ADAPTASI PETANI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

ADAPTASI PETANI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

ADAPTASI PETANI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

ADAPTASI PETANI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM
ADAPTASI PETANI TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN MAKALAH

Makalah ini ditulis untuk melihat bentuk adaptasi petani dalam mengatasi perubahan iklim dan faktor-faktor yang mempengaruhi praktek pertanian yang adaptif yang dilakukan dilapangan. Bentuk adaptasi yang dimaksud adalah bentuk yang terencana (planned adaptation) maupun yang mandiri atau sektoral (autonomous adaptation). Dalam penulisan ini akan dilihat studi kasus pelaksanaan sekolah lapang iklim sebagai bentuk planned adaptation dan studi adopsi pertanian yang adaptif yang ditemukan dilapangan dari beberapa penelitian yang dilakukan sebagai bentuk autonomous adaptation.

Secara umum pemahaman mengenai tingkat kapasitas petani dalam menghadapi perubahan iklim berguna untuk menentukan jenis intervensi bagi petani dalam konteks pengelolaan resiko bencana (yang berhubungan dengan perubahan iklim), dan secara khusus membantu mengurangi resiko berkurangnya produktifitas hasil pertanian yang mengancam ketahanan pangan

 

PERUBAHAN IKLIM DAN ADAPTASI DI BIDANG PERTANIAN

Perubahan iklim menjadi isu lingkungan di seluruh dunia saat ini.  Isu ini berhubungan dengan terjadinya pemanasan global yang dikaitkan dengan meningkatnya kandungan gas rumah kaca (terutama karbon dioksida) di udara. Bertambahnya gas rumah kaca (GRK) ini menyebabkan suhu udara global meningkat. Di Indonesia 85% kenaikan CO2 disebabkan oleh alih fungsi lahan dan kebakaran hutan (LUCF-Land use conversion and Fire). Diperkirakan laju alih fungsi hutan di Indonesia mencapai 1.2 juta Ha per tahun dan hampir 50% dari 108 juta Ha kondisi hutan dalam keadaan rusak. Selain LUCF,  sektor energi, pertanian dan limbah adalah 3 faktor lain yang berkontribusi terhadap kenaikan CO2. Namun demikian kontribusi LUCF di Indonesia lima kali lebih besar dibandingkan total CO2 yang dihasilkan oleh penggunaan energi, pertanian dan limbah. Berbeda dengan Amerika sebagai penghasil CO2 terbesar di dunia, dimana sektor energi merupakan penyumbang terbesar terhadap meningkatnya gas CO2 di udara. Indonesia merupakan Negara ke tiga terbesar didunia yang menyumbangkan naiknya kadar CO2 (PEACE. 2007).

 

Secara umum di Asia terjadi kenaikan suhu sebesar 1oC-3oC.

Selain kenaikan suhu dilaporkan terjadinya perubahan curah/pola hujan, dan semakin seringnya kejadian banjir, dan kekeringan. Meningkatnya suhu global juga menyebabkan meningkatnya permukaan air laut.  Perubahan iklim yang terjadi di Indonesia antara lain adalah naiknya suhu rata-rata tahunan sebesar 0.3oC, penurunan dan perubahan pola hujan. Terjadi penurunan sebesar 2%-3% dimana curah hujan di bagian selatan mengalami kenaikan sedangkan di bagian utara mengalami penurunan. Dampak yang dapat ditimbulkan dari kondisi ini antara lain adalah ketersediaan air yang tidak menentu, kekeringan, banjir, intrusi air laut yang disebabkan oleh meningkatnya tinggi permukaan air laut.  Kondisi ini dapat mempengaruhi kemampuan produksi pertanian yang bisa mempengaruhi ketahanan pangan (FAO, 2007). Diperkirakan di Indonesia akan mengalami kenaikan suhu sebesar 0.1oC- 0.3oC per dekade sampai akhir abad 21. Ini berarti pada akhir abad ke 21 kenaikan suhu di Indonesia akan mencapai hingga 3oC.  saat ini peningkatan permukaan air laut sebesar 2 mm dan di Asia sebesar 2-3mm per tahun. Di Indonesia misalnya instrusi air laut dan penurunan tanah di teluk Jakarta telah menyebabkan kerugian infrastruktur dan ekonomi.   (Cruz, et al. 2007).

 

Dalam kurun waktu 1900 – 2006 dilaporkan oleh CRED

Pada tahun 2007 terjadinya peningkatan kejadian bencana yang terkait dengan perubahan iklim walaupun belum bisa dipastikan apakah kejadian ini semata-mata disebabkan oleh adanya perubahan iklim atau oleh faktor lainnya (Prabhakar, et al. 2009). Di Indonesia berdasarkan data kebencanaan BNPB 2012, dilaporkan dalam periode waktu 1815-2012 bencana banjir (38%), puting beliung (18%), tanah longsor (16%) dan kekeringan (13%) merupakan bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. Hal serupa terjadi di Provinsi Bengkulu dimana banjir, kekeringan, gelombang pasang/abrasi adalah bencana yang sering terjadi selain gempa bumi.

Kejadian kenaikan suhu global, kekeringan, banjir, perubahan pola hujan, intrusi air laut  mengancam produktifitas di bidang pertanian, ketersediaan air, dan masalah kesehatan. Diperkirakan setidaknya 81.000 petani harus memiliki sumber matapencaharian alternatif dikarenakan terganggunya lahan mereka akibat perubahan iklim (Cruz, et al. 2007).

Tingkat kerentanan di Negara berkembang seperti Indonesia khususnya petani kecil/gurem lebih tinggi dibandingkan Negara maju lainnya. Faktor yang berperangaruh antara lain dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, kesadaran petani terhadap perubahan iklim, akses terhadap informasi mengenai pertanian yang adaptif, kemampuan adaptasi, dan akses terhadap sumber keuangan. Kebijakan pemerintah terhadap penelitian pengembangan pertanian yang adaptif juga merupakan faktor penting untuk meningkatkan kapasitas petani untuk beradaptasi (Nhemachena, Charles , and Hasan Rashid.  2008, Idrisa Et al. 2012).

 

Adaptasi Perubahan Iklim

Pengelolaan pengurangan resiko bencana adalah suatu cara yang sistematis dalam mengidentifikasi ancaman, kerentanan, kapasitas dan upaya menentukan langkah persiapan dan pengurangan resiko bencana. Kejadian banjir, kekeringan, perubahan pola hujan, intrusi air laut merupakan bentuk ancaman yang sifatnya sangat dinamis. Adanya perubahan iklim menjadikan suatu tempat/wilayah memiliki kondisi ancaman yang lebih dinamis. Misalnya saja desa yang tadinya memiliki ancaman banjir ke depan berpotensi memiliki ancaman kekeringan atau keduanya dalam rentang waktu tertentu atau meningkatnya ancaman akan jenis bencana tertentu misalnya mengalami badai dalam rentang waktu yang lebih panjang atau lebih sering (Prabakar, et al. 2009).

 

Kerentanan dan kapasitas secara sederhana dapat dipahami sebagai sebuah kondisi suatu tempat atau masyarakat yang menyebabkan masyarakat/tempat tersebut menjadi lebih rentan atau lebih tahan menghadapi ancaman bahaya. Dalam kontek pertanian misalnya kurangnya pengetahuan mengenai cara bertani adaptif terhadap perubahan iklim adalah salah satu contoh kerentanan sosial. Sedangkan akses terhadap jasa keuangan seperti kredit, tingkat pendidikan yang tinggi, ketersediaan tenaga tehnis pertanian yang dapat diakses dengan mudah adalah contoh kapasitas dari segi sosial dan ekonomi. Tingkat resiko bencana secara sederhana dapat diartikan berbanding lurus dengan kerentanan dan ancaman dan berbanding terbalik dengan kapasitas (BNPB, 2008).

 

Dalam konteks Indonesia misalnya bentuk dan letak geografis Indonesia yang berupa kepulauan dan dikelilingi oleh lautan, kepemilikan lahan pertanian yang sempit, terbatasnya akses petani terhadap tenaga tehnis pertanian, rendahnya akses  petani gurem terhadap jasa keuangan merupakan contoh kerentanan yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain adanya program pemberdayaan bagi petani baik oleh pemerintah atau lembaga pemerintah yang bersifat lokal atau nasional merupakan salah satu contoh bentuk kapasitas yang dapat membantu mengurangi dampak negatif perubahan iklim di sektor pertanian.

 

Adaptasi perubahan iklim dapat diartikan sebagai  bentuk response penyesuaian yang dilakukan untuk mengatasi dampak perubahan iklim (UNISDR, UNDP, 2012). Kemampuan adaptasi merupakan kemampuan masyarakat dan pemerintah untuk mengatasi dampak dari perubahan iklim (Prabhakar, et al. 2007). Dalam kontek pertanian adaptasi perubahan iklim dapat diartikan upaya yang dilakukan melalui praktek pengelolaan pertanian yang beragam di tingkat individu dan juga pemerintah dimana petani memiliki akses terhadap praktek alternatif dan tehnologi yang diperlukan (Nhemachena, Charles , and Hasan Rashid.  2008).

 

Bila diuraikan lebih detail terdapat dua jenis adaptasi yaitu

Autonomous adaptation dan Planned adaptation. Adaptasi sektoral atau otonom adalah bentuk reaksi akibat perubahan iklim misalnya saja bila petani merubah waktu tanam/olah lahan atau waktu panen dikarenakan adanya perubahan pola curah hujan. Adaptasi bersifat spesifik dan terjadi dalam skala kecil atau individu. Bentuk adaptasi kedua yang bila diterjemahkan secara bebas adalah bentuk adaptasi yang terencana, menyeluruh dan biasanya bersifat multisektoral. Misalnya saja kebijakan distribusi dan seleksi jenis tanaman atau bibit berdasarkan wilayah sesuai kondisi iklim masing –masing wilayah disertai penyediaan akses informasi cuaca bagi petani dan pemberian skema kredit atau input pertanian sesuai jenis tanaman (FAO, 2007).

 

Perubahan dan variasi iklim akan menjadi suatu tantangan tersendiri bagi negara/daerah yang pertaniannya masih mengandalkan irigasi air hujan dan ekonominya masih sangat tergantung pada sumberdaya alam. Diperlukan kerangka adaptasi yang multisektoral untuk menghadapi dampak perubahan dan variasi iklim yang meliputi aspek:

  • Legislasi dan Institusi. Contohnya saja  mekanisme kerja sama antar institusi dan alokasi sumberdaya
  • Kebijakan dan Perencanaan. Contohnya saja meliputi pengawasan, perumusan strategi adaptasi dan analisa resiko
  • Livelihood, meliputi ketahanan pangan, kemiskinan, dan akses terhadap sumberdaya yang tidak diskriminatif
  • Pertanian, perikanan, kehutanan, peternakan, dan sistem pertanian yang integrasi
  • Ekosistim dengan mempertimbangkan keragaman hayati seperti komposisi biohayati
  • Keterkaitan proses adaptasi dengan penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan

Penyesuaian yang sifatnya jangka pendek, dan sektoral bisa dikategorikan kedalam adaptasi yang Autonomous.  Pada skala lahan pertanian, praktek yang dilakukan secara individu yang merupakan response dari kejadian banjir, kekeringan, intrusi air laut juga bisa dikategorikan pada pola pendekatan yang bersifat sektoral. Namun demikian apabila praktek tersebut diakibatkan oleh serangkaian intervensi yang dirancang oleh pemerintah atau lembaga tertentu secara terencana, menyeluruh melalui kerangka pendekatan adaptasi yang disebutkan di atas bisa dikategorikan pada planned adaptation.

Planned Adaptation: Adaptasi Perubahan Iklim Melalui Sekolah Lapang Iklim

Salah satu contoh implementasi adaptasi perubahan iklim mengacu pada kerangka pendekatan di atas antara lain adalah pilot projek climate field school (CFS) yang dilakukan di Indonesia dan Phililipina. Pelaksanaan projek ini melibatkan beberapa instansi seperti dinas pertanian Indramayu, direktorat perlindungan tanaman pangan, BMG, IPB dan ADPC.  Dimana ide utama dari CFS ini adalah adanya akses informasi mengenai prakiraan cuaca yang dapat dimengerti dan aplikatif bagi petani yang disampaikan secara regular dan tepat, dan penyebar luasan praktek pertanian yang adaptif dikalangan petani. Dengan adanya informasi ini misalnya petani dapat melakukan pemilihan jenis tanaman, waktu penanaman dan investasi input pertanian yang lebih tepat sesuai dengan informasi prakiraan cuaca dalam periode waktu tertentu (UNISDR, 2006).

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/bpupki-sejarah-anggota-tugas-dan-pembentukannya/