Al-Kisah Tiga Malam di Gua Tsur

Al-Kisah Tiga Malam di Gua Tsur

Al-Kisah Tiga Malam di Gua Tsur
Al-Kisah Tiga Malam di Gua Tsur
Malam itu kota Mekah telah sunyi. Semua telah lelap di perpaduannya. Tidak ada lagi lalu lalang orang. Malam semakin larut, terus merambat seluruh kota Mekah hingga mendekati waktu shubuh. Dua orang terlihat mengendap-endap meninggalkan Kota Mekah. Hingga ketika rumah terakhir kota itu telah dilalui, waktu Shubuh hampir menjelang.

Rasulullah Saw dan Abu Bakar

Rasul paling mulia dan sahabat paling mulia itu merencanakan hijrah menuju kota harapan Madinah Nabawiyyah. Malam tanggal 26 Shafar 14 Kenabian bertepatan dengan12 September 622 M. Dalam sejarah Islam tangal tersebut adalah tangal bersejarah yang menentukan perjalanan setelahnya. Satu langkah yang membuat langkah-langkah selanjutnya menjadi mudah. Dan satu langkah yang mengawali sebuah kemenangan yang besar dikemudian hari. Dimulai dengan mengendap-endap di malam hari dengan ujung kakinya agar tidak membekas jelas di padang pasir.
Pada hari rencana pembunuhan Nabi yang gagal, telah membuat geger masyarakat Quraisy, pasalnya, Nabi Muhammad Saw telah pergi tanpa sepengetahuan mereka. Menghilang tanpa jejak  beserta teman akrabnya Abu Bakar. Mekah meradang. Sayembara diumumkan. Kepala Nabi dihargai 100 unta bagi yang bisa mengembalikan keduanya hidup atau mati. Masyarakat haus dunia berlomba untuk mendapatkan keberadaan Muhammad Saw sekaligus mengantongi pundi-pundi. Senjata-senjata dikalungkan untuk siap mengejar Muhammad Saw atau menebasnya. Suasan sangat gawat pada saat itu.
Nabi dan Abu Bakar perlu tempat bersembunyi. Gunung Tsur menjadi tujuan. Gunung yang tinggi dan terjal itu ada di sebelah selatan Mekah pada jalan menuju Yaman. Sepanjang lima Mil Nabi dan Abu Bakar harus berjalan hingga  bisa sampai kesana. Gunung yang di puncaknya terdapat  gua yang dikenal dengan gua Tsur. Tetapi tidak mudah untuk mencapai puncaknya. Terjal, tinggi. jalanan yang berbatu. Perlu perjuangan dan tenaga yang prima untuk sampai kesana.

Gua Tsur

yang seperti itu keadaannya, bukan merupakan gua yang biasa dikunjungi orang. Sehingga, ketika pendakian telah sampai di bibir gua, Abu Bakar meminta kepada Nabi Saw menunggu hingga dia memasukinya untuk memastikan keamanan gua dari binatang buas dan ular “Demi Allah engkau jangan memasukinya sampai saya yang masuk terlebih dahulu. Jika di dalam sana ada sesuatu yang membahayakan
maka hanya akan mengenaiku dan tidak mengenaimu,” begitu Abu Bakar mempunyai inisiatif.
Ada tiga lubang dalam gua. Biasanya lubang ular. Sarung Abu Bakar disobek untuk menutup lubang pertama. Tapi masih ada dua lubang. Tidak ada yang bisa digunakan untuk menutupi keduanya. Maka, Abu Bakar menutupinya dengan kedua kakinya dan mempersilahka Rasulullah Saw untuk masuk ke dalam gua.

Perjalanan malam yang melelahkan

Nabi merebahkan badannya. Beliau meletakkan kepalanya di pangkuan Abu Bakar dan tertidur. Saat suasana seperti itu, Abu Bakar merasakan ada yang menyakiti kakinya. Tetapi Abu Bakar tidak berani bergerak. Karena pasti akan membangunkan Nabi. Tetapi rasa sakit yang tak tertahankan. Hingga air mata menetes, menahan rasa sakit. Tetesannya jatuh di wajah Rasulullah. Beliau terbangun. “Ada apa wahai Abu Bakar?” “Saya dipatuk”. Maka kemudian Nabi meludahi luka kakinya dan hilanglah rasa sakit tersebut. Dalam riwayat misykat al-Mashabih disebutkan bahwa racun itu beraksi di akhir kehidupan Abu Bakar dan itu merupakan penyebab kematiannya.
Hari itu kamis. Abdullah dan Asma’ yang merupakan putra-putri Abu Bakar mengambil peran pentingnya. Asma’ bertugas mengantarkan makanan dan minuman yang diikat dengan ikat pinggang yang dikenakannya. Sehingga ia digelari dzat an-Nithaqain (yang mempunyai dua ikat pinggang). Sementara Abdullah tidur malam hari di sekitar Gunung Tsur. Masih ada orang ketiga yang mempunyai tugas tidak kalah pentingnya. Amir bin Fuhairah yang membawa kambing gembalaannya. Pembantu Abu Bakar itu bertugas membawa kambingnya untuk menghapus jejak kaki Abdullah dan Asma’. Agar orang-orang Quraisy tidak mengetahui jejak keduanya.
Semua itu dilakukan di malam hari. Jika waktu Isya’ telah lewat. Dan Mekah mulai tidur setelah lelah seharian mencari berita tentang raibnya Muhammad. Saat itulah skenario tiga orang itu dijalankan. Mereka ada di Gunung Tsur hingga menjelang pagi. Amir bin Fuhairah yang membangunkan keduanyaa untuk kembali menggiring kambingnya menghapus jejak dan pulang ke Mekah. Agar terkesan mereka bermalam di Mekah. Supaya tidak ada kecurigaan terhadap mereka. Itu mereka lakukan setiap malam hingga Nabi dan Abu Bakar meninggalkan tempat persembunyian.

Mekah semakin linglung

Ali bin Abi Thalib yang menggantikan tidur di tempat tidur Rasul, ditekan untuk memberitahu keberadaan Muhammad. Tetapi Ali bugkam seribu bahasa. Tidak cukup puas menekan Ali, mereka datang ke rumah Abu Bakar dan Asma’ telah ada di dalam rumah. “Mana ayahmu?” bentak mereka “Tidak tahu dimana ayah saya, demi Allah,” jawab Asma’ mantap. Mendengar jawaban itu, Abu jahal tidak tahan dan langsung menampar Asma’. Tamparan yang sampai melepaskan giwang Asma’. La’nahullah.
Sementara pencarian orang-orang Mekah berjalan. Peminatnya semakin banyak. Pencarian hingga tempat yang tidak disangka. Dan mereka pun sampai di Gunung Tsur. Mari kita dengarkan Abu Bakar bertutur perasaannya ketika melihat kaki mereka dalam gua. “Sewaktu saya bersama Nabi dalam gua, saya angkat kepala saya dan ternyata saya melihat kaki-kaki mereka. Aku berkata: Ya Nabiyallah, kalau ada salah seorang di antara mereka yang melihat ke arah kaki mereka, pasti melihat kita.” Rasul berkata mantap, “Diamlah, wahai Abu Bakar. Apa menurutmu tentang dua orang, dimana Allah yang ketiganya?”
Malam jum’at, malam sabtu dan malam Ahad. Tiga malam di Gua Tsur. Ahad siang berlalu. Matahari kembali keperaduannya. Malam kembali menjelang. Saat itulah Nabi dan Abu Bakar meniggalkan Gua Tsur bersejarah dan berangkat menuju Madinah. “Tiga malam penuh makna”. “Tiga malam penuh pelajaran”. Untuk pelajaran hijrah yang besar pahalanya dan titik awal dari kebesaran.
Baca juga: