Analisis siswa dan lingkungan

Analisis siswa dan lingkungan

Analisis siswa dan lingkungan

Analisis siswa

Calon siswa-siswa SMP T adalah lulusan SD diberbagai desa di Indonesia yang rata-rata mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  • usia sekitar 13-15 tahun;
  • berasal dari keluarga yang kurang mampu;

pekerjaan orang tua ada umumnya petani, buruh, pedagang, nelayan, dan sedikit pegawai negeri, para pensiunan atau malahan tak bekerja sama sekali;

oleh karena untuk masuk ke SMP siswa-siswa harus di tes terlebih dahulu dan calon-calon siswa yang akan masuk SMPT pada umumnya adalah mereka yang tidak lulus tes tersbut atau lulus dengan urutan di bawah, diduga mereka mempunyai tingkatnya kemampuan (kecerdasan) di bawah teman-temannya yang di SMP biasa;

oleh karena mereka telah lulus ujian SD dan ujian SD diadakan oleh pusat maka diduga mereka telah mempunyai kemampuan-kemampuan prasyarat untuk pendidikan tingkat SMP;

sebagian dari mereka berasal dari keluarga dengan orang tua yang belum menyadari benar pentingnya pendidikan; yang merasa aib kalau anak gadis-gadisnya yang 13 tahun itu tidak laku karena tidak segera dikawinkan.

  • sebagian besar beragama islam.
  • sebagian besar membantu orang tua bekerja sehingga tidak punya waktu pagi hari untuk ke sekolah;
  • hampir semua berbahasa ibu bahasa daerah masing-masing;
  • mereka sudah dapat membaca tetapi belum terbiasa membaca untuk kepentingan dan atas dasar keinginan sendiri.

Analisis terhadap lingkungan

Analisis terhadap lingkungan serta sumber-sumber yang relevan menghasilkan informasi-informasi sebagai berikut:

pada umumnya calon siswa tinggal tersebar diberbagai desa yang relatif sulit dijangkau;

di tiap kecamatan ada SMP Negeri dan SMP Negeri inilah yang pada umumnya diserbu oleh para lulusan SD tersebut. Kecuali itu ada juga 1-2 SMP Swasta;

di SMP Negeri/Swasta tersebut selain ada guru-guru/Kepala dan Wakil Kepala Sekolah juga ada berbagai sarana pendidikan yang diperlukan. Pada umumnya mereka masih mungkin dibebani tugas tambahan, seandainya ada tempat untuk menampung siswa-siswa yang tak diterima;

kecuali itu ada banyak tenaga/orang-orang sumber yang dapat di manfaatkan di masyarakat sekitar seperti misalnya tokoh masyarakat, para pengusaha, guru-guru SD, mahasiswa KKN, pensiunan, tokoh-tokoh agama;

ditingkat kecamatan, kabupaten, dan propinsi ada aparat Depdikbud yang bisa diajak bekerja sama melaksanakan sistem ini;

ditingkat pusat kita lihat adanya tenaga bidang studi yang cukup, produser-produser media, perancang dan pengembang sistem instruksional serta pengembang kurikulum;

kerjasama dengan RRI telah terjalin baik, tinggal meningkatkan saja;

sarana dan fasilitas produksi media audio visual di Balai Produksi media Radio Yogya dan Semarang serta di Pus Tekkom siap pakai; namun listrik belum masuk ke desa-desa secara merata;

dana perintisan tersedia dari Dir Dikmenum.

Baca juga: