AYAM ITU BISA MELIHAT MALAIKAT MENURUT PENJELASAN ILMIAH

AYAM ITU BISA MELIHAT MALAIKAT MENURUT PENJELASAN ILMIAH

AYAM ITU BISA MELIHAT MALAIKAT MENURUT PENJELASAN ILMIAH

AYAM ITU BISA MELIHAT MALAIKAT MENURUT PENJELASAN ILMIAH
AYAM ITU BISA MELIHAT MALAIKAT MENURUT PENJELASAN ILMIAH

Ayam

merupakan salah satu unggas penghasil daging yang paling populer. Dalam setiap kesempatan, ternyata hidangan berbahan dasar daging ayam sangat banyak diminati oleh berbagai kalangan. Nabi Muhammad SAW pernah memiliki kesan tersendiri terhadap hewan ini.

Hadits

Dalam sebuah sabdanya Nabi SAW mengungkapkan bahwa ayam adalah hewan yang bisa mengetahui kedatangan malaikat.

“Bila engkau mendengar suara ayam jantan maka mintalah karunia kepada Allah karena Ia melihat malaikat, sedangkan bila engkau mendengar ringkikan keledai, maka berlindunglah kepada Allah dari Setan karena dia melihat setan.” (Shahih, HR Bukhari dan Muslim).

Saat sabda ini diturunkan hingga manusia terus mengalami perkembangan berabad-abad, mungkin sabda ini hanya dianggap sebagai kelebihan ilmu pengetahuan yang dimiliki Nabi SAW yang Ia dapatkan dari Allah SWT. Namun pengetahuan Nabi SAW ini ternyata dibuktikan secara ilmiah oleh para ilmuan abad ini.

Sebuah studi dalam jurnal Public Library of Science ONE tahun 2010 menemukan bahwa ayam memiliki kerucut retina tambahan dibandingkan dengan manusia, yang memungkinkan mereka untuk membedakan warna tambahan.

Para ilmuwan di Washington University di St Louis yang dipimpin oleh Joseph Corbo mengatakan kemampuan untuk melihat warna berasal dari sel cahaya-sensing khusus yang ditemukan di retina. Sel-sel ini, yang disebut kerucut, datang dalam berbagai rasa, yang masing-masing dapat mendeteksi panjang gelombang cahaya yang berbeda.

Manusia memiliki tiga jenis kerucut yang memungkinkan kita untuk melihat warna merah, hijau dan biru. Tapi ayam memiliki kerucut ekstra untuk melihat violet dan sinar ultraviolet. Terlebih lagi, kerucut ayam ini didistribusikan secara merata di seluruh retina, meningkatkan kemampuan burung untuk melihat warna di seluruh bidang visual mereka.

“Berdasarkan analisis ini, Warna di retina ayam sangat melebihi yang terlihat di sebagian besar retina lain dan tentu saja bahwa dalam kebanyakan retina mamalia,” kata penulis studi Dr Joseph C. Corbo of Washington University School of Medicine di St Louis.

Hal ini tentu sejalan dengan sabda Nabi SAW yang mengatakan bahwa ayam dapat melihat malaikat. Pasalnya malaikat merupakan mahkluk Allah yang diciptakan dari cahaya artinya dari sinar ultraviolet.
“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam … [HR Abu Daud (4700) dan At Tirmidzi (2155)

Hal ini menjelaskan kepada kita mengapa setan melarikan diri saat disebutkan nama Allah. Penyebabnya adalah karena para malaikat datang ke tempat yang disebut nama Allah itu, sehingga setan melarikan diri. Setan terganggu bila melihat cahaya malaikat. Dengan kata lain, jika sinar ultraviolet bertemu dengan sinar inframerah di satu tempat, maka sinar merah memudar.

Dan tahukah anda mengapa ayam berkokok jika fajar tiba? Saat terbitnya matahari juga banyak terdengar ayam berkokok, namun bukan karena mataharinya, melainkan melihat cahaya yang terpancar dari para malaikat-malaikat Allah yang sedang sibuk membagikan rizky dari Allah untuk semua makhluknya setiap hari. Maka jangan lewatkan untuk selalu bangun pagi dan shalat Subuh.

Mungkin mereka yang melakukan penelitian ini tidak pernah tahu bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ayam bisa melihat malaikat. Setidaknya terimakasih semakin memperkuat kebenaran akan ayat-ayat Allah SWT dan Sabda Nabi SAW.

Baca Juga:

MASYA ALLAH TERNYATA ADA 7000 TAWANAN PALESTINA HIDUP DALAM KUBURAN MASAL ISRAEL

MASYA ALLAH TERNYATA ADA 7000 TAWANAN PALESTINA HIDUP DALAM KUBURAN MASAL ISRAEL

MASYA ALLAH TERNYATA ADA 7000 TAWANAN PALESTINA HIDUP DALAM KUBURAN MASAL ISRAEL

MASYA ALLAH TERNYATA ADA 7000 TAWANAN PALESTINA HIDUP DALAM KUBURAN MASAL ISRAEL
MASYA ALLAH TERNYATA ADA 7000 TAWANAN PALESTINA HIDUP DALAM KUBURAN MASAL ISRAEL

Qabhah mengkritik peran Otoritas

Palestina yang belum memenuhi harapan. Ia meminta agar agenda utama perundingan dengan Israel adalah menjamin dibebaskannya seluruh tawanan Palestina. Tetapi selama ini Otoritas Palestina yang mengandalkan perundingan dengan Israel masih gagal. Bahkan Otoritas Palestina tidak pernah berhasil membawa persoalan tawanan Palestina ke forum-forum internasional dan lembaga-lembaga penegak hukum.

Qabhah menegaskan diplomasi Palestina gagal menjadikan tawanan Palestina sebagai persoalan nurani dunia internasional.

Oslo Mendhalimi Tawanan Palestina

Ketua Badan Eksekutif urusan tawanan Amin Soman menegaskan Hari Tawanan Palestina adalah hari nasional yang istimewa yang merupakan peluang untuk memberikan perhatian terhadap derita tawanan Palestina dan menggulirkan kembali bola isu ini kelapa ke masyarakat internasional. Sebab masih ada 7000 warga Palestina yang hidup di balik jeruji besi. Soman menegaskan, kesepakatan Oslo selama ini telah mendhalimi tawanan Palestina, terutama tawanan senior yang seharusnya mereka dibebaskan sesuai dengan poin kesepakatan Oslo. Israel menolak pembebasan tawanan warga Palestina jajahan 48.

Ini dilakukan Israel sebagai bagian dari politik balas dendam untuk menunjukkan kekejaman Israel. Pakar hukum Palestina ini menegaskan, harapan pembebasan Palestina muncul dalam bentuk upaya pertukaran tawanan yang disebutnya sarana paling efektif dan paling dekat untuk bisa membebaskan warga Palestina.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Penyanderaan Pasukan Israel

Di sisi lain pengamat politik Abdus Sattar Qosim menegaskan gerakan Hamas merupakan satu-satunya gerakan yang mengembangkan strategi – selama beberapa tahun belakangan – untuk membebaskan tawanan Palestina dari penjara Israel. Strategi mereka adalah penyanderaan serdadu Israel untuk kemudian ditukarkan dengan tawanan Palestina.

Kepada Quds Press, Abdussatar menegaskan, tidak ada sarana paling manjur dan efektif untuk membebaskan ribuan tawanan Palestina kecuali dengan pertukaran tawanan. Pengalaman perundingan sudah membuktikan kegagalannya dalam membebaskan tawanan Palestina. Selama tidak ada satu kesepakatan satupun dari perundingan yang bisa membebaskan tawanan Palestina sejak Yasser Arafat hingga saat ini.

Sementara itu eks tawanan Palestina asal Hebron, Sufyan Jumjum, salah satu tawanan Palestina yang selama 20 tahun merasakan derita di penjara Israel menegaskan, dirinya harus menempuh jalur hukum untuk memperoleh haknya berupa jatah bulanan sebagaimana tawanan-tawanan lainnya setelah berusaha melakukan usaha mendekati seluruh lembaga-lembaga resmi dan lembaga HAM akan tetapi itu tidak berguna.

Mereka tidak mendapatkan jatah itu memang disengaja oleh Otoritas Palestina. Sebab sebagian besar tawanan tersebut berasal dari Hamas yang gaji mereka diputus dengan alasan gerakan ini illegal.

Bahkan selama lima tahun terakhir, Jumjum bersama keluarganya menjadi korban penangkapan Israel dan pengejaran dari Otoritas Palestina. Dia terpaksa menjadi menjadi duta produk penjualan selama berjam-jam untuk mendapatkan sepotong roti untuk anak-anaknya. “Ada teman yang mendapatkan gaji bulanan lebih dari 2000 dolar karena dia bukan dari Hamas,” sungguh miris. (at/infopalestina)

APAKAH DOSA BERZINA ITU BISA MENDAPATKAN AMPUNAN ALLAH SWT

APAKAH DOSA BERZINA ITU BISA MENDAPATKAN AMPUNAN ALLAH SWT

APAKAH DOSA BERZINA ITU BISA MENDAPATKAN AMPUNAN ALLAH SWT

APAKAH DOSA BERZINA ITU BISA MENDAPATKAN AMPUNAN ALLAH SWT
APAKAH DOSA BERZINA ITU BISA MENDAPATKAN AMPUNAN ALLAH SWT

Apakah dosa berzina itu diampuni?

Apakah dengan pembersihan diri ke jalan yang benar dan bertaubat dengan sungguh2 (amal sholeh, dhuha, tahajud, lima waktu dan bahkan iktikaf) dengan tujuan memohon ampun akan diterima?

Banyak sahabat kita yang tidak begitu beruntung dalam mendapatkan pendidikan agama sejak kecil, karena kurangnya pengetahuan tentang agama, dan lingkungan yang semakin carut marut membuat mereka terjerumus ke dalam lubang kegelapan.

Ketahuilah bahwa perbuatan zina termasuk dosa yang dapat diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala

berdasarkan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa: 48)

Ayat diatas menerangkan bahwa dosa-dosa apapun yang telah diperbuat entah itu dosa kecil atau dosa besar selama hal itu tidak menyekutukan-Nya, maka jika sang pelaku tersebut bertaubat dengan taubatan nasuha, niscaya akan diampuni oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Firman Allah yang lainnya :

“Katakanlah, Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas, terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dial-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Az Zumar: 54)

Kumpulan Hadits

Dari Abu Dzarr al-Ghifary RA., dari Nabi SAW., meriwayatkannya dari Rabb-nya bahwa Allah berfirman (dalam hadits Qudsi):

“Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat kesalahan di malam dan siang hari sedangkan Aku mengampuni semua dosa; maka minta ampunlah kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.” (H.R. Muslim)

“Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa”. (HR. Ibnu Majah)

Senada dengan ayat di atas dalam hadits dikatakan : dari Anas bin Malik r.a. dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,

“Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, sepanjang engkau memohon kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, maka akan Aku ampuni apa yang telah kamu lakukan. Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu sebanyak awan di langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa kesalahan seluas dunia, kemudian engkau datang kepada-Ku tanpa menyekutukan (tidak syirik), maka Aku dengan sesuatu apapun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Tirmidzi, menurutnya hadits ini hasan shahih.”)

Pertanyaannya adalah apakah taubatnya itu diterima Allah? Hal itu kembali kepada hak Allah untuk menerima taubat itu atau tidak. Nah agar diterima taubatnya, haruslah taubatan nasuha (taubat yang sungguh2).

Baca Juga: Sifat Allah

Syarat taubat nasuha yang diterima

adalah :

1. Berangkat dari ilmu, dia mempelajari ayat-ayat Allah dan kemudian memahami keburukan dari perbuatannya sehingga membenarkan (tashdiq) dan mengimaninya sebagai sebuah perbuatan keji dan mungkar. Dengan cara ini Anda dianggap dulu belum nyadar atau belum tahu.

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisaa : 17)

“Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu (mengampuni) bagi orang-orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Tuhanmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl : (119)

“Sesungguhnya Allah memberikan kelebihan bagiku dengan memaafkan umatku dalam kesalahan yang tidak disengaja atau lupa dan dipaksa melakukannya” (H.R. Ibnu Majah)

2. Karena sudah meng-ilmu-i, dan memahami maka kini ia benar-benar menyesali perbuatannya. Terkadang ia benar-benar membenci dan menangis dalam sholatnya menyesali perbuatannya itu. Oleh karena itu Allah sangat mengapresiasi (memberi penghargaan lebih) atas air mata yang tumpah ketika menyesali dosa dalam kesendirian sholat di tengah malam.

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS. Al-Israa’ : 109).

Nabi Muhammad SAW juga bersabda. “Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allâh sampai air susu kembali ke dalam teteknya. Dan debu di jalan Allâh tidak akan berkumpul dengan asap neraka Jahannam”.(H.R. at-Tirmidzi, no. 1633, 2311; an-Nasâ‘i 6/12; Ahmad 2/505; al-Hâkim 4/260; Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 14/264).

3. Dia berjanji tak akan mengulanginya lagi dan hal ini dibuktikan dengan menjauhi lingkungan atau situasi kondisi yang bisa membawa kembali ke arah perbuatan dosa itu. Jika kembali lagi dan tobat lagi lalu kembali lagi terus menerus demikian maka itu akan dianggap melecehkan Allah dan tidak akan diterima tobatnya.

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia.” (QS. An-Nisaa : 31).

“Allah memperingatkan kamu agar jangan mengulangi lagi kejadian seperti itu untuk selamanya jika kalian benar-benar orang yang beriman” (QS. An-Nuur : 17)

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”(QS. Ali Imran : 135)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (lagi),lalu kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (QS. An-Nisaa :137)

4. Dia mengimbangi / menimpali dosanya (score negatif) dengan melakukan sebanyak-banyaknya ibadah dan amal sholeh (score positif) agar kelak timbangan kebaikannya melebihi amal buruknya.

“Dirikanlah sholat di kedua tepi siang dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya amal baik (hasanat) menghapuskan amal buruk (Sayyiaat). Itulah peringatan bagi orang-orang yang mau ingat” (Q.S. Hud : 114)
“..kemudian keburukan mereka Kami ganti menjadi kebaikan” (Q.S. Al A’raaf : :95)
“iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik maka kebaikan itu akan menghapuskan keburukan itu …” (H.R. At Tirmidzi no. 1978, Ahmad V/153, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jaami’no. 97)

“Seorang lelaki terlanjur mencium wanita ajnabiy (bukan mahram), lalu ia datang kepada Nabi saw. memberitahu hal itu. Maka Allah menurunkan (firman-Nya): ‘Tegakkan sholat pada pagi dan sore, dan pada waktu malam. Sesungguhnya kebaikan itu dapat menghapus keburukan’. Maka orang itu bertanya: ‘Apakah hukum ini khusus untukku’? Jawab Nabi saw: ’Untuk semua umatku’ “. (H.R.Bukhari Muslim Alu’lu wal Marhan II/ 1758)

Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Mu’adz bin Jabal r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, iringilah kesalahanmu dengan kebaikan, niscaya ia dapat menghapuskannya dan pergaulilah semua manusia dengan budi pekerti yang baik.” (H.R. Tirmidzi).

5. Merahasiakan aibnya dan tidak membeberkan aibnya kepada orang lain. Jika Allah telah menutupi aibnya maka akan murka jika orang tsb justru membuka aibnya sendiri. Dan hal ini bisa menyebabkan tobatnya tidak diterima, karena dianggap melakukan perbuatan dosa secara terang-terangan.

Rasulullah bersabda: “Semua ummatku akan diampuni dosanya kecuali orang yang mujaharah (terang-terangan dalam berbuat dosa) yaitu seorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, kemudian Allah telah menutupi dosanya itu hingga pagi hari, tapi kemudian dia berkata : wahai fulan semalam saya berbuat ini dan berbuat itu. Padahal Allah telah menutupi dosa tersebut semalaman, tapi di pagi hari dia buka tutup Allah tersebut.” (H.R. Bukhari Muslim)

Musnad Ahmad 21096: Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah telah bercerita kepadaku ayahku. telah bercerita kepada kami ‘Abdur Rahman bin Mahdi dan Abu Sa’id keduanya berkata; Telah bercerita kepada kami Za`idah dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair. Berkata Abu Sa’id telah bercerita kepada kami ‘Abdul Malik bin ‘Umair dari ‘Abdur Rahman bin Abu Laila dari Mu’adz bin Jabal berkata;

Seseorang mendatangi Nabi s.a.w. lalu berkata; Wahai Rasulullah! Bagaimana menurut Tuan tentang seseorang yang bertemu dengan seorang wanita yang tidak dikenalnya kemudian ia tidaklah ia menggauli istrinya kecuali pasti bermesraan dengan wanita asing itu namun tidak ia tiduri.

Berkata Mu’adz bin Jabal; Kemudian Allah AzzaWaJalla menurunkan ayat ini, “Tegakkanlah shalat didua ujung siang dan sebagian malam sesungguhnya kebaikan-kebaikan menghapus kesalahan-kesalahan.”

Berkata Mu’adz bin Jabal; Kemudian Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda padanya; “Berwudhulah kemudian shalatlah.”

Berkata Mu’adz bin Jabal; Saya bertanya; Wahai Rasulullah! Apa khusus untuk dia atau untuk seluruh kaum mu`minin. Rasulullah s.a.w. bersabda; “Untuk seluruh kaum mu`minin.”

Do’a Qunut Sholat Subuh atau Witir

Do’a Qunut Sholat Subuh atau Witir

Do’a Qunut Sholat Subuh atau Witir

Do’a Qunut Sholat Subuh atau Witir
Do’a Qunut Sholat Subuh atau Witir

Do’a Qunut Sholat Subuh/Witir

Perlu diketahui bahwa masih banyak saudara kita sesama muslim masih belum tahu doa qunut utamanya dilkalangan para bawah umur dan cukup umur kita, dan juga sebagian orang tua. Penyebab dari tiruana itu dikarenakan kurangnya perhatian untuk mempelajari ilmu agama, padahal Nabi selalu menyuruh kita untuk selalu menimbah ilmu terutama ilmu yang berafiliasi ukhrawi. Seperti hal nya dengan do’a qunut, do’a ini dilaksanakan semenjak zaman Rasulullah hingga kepada para sahabat dekat-teman dekatnya, Tabi’I, tabi’I tabi’in dan para ulama hingga sekarang.

Sebelum kita melangkah ke do’a qunut tersebut, maka perlu kami tegaskan terlebih lampau wacana makna dari qunut itu sendiri, dan tujuan dilakukannya qunut.

Dalam mazhab Imam Syafi’I dijelaskan bahwa membaca do’a qunut yakni sunnat Muakkad, doa qunut yakni suatu doa untuk bermohon kepada Allah supaya mendapat hidayah dari Allah, terhidar dari segala murka bahaya, baik ancaman pada diri sendiri, keluarga, maupun saudara-saudara kita sesama muslim.

Do’a Qunut Untuk Sendiri

اَللّهُمَّ اهْدِنِىْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِى فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِىْ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَبَارِكْ لِىْ فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنِيْ شَرَّمَا قََضَيْتَ، فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَوَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Baca Juga: Ayat Kursi

Doa Qunut Untuk Berjamaah

اَللّهُمَّ اهْدِناَ فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِناَ فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّناَ فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِنَا فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَبَارِكْ لِنَا فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنَا شَرَّمَا قََضَيْتَ، فَاِ نَّكَ تَقْضِىْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَوَاِ نَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَاَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Allah hummah dinii fiiman hadait. ( Kata dinii diganti dinaa jikalau jadi imam)
Wa’aa finii fiiman ‘aafait. . ( Kata dinii diganti dinaa jikalau jadi imam)
Watawallanii fiiman tawal-laiit. . ( Kata Watawallanii diganti Watawallanaa jikalau jadi imam)
Wabaariklii fiimaa a’thait. . ( Kata Wabaariklii diganti Wabaariklanaa jikalau jadi imam)
Waqinii syarramaa qadhait. . ( Kata waqinii diganti waqinaa jikalau jadi imam)
Fainnaka taqdhii walaa yuqdha ‘alaik.
Wainnahu laayadzilu man walait.
Walaa ya’izzu man ‘aadait.
Tabaa rakta rabbanaa wata’aalait.
Falakalhamdu ‘alaa maaqadhait.
Astaghfiruka wa’atuubu ilaik.
Wasallallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi. Wa’alaa aalihi washahbihi Wasallam.

Terjemahan Do’a Qunut

Ya Allah tunjukkanlah akan daku sebagaiman mereka yang sudah Engkau tunjukkan
Dan diberilah kesihatan kepadaku sebagaimana mereka yang Engkau sudah diberikan kesihatan
Dan peliharalah daku sebagaimana orang yang sudah Engkau peliharakan
Dan diberilah keberkatan bagiku pada apa-apa yang sudah Engkau kurniakan
Dan selamatkan saya dari ancaman kejahatan yang Engkau sudah tentukan
Maka bergotong-royong Engkaulah yang menghukum dan bukan kena hukum
Maka bergotong-royong tidak hina orang yang Engkau pimpin
Dan tidak mulia orang yang Engkau memusuhinya
Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha tinggi Engkau
Maha bagi Engkau segala kebanggaan di atas yang Engkau hukumkan
Ku memohon ampun dari Engkau dan saya bertaubat kepada Engkau
(Dan semoga Allah) mencurahkan rahmat dan sejahtera ke atas junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga dan sahabat dekatnya.

Penjelasan Alam Barzah dan Mahsyar

Penjelasan Alam Barzah dan Mahsyar

Penjelasan Alam Barzah dan Mahsyar

Penjelasan Alam Barzah dan Mahsyar
Penjelasan Alam Barzah dan Mahsyar

Alam Barzah

Barzah artinya sesuatu yang membatasi antara dua barang atau tempat. Adapun hubungannya dengan hari akhirat, barzah ialah batas pemisah antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat.

Kehidupan alam barzah ialah kehidupan antara hidup didunia dan hidup diakhirat. Kehidupan di alam barzah menyerupai terminal daerah penantian. Di alam barzah tiruana ruh yang sudah meninggal berkumpul untuk persiapan memasui kehidupan akhirat, ditempat penantian tersebut berlaku kenikmatan dan siksaan yang sering kita dengar dengan istilah nikmat kubur dan siksa kubur.

Ditempat penantian tersebut, orang-orang yang selama hidupnya di dunia banyak mengerjakan amal sholeh yang bertaqwa kepada Allah akan menerima perlakuan yang sangat senang dari malaikat. Sebaliknya orang-orang kafir, orang-orang yang hidupnya di dunnia banyak melaksanakan kejahatan dan kemaksiatan akan menerima perlakuan yang bernafsu dan siksaan dari malaikat.

Rasulullah SAW bersabda

yang artinya sebagai diberikut : “Adapun hamba yang mukmin, apabila sudah putus dari dunia untuk menhadiri akhirat, maka akan turun malaikt dari langit berwajah putih bagaikan matahari, membawa kafan dari kafan surga, dan wangian, pengawet kerusakan, kemudian mereka akan duduk dan hadir malaikat maut menhadirinya. Malaikat duduk dikepala seraya berkata, “Wahai ruh yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya, maka ruh itu keluar bagaikan mengalirnya air dari daerah minum. Adapun orang kafir, ketika mereka akan meninggal maka hadirlah malaikat yang berwujud hitam, seraya berkata,” Hai jiwa yang jahat keluarlah engkau ke arah marah Allah, kemudian dicabutlah ruhnya dengan cara yang kaasar.

Berkaitan dengan nikmat dan siksa kubur, Rasulllah bersabda
“Jika seorang jenazah dikuburannya dan ditinggalkan oleh kawan-kawannya, maka ia mendengar bunyi sandal mereka, maka dikala itu ia dikunjungi oleh dua malaikat yang kemudian mendudukannya dan bertanya ,”Bagaimana pendapatmu lampau wacana orang ini, yakni Muhammad ?. Adapun orang mukmin akan menjawaban “Aku bersaksi bahwa ia ialah hamba dan Rasul Allah”.Sebagai imbalannya, malaikat itu berkata, “Lihatlah tempatmu di neraka sana, sudah diganti oleh Allah dengan daerah duduk dari sorga, kemudian ia melihat kedudukannya, kemudian dikubur ia merasa lapang. Adapun orang munafik atau kafir, ketika ditanya “Bagaimana pendapatmu lampau orang ini?”Maka ia menjawaban saya tidak tahu dan tidak pernah membaca naamanya, kemudian dipukul palu dari besi sehingga ia menjerit kesakitan, yang suaranya terdengar oleh makhluk sekitarnya kecuali insan dan jin”.

Alam Mahsyar

Mahsyar artinya daerah berkumpul. Pada hari selesai zaman kelak tiruana insan akan dibangkitkan kembali dari kuburnya. Sesudah itu dikumpulkan disuatu daerah untuk menjalani investigasi atau perhitungan amal yang sudah dilakukan selama hidup di dunia.

firman Allah bersabda yang artinya : “Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka tiruananya kemudian Allah berfirman kepada malaikat : “Apakah mereka ini lampau menyembah engkau?” (S. Saba :40)
Di padang mahsyar tiruana orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Di sini tidak ada hidup tolong-menolong. Yang ada spesialuntuklah pertanggungjawabanan terhadap diri sendiri. Apa yang pernah dibuatnya di dunia ialah menjadi tanggung jawabannya. Pada hari selesai zaman seseorang, baik itu keluarga, saudara, kenalan baik, tiruananya tidak ada yang sanggup menolong.

Firman Allah bersabda dalam surah Al-Mumtahanah ayat 3 yang artinya :
“Karib kerabat dan belum dewasa sekali-sekali tidak bermanfaa bagimu pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara engkau..”

Pada waktu itu orang-orang yang tidak diberiman atau kafir dikumpulkan dalam keadaaan buta. Firman Alaah dalam surah Al Israa ayat 97 yang artinya sebagai diberikut : “Dan barang siapa yang ditunjuki Allah, dialah yang menerima petunjuk dan barangsiapa yang beliau sesatkan maka sekali-kali engkau tidak akan menerima penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan kami akan mengumpulkan mereka pada hari selesai zaman (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka ialah nereka jahannam. Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, kami tambah bagi mereka nyalanya.”

Baca Juga:

Penjelasan Mengenai Alam Hisab dan Mirzan

Penjelasan Mengenai Alam Hisab dan Mirzan

Penjelasan Mengenai Alam Hisab dan Mirzan

Penjelasan Mengenai Alam Hisab dan Mirzan
Penjelasan Mengenai Alam Hisab dan Mirzan

Alam Hisab

Hisab artinya perhitungan, tiruana amal perbuatan insan selama di dunia akan diperhitungkan. Semua perbuatan insan selama di dunia akan diperhitungkan. Semua perbuatan insan di catat dalam buku (laporan). Semua orang sanggup mengetahui isi buku laporan itu, walaupun orang tersebut tidak sanggup membaca. Laporan itu didiberikan kepada masing-masing orang dalam posisi yang tidak sama. Ada yang mendapatkan dari sebelah kanan dan ada yang mendapatkan dari sebelah kiri. Ada yang mendapatkan dengan wajah yang gembira, dan ada pula yang mendapatkan dengan wajah penuh ketakutan.

Firman Allah SWT

Firman Allah bersabda dalam surah Al-Insyiqaq : 7-13 yang artinya :
“Adapun orang yang didiberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka beliau akan diperiksa dengan investigasi yang gampang, dan beliau akan kembali kepada kaumnya (yang sama-sama diberiman) dengan gembira. Adapun orang yang didiberikan kitabnya dari belakang, maka beliau akan berteriak : “Celakalah aku.” Dan beliau akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka). Sesungguhnya beliau lampau (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir).

Suasana pada waktu itu amat mencekam dan menakutkan. Orang tidak mungkin lagi sanggup berdusta atau membela diri. tiruana anggota tubuh dan tiruana amal nampak hidup dan berbicara mempersembahkan kesaksian. Dan hasil perhitungan itulah ditentukan jawaban dari amal perbuatan manusia. Orang-orang yang selama hidupnya di dunia melaksanakan amal shaleh akan menerima imbalan yang sangat senang di surga. Sebaliknya, orang-orang yang berbuat kejahatan dan kemaksiatan, yang tidak diberiman akan menerima jawaban berupa azab di neraka.

Baca Juga: Rukun Iman

Alam Mizan

Mizan artinya timbangan, Amal perbuatan insan diperhitungkan dengan timbangan atau neraka yang berupa keadilan. Timbangan keadilan Allah mempunyai ketepatan yang tidak mungkin meleset sedikit pun. Semua amal perbuatan insan dari yang terkecil hingga yang terbesar ditimbang dengan timbangan tersebut. Hasil dari pertimbangan itu akan menetukan apakh orang akan hidup berbahagia atau sengsara.

Firman Allah SWT

Firman Allah bersabda dalam surah Al-Anbiya : 47) yang artinya :
“Kami akanmemasang timbangan yang sempurna pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan bila (malam itu) spesialuntuk seberat biji sawi pun niscaya kami menhadirkan (pahala)nya. Dan cukuplah kami sebagai pembuat perhitungan.
Di dalam surah Al-Mu’minun ayat 102-104 diterangkan : “Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang sanggup keberuntungan. Dan barang siapa yang enteng timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka infinit didalam neraka Jahannam. Muka mereka dibakar api neraka dan mereka didalam neraka itu dalam keadaan cacat”.

Penjelasan Mengenai Surga dan Neraka

Penjelasan Mengenai Surga dan Neraka

Penjelasan Mengenai Surga dan Neraka

Penjelasan Mengenai Surga dan Neraka
Penjelasan Mengenai Surga dan Neraka

Surga

Surga ialah daerah bagi orang-orang yang lapang dada diberibadah, diberiman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Surga ialah suatu daerah diakhirat yang meliputi penuh dengan kesenangan dan kegembiraan. Kesenangan dan kegembiraan di nirwana tidak sanggup dibandingkan dengan kesenangan dan kegembiraan yang terdapat di dunia.. Indahnya panaroma di pepegununganan dan kesejukan udaranya tidak sanggup disamakan dengan indahnya alam di surga. Jika keindahan yang berada di dunia bersifat sementara, maka keindahan dan kesenangan di alam abadi bersifat abadi.

Firman Allah SWT

Firman Allah bersabda yang artinya : “Perumpamaan (penghuni) nirwana yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa yang didalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada yang berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang yummy rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu dan disaring ; dan mereka yang memperoleh didalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang infinit di dalam neraka, dan didiberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya. (S. Muhammad : 15)”

Orang-orang yang shaleh tampak berseri-seri tanda mereka sangat bersuka cita. Mereka begitu puas akan apa yang sudah mereka perbuat selama hidup di dunia. Allah sudah menunjukan keadilan dan kasih akung-Nya kepada hamba-Nya yang bertaqwa. Kegembiraan orang-orang yang diberiman dan keadaan di nirwana digambarkan dalam Al-Qur’an, antara lain dalam surah Al-Ghasyiah ayat 8-16 yang artinya sebagai diberikut : “Banyak muka pada hari ini yang berseri-seri, merasa senang alasannya usaspesialuntuk, dalam nirwana yang tinggi, tidak engkau dengar di dalamnya perkataan yang tidak berguna. Di dalamnya ada mata air yang mengalir. Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya), dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani yang terhampar.”

Baca Juga: Rukun Islam

Neraka

Neraka ialah suatu daerah di alam abadi yang sangat tidak sangat bahagia. Tempat ini diperuntukkan bagi orang-orang kafir, orang-orang yang melanggar perintah Allah. Di neraka orang-orang yang berbuat dosa melebihi amal baiknya akan menerima siksa.

penderitaan akhir siksa di neraka ini tidak ada bandingannya. Panasnya api neraka tidak sanggup dibandingkan dengan gerahnya api yang ada didunia. Dari keterangan ayat-ayat Al-Qur’an, kita sanggup membanyangkan betapa menderitanya orang-orang yang hidup tersiksa di neraka. Antara lain firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 56 yang artinya sebagai diberikut : “Sesungguhnya orang-orany yang kafir kepada ayat-ayat kami., kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, semoga mereka mencicipi azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana.

Firman Allah SWT

Firman Allah dalam surah Ibrahim ayat 16-17 yang artinya : “Dihadapannya ada Jahannam dan beliau akan didiberi minuman, dengan air nanah, diminumnya air jerawat itu dan hampir beliau tidak sanggup menelannya dan hadirlah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi beliau tidak juga mati; dan dihadapannya masih ada azab yang berat.

Firman Allah dalam surah Ad Dukhan ayat 47-48 yang artinya sebagai diberikut : “Peganglah beliau kemudian seretlah beliau ketengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya siksaan (dari) air yang amat gerah.

Perkembangan Ilmu Hadits

Perkembangan Ilmu Hadits

Perkembangan Ilmu Hadits

Perkembangan Ilmu Hadits
Perkembangan Ilmu Hadits

Perkembangan ilmu hadits sekitar tahun 41 H, muncullah hadits-hadits palsu, dan semenjak itu mulailah dilakukan penelitian terhadap sanad Hadits dan setelah munculnya kegiatan pemalsuan Hadits dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab itu, maka beberapa aktivitas tertentu dilakukan oleh para Ulama Hadits dalam rangka memelihara kemurnian Hadits, yaitu seperti:

1. Melakukan Pembahasan

Melakukan pembahasan terhadap sanad Hadits serta penelitian terhadap keadaan setiap para perawi Hadits, hal yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan. Aktivitas ini terlihat dari penjelasan Muhammad ibn Sirin, yang diriwayatkan oleh Muslim di dalam mukadimah kitab Shahih-nya dan oleh Al-Tirmidzi.

2. Melakukan Perjalanan

Melakukan perjalanan (rihlah) dalam mencari sumber Hadits agar dapat mendengar langsung dari perawi asalnya dan meneliti kebenaran riwayat tersebut me¬laluinya. Hal tersebut seperti yang dilakukan oleh Jabir ibn ‘Abd Allah yang telah melakukan suatu perjalanan jauh dengan waktu tempuh sekitar sebulan untuk menemui Abd Allah ibn Unais, hanya untuk mencek kebenaran bahwa dia telah mendengar langsung satu Hadits tentang kisas (qishash) dari Nabi Saw.

3. Melakukan Perbandingan

Melakukan perbandingan antara riwayat seorang perawi dengan riwayat perawi lain yang lebih tsiqat dan terpercaya dalam rangka untuk mengetahui ke-dha’if-an atau kepalsuan suatu Hadits. Hal tersebut dilakukan apabila ditemukan suatu Hadits yang kandungan maknanya ganjil dan bertentangan dengan akal atau dengan ketentuan dasar agama.

Demikianlah kegiatan para Ulama Hadits di abad pertama Hijriah yang telah memperlihatkan pertumbuhan dan perkembangan Ilmu Hadits. Bahkan pada akhir abad pertama itu telah terdapat beberapa klasifikasi Hadits, yaitu Hadits Marfu’, Hadits Mawquf, Hadits Muttashil, dan Hadits Mursal. Dari macam-macam Hadits tersebut, juga telah dibedakan antara Hadits Maqbul, yang pada masa berikutnya disebut dengan Hadits Shahih dan Hadits Hasan, serta Hadits Mardud, yang kemudian dikenal dengan Hadits Dha’if dengan berbagai macamnya.

Penjelasan

Pada abad kedua Hijriah, ketika Hadits telah dibukukan secara resmi atas prakarsa Khalifah ‘Umar ibn Abd al-Aziz dan dimotori oleh Muhammad ibn Muslim. Mereka memperhatikan ketentuan-ketentuan Hadits Shahih, demikian juga keadaan para perawinya. Hal ini terutama karena telah terjadi perubahan yang besar di dalam kehidupan umat Islam, yaitu para penghafal Hadits sudah mulai berkurang dan kualitas serta tingkat kekuatan hafalan terhadap Hadits pun sudah semakin menurun karena telah terjadi percampuran dan akulturasi antara masyarakat Arab dengan non-Arab menyusul perkembangan dan perluasan daerah kekuasaan Islam. Kondisi yang demikian memaksa para Ulama Hadits untuk semakin berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan riwayat, dan mereka pun telah merumuskan kaidah-kaidah dalam menentukan kualitas dan macam-macam Hadits. Hanya saja pada masa ini kaidah-kaidah tersebut masih bersifat rumusan yang tidak tertulis dan hanya, disepakati dan diingat oleh para Ulama Hadits di dalam hati mereka masing-masing, namun mereka telah menerapkannya ketika melakukan kegiatan penghimpunan dan pembukukan Hadits.

Pada abad ketiga Hijriah yang dikenal dengan masa keemasan dalam sejarah perkembangan Hadits, mulailah ketentuan-ketentuan dan rumusan kaidah-kaidah Hadits ditulis dan dibukukan, namun masih bersifat parsial. Yahya ibn Ma’in (w. 234 H/848 M) menulis tentang Tarikh al-Rijal, (sejarah dan riwayat hidup para perawi Hadits), Muhammad ibn Sa’ad (w. 230 H/844 M) menulis Al- Thabaqat (tingkatan para perawi Hadits), Ahmad ibn Hanbal (241 H/855 M) menulis Al-Tlal (beberapa ketentuan tentang cacat atau kelemahan suatu Hadits atau perawinya), dan lain-lain.

Pada abad keempat dan kelima Hijriah mulailah ditulis secara khusus kitab-kitab yang membahas tentang Ilmu Hadits yang bersifat komprehensif, seperti kitab Al-Muhaddits al-Fashil bayn al-Rawi wa al-wa’i oleh Al-Qadhi Abu Muhammad al-Hasan ibn Abd al-Rahman ibn Khallad al-Ramuharra-muzi (w. 360 H/971 M); Ma’rifat ‘Ulum al-Hadits oleh Abu Abd Allah Muhammad ibn Abd Allah al-hakim al-Naysaburi (w. 405 H/ 1014 M); Al-Mustakhraj ‘ala Ma’rifat ‘Ulum al-Hadits oleh Abu Na’im Ahmad ibn Abd Allah al-Ashbahani (w. 430 H/ 1038 M); Al-Kifayah fi ‘Ulum al-Riwayah oleh Abu Bakar Ahmad ibn Ali ibn Tsabit al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H/1071 M); Al-Jami’ li Akhlaq al-Rawi wa adab al-Sami’ oleh Al- Baghdadi (463 H/1071 M), dan lain-lain.

Pada abad-abad berikutnya bermunculanlah karya-karya di bidang Ilmu Hadits ini, yang sampai saat se¬karang masih menjadi referensi utama dalam mem¬bicarakan Ilmu Hadits, yang di antaranya adalah: ‘Ulum il-Hadits oleh Abu Amr TJtsman ibn Abd al-Rahman yang lebih dikenal dengan Ibn al-Shalah (w. 643 H/1245 M), Tadrib al-RauAfi Syarh Taqrib al-Nawaiui oleh Jalai al-Din ‘Abd al-Rahman ibn Abu Bakar al-Suyuthi (w 911 H/ 1505 M).

Baca Juga: 

Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha

Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha

Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha

Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha
Penjelasan Mengenai Sholat Dhuha

Shalat dhuha

Shalat dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada waktu dhuha yaitu waktu matahari sedang naik. Shalat Dhuha ini dikerjakan sekurang-kurangnya dua rakaat sampai dua belas rekaat, akan tetapi yang utama dan paling baik adalah delapan rakaat.

Dalil-Dalil

Karena hal ini sebagaimana yang sering dilakukan oleh Rasulullah S.A.W., Sebagaimana hadits beliau yang artinya:

“Rasulullah S.A.W. biasa melakukan shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan adakalanya lebih.” (H.R. Muslim, Nasai dan Ahmad)

Ummi Hani’ binti Abu Thalib berkata:
“Bahwasanya pada hari penaklukan kota Mekkah, Rasulullah S.A.W. mengerjakan shalat dhuha sebanyak delapan rakaat dengan satu salam tiap dua rakaat.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Abu Hurairah R.A. berkata:
“Aku diberi wasiat oleh kekasihku Muhammad S.A.W. tiga perkara, yaitu; berpuasa tiga hari setiap bulan, melakukan shalat Dhuha dua rakaat dan melakukan shalat witir sebelum aku tidur.” (H.R. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai)

Niat Sholat Dhuha

Adapun niat shalat adalah:Ushalli sunnatadh dhuha rak’ataini lillahi ta’ala.dilakukan dua rekaat salam, kemudian selesai membaca doa shalat dhuha sebagai berikut:

Doa Sholat Dhuha

Allaahumma innadh dhuhaa-a dhuhaa-uka wal bahaa-a hahaa-uka wal jamaala jamaalukaka wal quwwaata quwwatuka wal qudrata qudratuka wal ‘ishmata ishmatuka. Allaahumma inkaana rizqii fis samaa-i fa anzilhu wainkaana fil ardhi fa akhrijhu wainkaana mu’siran fayassirhu wa in kaana haraaman fathahhirhu wa in kaana ba’iidan faqarribhu bihaqqi dhuhaa-ika wa bahaa-ika wajamaalika wa quwwatika wa qudratika aatinii maa aataita ‘ibaadakash shaalihiin.

Artinya:
“Wahai Allah, sesungguhnya waktu dhuha itu adalah waktu dhuha-Mu, kecemerlangan adalah kecemerlangan-Mu, keindahan adalah keindahan- Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan itu adalah kekuasaan-Mu dan kesejahteraan itu adalah kesejahteraan-Mu. Wahai Allah, Jika rezekiku masih ada di langit, maka turunkanlah, dan jika masih ada di dalam bumi, maka keluarkanlah, jika masih sukar (untuk mendapatkan), maka mudahkanlah, jika keadaannya haram maka sucikanlah, jika masih jauh, maka dekatkanlah, dengan hak dhuha-Mu, kecemerlangan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu dan kekuasaan-Mu, berilah kami segala sesuatu yang telah Engkau berikan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih.”

Demikian sedikit uraian tentang shalat dhuha semoga bermanfaat. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Macam Macam Hadits

Macam Macam Hadits

Macam Macam Hadits

Macam Macam Hadits
Macam Macam Hadits

Berdasarkan pengertian hadits secara terminologis, hadits nabi demikian juga sunnah nabi , dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: Hadits Qauli, Hadits Fi’li, dan Hadits Taqriri.

1) Hadits Qauli

Hadits Qauli adalah Seluruh Hadits yang diucapkan Rasul SAW untuk berbagai tujuan dan dalam berbagai kesempatan. (Wahbah al-Zuhayli, Ushul al-Fiqh al-lslami (Beirut: Dar al Fikr, 1406 H/1986 M) juz 1, h. 450)

Khusus bagi para Ulama Ushul Fiqh, adalah seluruh perkataan yang dapat dijadikan dalil untuk menetapkan hukum syara’. Contoh Hadits Qauli adalah, seperti sabda Rasul SAW mengenai status air laut. Beliau bersabda:
“Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata, bersabda Rasulullah SAW tentang laut, Airnya adalah suci dan bangkainya adalah halal”. (Muhammad ibn Ismail al-Kahlani, Subul al-Salam. juz 1 (Bandung: Dahlan t t) h 14- 5)

Contoh lain adalah Hadits mengenai niat:
Dari ‘Umar ibn al-Khaththab r.a., dia berkata, “Aku mendengar Rasul SAW bersabda, ‘Sesungguhnya seluruh amal itu ditentukan oleh niat, dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa yang melakukan hijrah untuk kepentingan dunia yang akan diperolehnya, atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahinya, maka ia akan memperoleh sebatas apa yang ia niatkan ketika berhijrah tersebut’. “

2) Hadits Fi’li

Hadits Fi’li adalah seluruh perbuatan yang dilaksanakan oleh Rasul SAW. Perbuatan Rasul SAW tersebut adalah yang sifatnya dapat dijadikan contoh teladan, dalil untuk penetapan hukum syara’, atau pelaksanaan suatu ibadah. Umpamanya, tata cara pelaksanaan ibadah shalat, haji, dan lainnya. Tentang cara pelaksanaan shalat, Rasul SAW bersabda:
… Dan shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat….

Salah satu tata cara yang dicontohkan Nabi SAW dalam pelaksanaan shalat adalah, cara mengangkat tangan ketika bertakbir di dalam shalat, seperti yang diceritakan oleh Abd Allah ibn Umar sebagai berikut:
Dari Abd Allah ibn ‘Umar, dia berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW apabila dia berdiri melaksanakan shalat, dia mengangkat kedua tangannya hingga setentang kedua bahunya, dan hal tersebut dilakukan beliau ketika bertakbir hendak rukuk, dan beliau juga melakukan hal itu ketika bangkit dari rukuk seraya membaca, ‘Sami’a Allahu liman hamidah’. Beliau tidak melakukan hal itu (yaitu mengangkat kedua tangan) ketika akan sujud.”

3) Hadits Taqriri

Hadits Taqriri adalah diamnya Rasul SAW dari mengingkari perkataan atau perbuatan yang dilakukan di hadapan beliau atau pada masa beliau dan hal tersebut diketahuinya. Hal tersebut adakalanya dengan penyataan persetujuan beliau atau penilaian baik dari beliau, atau tidak adanya pengingkaran beliau dan pengakuan beliau.

Perkataan atau perbuatan Sahabat yang diakui atau disetujui oleh Rasul SAW, hukumnya sama dengan perkataan atau perbuatan Rasul SAW sendiri. Demikian
juga taqrir terhadap ijtihad Sahabat dinyatakan sebagai Hadits atau Sunnah. Seperti taqrir Rasul SAW terhadap ijtihad para Sahabat mengenai pelaksanaan shalat asar pada waktu penyerangan kepada Bani Quraizah, berdasarkan sabda beliau:

Dari Ibn ‘Umar r.a., dia berkata, “Nabi SAW bersabda pada hari peperangan Ahzab, Janganlah seorang pun melakukan shalat asar kecuali di perkampungan Bani Quraizah Maka sebagian Sahabat melaksanakan shalat asar di perjalanan, sebagian mereka berkata, Kami tidak melakukan shalat sehingga kami sampai di perkampungan tersebut dan sebagian yang lain mengatakan, Justru kami melakukan shalat (pada waktunya), (karena) beliau tidak memaksudkan yang demikian pada kami, Kemudian perbedaan interpretasi tersebut disampaikan kepada Nabi SAW, dan Nabi SAW tidak menyalahkan siapa pun di antara mereka.” (Bukhari, Shahih al-Bukhari. juz 1, h. 180).

Dari Hadits di atas terlihat bahwa sebagian sahabat ada yang memahami larangan tersebut sebagaimana apa adanya (sesuai teks Hadits), sehingga mereka tidak melakukan shalat asar kecuali sesudah sampai di perkampungan Bani Quraizah yang waktunya ketika itu telah memasuki magrib. Sedangkan sebagian Sahabat lagi memahami larangan Rasul SAW itu sebagai tuntutan kesegeraan berangkat ke perkampungan Bani Quraizah, dan karenanya mereka tetap melaksanakan shalat asar pada waktunya. Dan Nabi SAW, setelah melihat per¬bedaan ijtihad para Sahabat dalam menafsirkan larangan beliau itu, tidak menyalahkan pihak mana pun, yang berarti beliau mengakuinya. Inilah yang disebut dengan taqrir beliau.

Contoh Lain

Contoh lain dari Hadits Taqriri ini adalah, persetujuan Rasul SAW terhadap pilihan Mu’adz ibn Jabal untuk berijtihad ketika dia tidak menemukan jawaban di dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW terhadap permasalahan yang diajukan kepadanya. Teks Haditsnya adalah sebagai berikut:

Bahwasanya tatkala Rasulullah SAW., hendak mengutus Mu’adz ibn Jabal ke Yaman, beliau bertanya kepada Mu’adz, “Bagaimana engkau memutuskan perkara jika diajukan kepadamu?” Maka Mu’adz menjawab, “Aku akan memutuskan berdasarkan kepada Kitab Allah (Al- Qur’an),” Rasul bertanya lagi, “Apabila engkau tidak menemukan jawabannya di dalam Kitab Allah?” Mu’adz berkata, “Aku akan memutuskannya dengan Sunnah.” Rasul selanjutnya bertanya, “Bagaimana kalau engkau juga tidak menemukannya di dalam Sunnah dan tidak di dalam Kitab Allah?” Mu’adz menjawab, “Aku akan berijtihad dengan mempergunakan akalku.” Rasul SAW menepuk dada Mu’adz seraya berkata, “Alhamdulillah atas taufik yang telah dianugerahkan Allah kepada utusan Rasul-Nya.”(Shahih Bukhari . juz 5, h. 50.

Kumpulan Hadits diatas termaktub juga dalam Kitab Abu Dawud Sulaiman ibn al-Asy’ats al-Sijistani, Sunan Abi Dawud (Beirut Dar al-Fikr 1414 H/1994 M), juz 3, h. 295; Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi. juz 3, h. 62; Al-Nasa’i,’ Sunan al-Nasa’i, juz 8, h. 244; Al-Darimi, Sunan al-Darimi, juz 1, h. 60).

Demikian uraian tentang bentuk-bentuk hadits atau macam macam hadits yang dapat saya muat, semoga baroakah. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/