Inilah yang disebut dengan taqrir beliau.

Contoh Lain

Contoh lain dari Hadits Taqriri ini adalah, persetujuan Rasul SAW terhadap pilihan Mu’adz ibn Jabal untuk berijtihad ketika dia tidak menemukan jawaban di dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW terhadap permasalahan yang diajukan kepadanya. Teks Haditsnya adalah sebagai berikut:

Bahwasanya tatkala Rasulullah SAW., hendak mengutus Mu’adz ibn Jabal ke Yaman, beliau bertanya kepada Mu’adz, “Bagaimana engkau memutuskan perkara jika diajukan kepadamu?” Maka Mu’adz menjawab, “Aku akan memutuskan berdasarkan kepada Kitab Allah (Al- Qur’an),” Rasul bertanya lagi, “Apabila engkau tidak menemukan jawabannya di dalam Kitab Allah?” Mu’adz berkata, “Aku akan memutuskannya dengan Sunnah.” Rasul selanjutnya bertanya, “Bagaimana kalau engkau juga tidak menemukannya di dalam Sunnah dan tidak di dalam Kitab Allah?” Mu’adz menjawab, “Aku akan berijtihad dengan mempergunakan akalku.” Rasul SAW menepuk dada Mu’adz seraya berkata, “Alhamdulillah atas taufik yang telah dianugerahkan Allah kepada utusan Rasul-Nya.”(Shahih Bukhari . juz 5, h. 50.

Kumpulan Hadits diatas termaktub juga dalam Kitab Abu Dawud Sulaiman ibn al-Asy’ats al-Sijistani, Sunan Abi Dawud (Beirut Dar al-Fikr 1414 H/1994 M), juz 3, h. 295; Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi. juz 3, h. 62; Al-Nasa’i,’ Sunan al-Nasa’i, juz 8, h. 244; Al-Darimi, Sunan al-Darimi, juz 1, h. 60).

Demikian uraian tentang bentuk-bentuk hadits atau macam macam hadits yang dapat saya muat, semoga baroakah. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/

Pesan Rasulullah Sebelum Wafat

Pesan Rasulullah Sebelum Wafat

Pesan Rasulullah Sebelum Wafat

Pesan Rasulullah Sebelum Wafat
Pesan Rasulullah Sebelum Wafat

Pesan Rasulullah Sebelum Wafat

Sebelum malaikat Izrail diperintah Allah SWT untuk mencabut nyawa Nabi Muhammad , Allah berpesan kepada malaikat Jibril

“Hai Jibril, jika kekasih-Ku menolaknya, laranglah Izrail melakukan tugasnya!” Sungguh berharganya manusia yang satu ini yang tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Di rumah Nabi Muhammad SAW, Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk sambil berkata, “Maafkanlah, ayahku sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian Fatimah kembali menemani Nabi Muhammad SAW yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”. “Tak tahulah ayahku, sepertinya orang baru, karena baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah wahai anakku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut pun datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah SWT dan penghulu dunia ini.

Malaikat Jibril Mengkhabarkan

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata malaikat Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

 “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jmalaikat ibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar bahwa Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya” kata malaikat Jibril.

Saatnya Malaikat Izrail Melakukan Tugasnya

Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, TIMPAKAN SAJA SEMUA SIKSA MAUT INI KEPADAKU, JANGAN PADA UMATKU”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)”. Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii! (Umatku, umatku, umatku)”. Dan, berakhirlah hidup manusia yang paling mulia yang memberi sinaran itu.

Menurut Jumhur Ulama

Menurut jumhur ulama sebagian Sakitnya Sakarotulmaut Seluruh umat Nabi muhammad sudah dilimpahkan kepada Sayyidina muhammad….

Betapa mendalam cinta Rasulullah kepada kita ummatnya, bahkan diakhir kehidupannya hanya kita yang ada dalam fikirannya. Sakitnya sakaratul maut itu tetapi sedikit sekali kita mengingatnya bahkan untuk sekedar menyebut Mengagungkan Pangilan Nabinya.

Baca Juga:

Kisah Sayyidina Ali Dengan Dua Malaikat

Kisah Sayyidina Ali Dengan Dua Malaikat

Kisah Sayyidina Ali Dengan Dua Malaikat

Kisah Sayyidina Ali Dengan Dua Malaikat
Kisah Sayyidina Ali Dengan Dua Malaikat

Sayyidina Ali Dengan Dua Malaikat

Kisah ini diriwayatkan Ja’far bin Muhammad, yang memiliki sanad dari ayahnya, lalu dari datuknya. Suatu ketika, datuknya Ja’far menceritakan bahawa Sayyidina Ali bin Abi Thalib karramaLlahu wajhah mengunjungi rumahnya selepas silaturahim kepada Rasulullah.

Ali Menjumpai Isterinya

Di rumah itu Ali menjumpai isterinya, Sayyidah Fatimah, sedang duduk memintal, sementara Salman al-Farisi berada di hadapannya meminta S.Fatimah membuat kain untuknya.

“Wahai perempuan mulia, adakah makanan yang boleh kau berikan kepada suamimu ini?” tanya Ali kepada isterinya.

“Demi Allah, aku tidak mempunyai apapun. Hanya enam dirham ini, kos upah dari Salman kerana aku telah memintal kapas untuk membuat kain yang diminta olehnya,” jawab S.Fatimah. “Wang ini ingin aku belikan makanan untuk (anak kita) Hasan dan Husain.”

“Bawa kemari wang itu.” Fatimah segera memberikannya dan Ali pun keluar membeli makanan.

Tiba-tiba beliau bertemu seorang laki-laki yang berdiri sambil berujar, “Siapa yang ingin memberikan hutang (kerana) Allah yang maha menguasai dan mencukupi?” Sayyidina Ali mendekat dan langsung memberikan enam dirham di tangannya kepada lelaki tersebut.

Fatimah menangis

Fatimah menangis saat mengetahui suaminya pulang dengan tangan kosong. Sayyidina Ali hanya boleh menjelaskan peristiwa secara apa adanya.

“Baiklah,” kata Fatimah, tanda bahawa beliau menerima keputusan dan tindakan suaminya.

Sekali lagi, Sayyidina Ali bergegas keluar. Kali ini bukan untuk mencari makanan melainkan mengunjungi Rasulullah. Di tengah jalan seorang Badui yang sedang menuntun unta menyapanya. “Hai Ali, belilah unta ini dariku.”

”Aku sudah tak punya wang sesen pun.”

“Ah, kau boleh berhutang dahulu, boleh dibayar nanti.”

“Berapa?”

“Seratus dirham.”

Sayyidina Ali sepakat membeli unta itu meskipun dengan cara hutang. Sesaat kemudian, tanpa disangka, sepupu Nabi ini berjumpa dengan orang Badwi(orang Arab kampung) lainnya.

“Apakah unta ini kau jual?”

“Benar,” jawab Ali.

“Berapa?”

“Tiga ratus dirham.”

Si Badwi membayarnya tunai, dan unta pun sah menjadi tunggangan barunya. Ali segara pulang kepada istrinya. Wajah Fatimah kali ini tampak berseri menunggu penjelasan Sayyidina Ali atas kejadian yang baru saja dialami.

“Baiklah,” kata Fatimah selepas mendengarkan cerita suaminya.

Ali bertekad menghadap Rasulullah

Ali bertekad menghadap Rasulullah. Saat kaki memasuki pintu masjid, sambutan hangat langsung datang dari Rasulullah. Nabi melempar senyum dan salam, lalu bertanya, “Hai Ali, kau yang akan memberiku khabar, atau aku yang akan memberimu khabar?”

“Sebaiknya Engkau, ya Rasulullah, yang memberi khabar kepadaku.”

“Tahukah kamu, siapa orang Badwi yang menjual unta kepadamu dan orang Badwi yang membeli unta darimu?”

“Allah dan Rasul-Nya tentu lebih tahu,” sahut Ali memasrahkan jawapan.

“Sangat beruntung kau, wahai Ali. Kau telah memberi pinjaman kerana Allah seharga enam dirham, dan Allah pun telah memberimu tiga ratus dirham, 50 kali lipat dari tiap dirham. Badwi yang pertama adalah malaikat Jibril, sedangkan Badwi yang kedua adalah malaikat Israfil (dalam riwayat lain, malaikat Mikail).”

Kisah dari kitab “al-Aqthaf ad-Daniyah” ini menggambarkan betapa ketulusan Ali dalam menolong sesama telah membuahkan balasan berlipat, bahkan dengan cara dan hasil di luar dugaannya.

Keluasan hati isterinya, Fatimah r.a, untuk menerima keterbatasan juga melengkapi kisah kebersahajaan hidup keluarga ini. Dokongan penuh dari Fatimah telah menguatkan sang suami untuk tetap bermanfaat bagi orang lain, meski untuk sementara waktu mengabaikan kepentingannya sendiri: makan. (Mahbib Khoiron)

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/tata-cara-sholat-tahajud-niat-doa-dan-keutamaan-lengkap/

Jenazah Disholawati 70 Ribu Malaikat

Jenazah Disholawati 70 Ribu Malaikat

Jenazah Disholawati 70 Ribu Malaikat

Jenazah Disholawati 70 Ribu Malaikat
Jenazah Disholawati 70 Ribu Malaikat

Jenazah Disholawati 70 Ribu Malaikat

Kisah ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. : Pada suatu pagi Rasulullah

SAW bersama dengan sahabatnya Anas bin Malik r.a. melihat suatu keanehan.Bagaimana tidak, matahari terlihat begitu redup dan kurang bercahaya seperti biasanya. Tak lama kemudian Rasulullah SAW dihampiri oleh Malaikat Jibril. Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Malaikat Jibril : “Wahai Jibril, kenapa Matahari pagi ini terbit dalam keadaan redup? Padahal tidak mendung?”

Matahari Ini Nampak Redup

“Ya Rasulullah, Matahari ini nampak redup karena terlalu banyak sayap para malaikat yang menghalanginya. ” jawab Malaikat Jibril. Rasulullah SAW bertanya lagi : “Wahai Jibril, berapa jumlah Malaikat yang menghalangi matahari saat ini?” “Ya Rasulullah, 70 ribu Malaikat.” jawab

Malaikat Jibril. Rasulullah SAW bertanya lagi : “Apa gerangan yang menjadikan Malaikat menutupi Matahari?” Kemudian Malaikat Jibril menjawab :”Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT telah mengutus 70 ribu Malaikat agar membacakan shalawat kepada salah satu umatmu.””Siapakah dia, wahai Jibril?” Tanya Rasulullah SAW. “Dialah Muawiyah…!!!” jawab Malaikat Jibril.

Di Antara Fadhilah Surat al-Ikhlash

Rasulullah SAW bertanya lagi : “Apa yang telah dilakukan oleh Muawiyah sehingga saat ia meninggal mendapatkan kemuliaan yang sangat luar biasa ini?” Malaikat Jibril menjawab : “Ketahuilah wahai Rasulullah, sesungguhnya Muawiyah itu semasa hidupnya banyak membaca Surat Al-Ikhlas di waktu malam, siang, pagi, waktu duduk, waktu berjalan, waktu berdiri, bahkan dalam setiap keadaan selalu membaca Surat Al-Ikhlas.”Malaikat Jibril melanjutkan penuturannya : “Dari itulah Allah SWT mengutus sebanyak 70 ribu malaikat untuk membacakan shalawat kepada umatmu yang bernama Muawiyahtersebut.” SubhanAllah.. Walhamdulillah. . Wala ilaha illallah.. Wallahu akbar.

Rasulullah SAW bersabda

Rasulullah SAW bersabda : ”Apakah seorang di antara kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Qur’an dalam semalam?” Mereka menjawab, “Bagaimana mungkin kami bisa membaca sepertigai Al-Qur’an?” Lalu Nabi SAW bersabda, “Qul huwallahu ahad itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (H.R. Muslim no. 1922)

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-ringkas-dan-lengkap-hadhorot/

Pendidikan Agaama Mengenai Aqidah Islam

Pendidikan Agaama Mengenai Aqidah Islam

Pendidikan Agaama Mengenai Aqidah Islam

Pendidikan Agaama Mengenai Aqidah Islam
Pendidikan Agaama Mengenai Aqidah Islam

Arti Pendidikan Agama

Pendidikan Agama merupakan salah satu dari tiga subyek pelajaran yang harus dimasukkan dalam kurikulum setiap lembaga pendidikan formal di Indonesia. Hal ini karena kehidupan beragama merupakan salah satu dimensi kehidupan lain, tapi setiap individu warga Negara. Hanya dengan keterpaduan berbagai dimensi kehidupan tersebutlah kehidupan yang utuh, sebagaimana yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia, dapat terwujud.

Akhidah Islam

Aqidah Islam merupakan penutup akhidah bagi agama-agama yang pernah diturunkan Allah sebelumnya. Bersamaan dengan diutusnya Nabi Muhammad sebagai Rasul Allah yang terakhir. Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan hakikat akidah tersebut berkat prinsip-prinsipnya secara lengkap dan sempurna dalam bentuk keimanan kepada Allah, para malaikat, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir dan ketentuannaya (Qadha dan Qadhar).

A. Pengertian Akidah

Secara etimologis, akidah berasal dari kata aqada yang mengandung arti ikatan atau keterkaitan. Dan secara terminologis, akidah dalam Islam berarti keimanan atau keyakinan seseorang terhadap Allah yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya dengan segala sifat dan perbuatan-Nya.

B. Pokok Bahasa Aqidah Islam

Sistem keyakinan atau akidah Islam , pada intinya dibangun diatas enam dasar keimanan yang lazim disebut Rukun Iman. Rukun iman tersebut sekaligus menjadi pokok bahasan akidah Islam yang meliputi : Iman kepada Allah, Para malaikat, Para Rasul, hari akhir dan ketentuannya (Qadha dan Qadhar)

C. Karateristik Aqidah Islam

Penjelasan tentang pokok bahasan aqidah islam diatas, menggambarkan bahwa aqidah islam pada dasarnya pada Al-Qur’an dan hadits, kemudian dikembangkan dengan dalil-dalil akal dan disuburkan dengan pola pikiran filsafat dengan unsure-unsur lainnya.
Karateristik aqidah islam tersebut, seperti yang dijelaskan : pemikir islam kontemporer; Yusuf Al Qordhowi adalah:
1. Jelas dan sederhana
2. Sesuai dengan fitrah manusia
3. Kokoh
4. Argumentasi
5. Moderat

D. Fungsi dan Peran Aqidah

Aqidah sebagai ketentuan-ketentuan dasar mengenai keimanan, sebab orang merupakan landasan babi ketentuan ajaran islam lainnya, yang merupakan pedoman bagi seseorang untuk berinteraksi antara sesame. Oleh karena itu aqidah tak hanya berfungsi sebagai ukuran atau patokan untuk mengukur perilaku seseorang dalam pikirannya.
Aqidah mempunyai peran dan implikasi terhadap sikap dan perilaku terhadap seseorang, implikasi tersebut antara lain: dilihat dalam sikap pengarahan diri secara total kepada Allah SWT, dengan meniadakan kekuatn dan kekuasaan yang mendominasi dirinya, selain Allah SWT.

Baca Juga: 

MEMIKIRKAN KEMBALI ISLM DALAM MENGHADAPI TRADISINYA

MEMIKIRKAN KEMBALI ISLM DALAM MENGHADAPI TRADISINYA

MEMIKIRKAN KEMBALI ISLM DALAM MENGHADAPI TRADISINYA

MEMIKIRKAN KEMBALI ISLM DALAM MENGHADAPI TRADISINYA
MEMIKIRKAN KEMBALI ISLM DALAM MENGHADAPI TRADISINYA

Solusi yang komprehensif sangat diperlukan pada situasi semacam ini, disini tidak akan dibahas panjang dengan teori yang kompleks tinjauan bersifat selintas, tetapi menyentuh aspek-aspeknya masing-masing aspek harus mendapat porsi yang memadai8.

Pertama

theologies, kita fahm bahwa manusiahidup ini dibekali dengan berbagai potesi hal itu artinya mahwa manusia harus bias mengubah diri sendiri (QS ar rad (13): 11).

Kedua

takdir, percaya takdir bukanlah suatu alat pemangkas ikhtiyar manusia, takdir adalah ukuran, komposisi yang telah ditentukan oleh Allah SWT dalam segala hal.
Takdir bukan alat mengancam usaha seseorang. Biarlah nanti kalau takdir datang kepadanya Jangan tanya!!! Bukan begini.

Ketiga

ldentifikasi. Kita memiliki figur identifikasi ideal,yaitu Rasulullah saw. Rasulullah saw tidak pernah sama sekali mengandalkan kerja dengan keaiaiban. Beliau selalu menggunakan sunnatullah pada alam ini. Beliau bekerla, beliau rnernegang tampuk kepemimpinan negara dan agama. Beliau mengatur siasat perang. Beliau merancang perdamaian. Beliau mencari obat dan berd”‘. ,’sb. lntinya, ilmu keajaiban itu sudah saatnya ditinggalkan. Dia akan datang sendiri pada orangya-rrg betaqwa. Bukan masanya lagi kita bertahun-tahun mencari ilmu keaiaiban.

Keempat

Pemilahan fardhu.Ada fardhu ‘aion ada fardhu kifayah. llmu wudhu adalah fardhu ‘ain. llmu matematika adalah fardhu kifayah. Hal itu sepintas memang betul. Akan tetapi matematika yang menuju kecerdasan sehingga orang tidak menipu atau tertipu, adalah fardhu ‘ain. Geologi, geografi, astronomi, yang menjadikan orang tidak mengalarni split personality adalah fardhu ‘ain.Tentu saja tidak semua muslim harus jadi insinyur atau dokter.Akan tetaPi ilmu yang menjadikan sains dan teknologi rnenjadi populair adalah fardhu ‘ain. Karena dengan sebaras itupun, nantinya sains dan teknologi tidak akan menjadi elitis” Masyarakat tidak hanya akan terkagum-kagum dengan temuan semua itu sehingga sering lupa kekuasaanAllah swt.Atau menjadi konsumen yang dikuras uantnya habis-habisan oleh para produsen.Akh!rnya mereka menjadi orang miskin yang dekat dengan kekufuran.

Kelima

Tawzin al-Manhaj (Penyeimbangan kurikulum). Kuril<ulum minimal ada;l) membacakan ayar-ayat Allah swt. Termasuk ayat kauniyah yang melahirkan ekaguman
terhadap eksistensi Allah swt dan melahirkan sains .

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/

Apakah Yang Dimaksud Dengan Globalisasi

Apakah Yang Dimaksud Dengan Globalisasi

Apakah Yang Dimaksud Dengan Globalisasi
Apakah Yang Dimaksud Dengan Globalisasi

Arti Globalisasi

Globalisasi dapat dimaknai sebagai global village. Artinya dunia yang mendesa (Mc. Luhan) kehidupan sedunia menjadi kecil seperti satu desa atau desa dunia (quryatul kurawiyah). Artinya satu desa bias menjumpa orang hamper seluruh dunia. Kenichi ohmae menyebut abad ini sebagai the bordeless world sebuah dunia tanpa batas.

Tofler

Tofler menyatakan bahwa teknologi melahirkan teknosfer (lingkungan teknologi yang khas) lalu teknologi informasi sebagai bagian dari teknosfer akan mewarnai infosfer (budaya pertukarn informasi), lalu infosfer aka meengubah sosiosfer (norma-norma social), kemudian sosiosfer akan mengubah psiksfer. Pengaruh teknologi khususnya teknologi informasi terhadap globalisasi telah terbukti. Sector-sektornya masyarakat social, ekonomi, politik, dan pendidikan, hokum dll.

Pada hakikatnya , globalisasi sudah dimulai 15 abad yang lalu. Gema ahyu ilahi pada kerangka normative globalisasi. Di sini saya seut sebagai globalisasi iid satu, kerangka normative ini secara eksplisit tertulis pada firman Allah SWT (QS. Al Hujurot : 13) ayat tersebut dengan gambling menunjuk pada eksistensi bangsa-bangsa, etnis dan sebagainya.

Terminology Globalisasi

Terminology globalisasi yang qur’nik humanistic ini dapat berjalan sendirian, namun dibarengi dengan software yang memadai, mewujudkan seperangkat teks yang visible, dengan human ware yang sangat kredibel. Beliau adalah Nabi Muhammad SAW, beliau merupakan figure identifikasi ideal bagi kemanusian terutama era global. Visibelitas perangkat ini dapat dibuktikan, sebuah pembuktian yang transparn dan spontans, yaitu Qur’an, hadits dan kesaksian ahli sejarh.

Globalisasi Jilid 1

Globalisasi jilid satu penuh dorongan ilmu, iman dan amal. Akan tetapi belum massif dan populif. Karena pendidikan sains di bidag kauniyh lamiyah masih diktegorikan fardlu kifayah akan dengan kata lan ubudiyah ‘manh dinomerdukn dari pda ubudiyah madhnah fardlu ‘ain dipilih dengan fardlu kifayh yang terkadang menghasilkan tnziq al syakhsiyah (split personality)
Jadi krakteristik globalisasi jilid satu adalah : pertama; orientasi religius, kedu; dikuasai kaum islam dan kaum muslimin, ketiga; dominasi budaya teks, keempat; lahirnya sains dan teknologi yang elitis, kelima; lahirnya generasi split personality, keenam; terjadinya perang kibat tafsir fiktu teoritis, ketujuh; melemahny keseimbangan dalam kehidupan umat islam.

Globalisasi jilid 2

Globalisasi jilid dua ditandai pembelokan ke arah dari globalisasi jilid satu. Secara umum yang menguasai lima abad terakhir adalh orang barat. Mereka telah terbiasa memasang keykinan yang membelah hati mereka sains ya sains, agama ya agama. Tokoh yang merek anut, contohny tertulian. Dia pernah mengajukn statemen yang hingga kini tetap dianut. Sebuah statemen yang sangat terkenal : Creduque absurdum est kepercayaan semacam ini yang menjadikan orang barat sangat liberal.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/

Waktu-waktu sholat fardhu

Waktu-waktu sholat fardhu

Waktu-waktu sholat fardhu

Waktu-waktu sholat fardhu
Waktu-waktu sholat fardhu

waktu sholat rawatib

Sholat merupakan rukun islam yang kedua, dalam islam setiap ibadah sudah diatur sedemikian rupa secara syariat tak terkecuali ibadah sholat, dimana waktu-waktu untuk mengerjakannya telah diatur sebagaimana penjabaran dibawah ini.

Definisi waktu dalam ibadah menurut Imam Jalaluddin al-Mahalli dalam Jam’ul Jawami’

وَالْوَقْتُ…الزَّمَانُ الْمُقَدَّرُ لَهُ شَرْعًا مُطْلَقًا

“Waktu … ialah masa yang telah ditentukan untuk pelaksanaan ibadah menurut syariah secara mutlak.”

Waktu ada kalanya bersifat muwassa’ (leluasa) seperti ibadah haji, artinya meski kita sudah mampu melakukan ibadah haji namun tidak mesti tahun ini kita harus berangkat, ada juga yang waktunya mudlayyaq (sempit) seperti pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan. Sedangkan ibadah shalat mempunyai dua sudut pandang waktu, yaitu leluasa hingga masa yang hanya cukup untuk menyelesaikan ibadah shalat tersebut. Dalam masa ini waktu shalat menjadi mudlayyaq (sempit).
Shalat fardhu yang mempunyai jumlah lima waktu telah ditentukan secara syariat. Ada permulaan, di mana ibadah shalat menjadi tidak sah apabila dijalankan sebelum masuk permulaan waktu sholat, dan juga ada batasan akhir dalam mengerjakan ibadah sholat, di mana shalat harus dilaksanakan sebelum sampai batas akhir waktunya. Hal ini sesuai dengan Surat An-Nisa ayat 103:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

Waktu-waktu Sholat fardhu menurut Syar’i :

1.Shalat Shubuh

Awal waktu untuk mengerjakan ibadah shalat shubuh yaitu terbitnya fajar sidiq sampai terbitnya matahari. Sebagaimana keterangan dalam hadits riwayat Muslim No. 612:

قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: وقت صلاة الصبح من طلوع الفجر ما لم تطلع الشمس

“Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Waktu shalat shubuh adalah sejak terbitnya fajar hingga terbitnya matahari.”

2.Shalat Dluhur

Waktu untuk mengerjakah Shalat dluhur dimulai sejak tergelincirnya matahari di ufuk barat hingga masuknya waktu sholat ashar. Hal ini digambarkan dalam hadits riwayat Muslim no. 612:

أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: “وقت الظهر إذ زالت الشمس، ….. ما لم يحضر العصر

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Waktu dluhur ialah ketika matahari tergelincir, … sampai datangnya waktu ashar.”

3.Shalat Ashar

Waktu mengerjakan ibadah shalat ashar yaitu dimulai sejak bayangan benda sama panjangnya dengan benda tersebut sampai terbenamnya matahari. Sebagaimana dalam hadits riwayat Imam Bukhari No. 554:

…..ومن أدرك ركعة من العصر قبل أن تغرب الشمس فقد أدرك العصر

“ …Barang siapa mendapati satu rakaat shalat ashar sebelum matahari terbenam, maka ia telah mendapati waktu ashar.”

4.Shalat Maghrib

Waktu untuk mengerjakan ibadah shalat maghrib yaitu dimulai sejak terbenamnya matahari sampai hilangnya awan berwarna merah dari cakrawala. Sebagaimana keterangan dalam hadits riwayat Imam Muslim no. 612:

وقت المغرب ما لم يغب الشفق

“Waktu maghrib berakhir hingga hilangnya awan merah dari cakrawala.”

5.Shalat Isya

Waktu mengerjakan ibadah shalat isya’ yaitu dimulai sejak selesainya waktu maghrib hingga terbitnya waktu fajar sebagai pertanda waktu masuknya sholat shubuh.

Baca Juga: